Bagikan:

 

JAKARTA - Sebuah inisiatif bernama Lintas Resonan akan mengawali rangkaian perjalanan pada 11 Desember. Kota Semarang dipilih sebagai titik tolak yang diinisiasi oleh kolektif People of the Right Project ini.

Mengusung semangat eksploratif “Meretas Batas”, Lintas Resonan hadir sebagai ruang tumbuh yang berkomitmen memfasilitasi sinergi antar-insan kreatif—sebuah upaya yang telah dipupuk sejak tahun 2024.

Visi “Meretas Batas” yang diusung bukan hanya berfokus pada pertunjukan musik semata, tetapi juga membuka platform diskusi mengenai isu-isu terkini dalam ekosistem kreatif di setiap kota yang disinggahi.

Seperti yang ditekankan Iksal Harizal dari People of the Right Project, acara ini memiliki fokus yang lebih luas dari sekadar musik.

“Lintas Resonan tidak hanya berfokus pada musik semata, tetapi juga semangat untuk bersama-sama membangun industri kreatif lintas disiplin. Ada semangat dalam program-program kami, termasuk sesi podcast yang akan membahas isu-isu esensial di setiap kota dalam konteks seni dan industri kreatif,” kata Iksal dalam keterangannya, Minggu, 7 Desember.

Pembeda utama Lintas Resonan tahun ini adalah pembentukan sebuah entitas musik khusus yang akan tampil secara eksklusif di empat kota, yaitu Portura. Grup proyek ini berisi deretan nama besar di kancah musik nasional: Iga Massardi (Barasuara), John Paul Patton atau Coki (Kelompok Penerbang Roket, ALI), Fathia Izzati (Reality Club), Bilal Indrajaya, Enrico Octaviano (Lomba Sihir), dan Baskara Putra (Hindia, .Feast).

Kehadiran Portura bukan sekadar ajang unjuk gigi para musisi. Unit ini merupakan manifestasi dari DNA Lintas Resonan yang berorientasi pada eksplorasi dan percobaan.

“Apa yang bikin kami tertarik sama Lintas Resonan itu karena ruangnya bukan sekadar panggung tampil. Di sini kami merasa diajak untuk masuk ke percakapan yang lebih besar, tentang kota, tentang talenta lokal, tentang bagaimana musik bisa tumbuh bareng tanpa harus ada hierarki atau sekat-sekat,” ujar Iga.

“Kami datang sebagai bagian dari gerakan yang ingin bersama-sama mencari bentuk kreatif yang lebih dari apa yang pernah kami lakukan, dan Semarang punya energi yang hangat sekaligus penuh kejutan, dan itu bikin kami ingin hadir dengan rasa ingin tahu, bukan hanya dengan repertoar,” tambah Iga. “Harapannya, momen ini kita bersama-sama beresonansi dan tumbuh beriringan.”

Demi menguatkan semangat lokalitas, setiap kota juga akan menampilkan talenta setempat. Di Semarang, unit pop-punk Pyong Pyong didapuk sebagai representasi suara kancah musik kota tersebut.

Selain musik, Lintas Resonan juga diperkaya oleh sesi live podcast yang mengundang musisi, pekerja kreatif, dan pelaku industri untuk membahas berbagai isu esensial seperti manajemen band, menjaga integritas artistik, hingga menghadapi tantangan industri yang berubah sangat cepat saat ini. Sesi ini dirancang bukan untuk memberikan jawaban akhir, melainkan untuk memicu refleksi kritis bagi penonton maupun pelaku seni.

Pengalaman visual juga menjadi lapisan penting yang menyatu dengan musik. Visual artis Arswandaru akan mendampingi perjalanan ini, merespons energi dari tiap kota dan menerjemahkannya menjadi lanskap visual yang ekspresif, menciptakan pengalaman kesenian yang utuh.

Setelah Semarang (11 Desember 2025), Lintas Resonan akan berlanjut ke Bandung (8 Januari 2026), Tangerang (15 Januari 2026), dan ditutup di Jakarta (22 Januari 2026).