Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan pengembangan tabung gas CNG untuk kapasitas 3 kilogram (kg) melibatkan Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional (BSN).

“Aspek keselamatannya ini bukan hanya dari Kementerian ESDM, tapi juga ada dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, sama BSN yang menerbitkan standardnya,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dilansir ANTARA, Rabu, 13 Mei.

Laode menyampaikan, aspek keselamatan merupakan salah satu aspek terpenting dalam memastikan pelaksanaan CNG sebagai alternatif dari elpiji 3 kg.

Pemerintah sedang mempersiapkan tahapan-tahapan penerapan CNG sebagai alternatif elpiji untuk memenuhi kebutuhan gas rumah tangga.

Laode membidik CNG dapat menggantikan elpiji tabung 3 kg mulai tahun ini guna mengurangi ketergantungan impor energi.

Meskipun demikian, ia belum menjelaskan lebih jauh apakah kebijakan konversi elpiji menjadi CNG akan berpengaruh terhadap komitmen Indonesia mengimpor elpiji dari Amerika Serikat.

“Itu masih terlalu jauh, ya. Karena kami juga baru mau mulai, baru mau pilot project. Jadi, itu semua tahapan membutuhkan waktu,” kata Laode.

Usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa CNG bukan teknologi baru karena telah digunakan di sektor perhotelan, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada tabung berkapasitas besar di atas 10 hingga 20 kg.

Dia menambahkan, apabila hasil uji coba dinyatakan layak, pemerintah membuka peluang konversi bertahap dari elpiji ke CNG untuk kebutuhan rumah tangga.

Menurut Bahlil, CNG memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah.

Selain itu, pemerintah juga menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan domestik.