Bagikan:

JAKARTA – Dengan segala pencapaiannya, tidak ada negara di dunia yang bisa bersaing dengan kemajuan dari bejibunnya produsen mobil listrik China. Namun karena banyak pemain ini, pasar otomotif China sendiri saat ini dikabarkan tak baik-baik saja.

Menurut laporan dari CNBC, diteruskan CarBuzz, 8 Agustus, harga rata-rata mobil baru di negara tersebut telah anjlok hingga 19 persen. Penurunan ini, yang dipicu oleh perang harga yang sengit, menimbulkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan bisnis para produsen otomotif di sana.

Penurunan harga tidak merata. Tergantung pada jenis powertrain, harga bisa turun antara 18 persen hingga 27 persen. Sebagai contoh, model populer seperti BYD Seagull (dijual di bawah 10.000 dolar AS di sana) dan Great Wall Ora 3 kini dijual dengan harga sekitar 20 persen di bawah harga ritel normal, seperti yang dilaporkan oleh The Guardian.

Meskipun sebagian besar menyalahkan perang harga, ada faktor lain yang berkontribusi. Beberapa produsen otomotif dilaporkan menggunakan praktik-praktik yang tidak biasa untuk memenuhi target penjualan.

Pencatatan Penjualan Fiktif: Beberapa perusahaan mencatat penjualan sebelum mobil benar-benar dikirimkan kepada pelanggan.

Dumping ke Pasar Lain: Mobil baru dibeli dan didaftarkan secara lokal, lalu dengan cepat dijual kembali ke dealer atau eksportir untuk dijual di pasar lain sebagai kendaraan bekas.

Praktik-praktik ini menunjukkan tekanan besar yang dihadapi produsen untuk menjaga angka penjualan tetap tinggi di tengah persaingan yang brutal.

Harapan Perubahan dan Tantangan Global

Meskipun situasinya terlihat suram, ada tanda-tanda bahwa perubahan sedang diupayakan. CEO Xpeng, He Xiaopeng, secara terbuka menyatakan kekhawatiran bahwa beberapa perusahaan mungkin tidak akan bertahan tahun ini, hingga Ketua Great Wall Motor bahkan menyamakan situasi ini dengan krisis properti besar yang melanda China baru-baru ini.

Pemerintah China juga menyadari masalah ini dan dilaporkan sedang menggarap regulasi untuk mengendalikan harga.

Namun, tantangan terbesar tetaplah kapasitas produksi yang masif. Dengan adanya kelebihan produksi, para produsen harus mencari pasar ekspor baru. Sayangnya, upaya ini terhambat oleh hambatan besar di pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat yang memberlakukan tarif besar-besaran untuk mobil China. Lalu, produsen lokal Eropa yang mulai khawatir pangsa pasar mereka tergerus dan mendorong adanya perlindungan serupa.

Selain itu, ada indikasi bahwa perang harga ini mulai memakan korban. CNBC melaporkan bahwa beberapa produsen besar, termasuk BYD, Li Auto, dan Nio, mencatat penurunan penjualan pada bulan Juli. Penjualan BYD sendiri turun hampir 10 persen atau lebih dari 36.000 unit, sebuah sinyal yang signifikan bahwa pasar mungkin sudah mencapai titik jenuh.