JAKARTA - Industri otomotif global tengah menghadapi tantangan besar dalam transisi menuju elektrifikasi. Tekanan inflasi, lonjakan biaya produksi, serta kebutuhan investasi infrastruktur menjadi kendala utama bagi produsen mobil dalam mengembangkan kendaraan listrik (EV).
Di tengah persaingan ketat dan ketidakpastian ekonomi, strategi efisiensi menjadi krusial agar perusahaan tetap kompetitif tanpa mengorbankan stabilitas keuangan. Mazda Motor menjawab tantangan ini mengumumkan strategi baru bertajuk "aset ramping" guna mengendalikan investasi dalam upaya elektrifikasinya.
Di tengah tekanan inflasi yang berpotensi meningkatkan biaya produksi, Mazda memilih pendekatan efisiensi dengan mengandalkan kemitraan strategis serta memaksimalkan fasilitas produksi yang sudah ada.
Meski menghadapi tantangan ekonomi global, melansir Reuters, 18 Maret, Mazda tetap berpegang pada rencana investasi senilai 1,5 triliun yen (Rp168 triliun) hingga 2030, sebagaimana diumumkan pada November 2022. Tanpa langkah efisiensi, inflasi diperkirakan dapat meningkatkan investasi hingga sepertiga menjadi 2 triliun yen.
BACA JUGA:
Produksi EV di Jalur yang Ada, Pangkas Biaya dan Waktu
Sebagai bagian dari strategi "aset ramping", Mazda akan memproduksi kendaraan listrik (EV) yang dijadwalkan meluncur pada 2027 di jalur produksi yang saat ini digunakan untuk mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Langkah ini memungkinkan pengurangan investasi hingga 85 persen dan memangkas waktu tunggu produksi sekitar 80 persen, dibandingkan dengan membangun pabrik baru khusus EV.
Selain efisiensi produksi, Mazda juga memperkuat kolaborasi dengan sejumlah mitra besar. Bersama Toyota Motor, Mazda bekerja sama dalam pengembangan arsitektur elektronik, sementara Denso turut berkontribusi sebagai pemasok teknologi otomotif. Diketahui, Toyota sendiri memiliki 5,1% saham di Mazda, mempererat hubungan kedua perusahaan dalam menghadapi era elektrifikasi.
CEO Mazda, Masahiro Moro, menegaskan bahwa kolaborasi dengan berbagai pihak di industri otomotif menjadi kunci untuk menjaga daya saing global Mazda sebagai produsen mobil asal Jepang. Dengan strategi ini, Mazda berharap tetap kompetitif dalam era transisi menuju kendaraan listrik tanpa harus mengorbankan stabilitas finansialnya.