Bagikan:

JAKARTA - Gelaran Lintas Resonan resmi melanjutkan perjalanannya ke Tangerang sebagai titik ketiga, setelah Semarang dan Bandung. Mengambil lokasi di G Town Square pada 15 Januari, acara yang digagas oleh People of the Right Project ini membawa misi besar bertajuk "Meretas Batas".

Tangerang dipilih bukan tanpa alasan, kota ini dinilai memiliki DNA kreatif yang unik karena tumbuh secara mandiri sebagai jalur alternatif di luar pola mapan industri musik Jakarta.

“Sejak awal, Lintas Resonan kami rancang sebagai ruang perlintasan. Bukan hanya antar musisi, tapi juga antar kota dan cara pandang,” kata Iksal Harizal dari People of the Right Project, Selasa, 13 Januari.

“Tangerang menarik karena ia hidup di antara banyak arus: industri, komunitas, dan praktik kreatif yang terus bergerak,” lanjutnya. “Di kota seperti ini, kolaborasi sering lahir dari pertemuan yang jujur, bukan dari konsep yang dipaksakan.”

Adapun Lintas Resonan hadir bukan sebagai tur musik konvensional, melainkan sebuah ruang kolektif yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu melalui pintu masuk musik.

Penampilan Portura menjadi poros utama yang paling dinantikan di panggung Tangerang. Unit kolaboratif ini merupakan gabungan dari lima musisi papan atas dengan latar belakang berbeda, yakni Iga Massardi, John Paul Patton, Fathia Izzati, Bilal Indrajaya, dan Enrico Octaviano.

Di atas panggung, mereka tidak sekadar membawakan repertoar lagu masing-masing, melainkan hasil eksperimentasi dan ramuan gagasan kolektif yang baru.

Portura merepresentasikan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bermusik ketika ego personal dilepaskan demi sebuah karya bersama yang lebih luas maknanya.

Fathia Izzati menjelaskan, esensi dari proyek ini adalah tentang berbagi pengalaman antar musisi. Menurutnya, apa yang dilakukan Portura sebenarnya sesederhana— berbagi pengalaman—di mana lima orang dengan latar belakang berbeda digabung menjadi satu proyek, dan dari situ orang bisa menonton, merasakan, dan menarik maknanya sendiri.

Ia menekankan, proyek ini bukan untuk mengatakan bahwa cara mereka adalah yang paling benar, melainkan sebagai salah satu bentuk kemungkinan dalam berkarya. Semangat kolaborasi yang jujur ini menjadi nyawa utama dalam setiap penampilan Portura di rangkaian Lintas Resonan.

“Lima orang yang beda latar digabung jadi satu proyek, dan dari situ orang bisa nonton, merasakan, dan menarik maknanya sendiri. Bukan untuk bilang ini yang paling benar, tapi ini salah satu kemungkinan,” ujar Fathia.

Senada dengan Fathia, Iga Massardi menegaskan bahwa kehadiran mereka di setiap kota adalah untuk saling belajar dengan komunitas lokal. Iga menyatakan, mereka datang ke kota-kota tersebut bukan untuk menggurui atau merasa paling tahu, melainkan justru sama-sama belajar.

“Menarik banget karena tiap kota beda-beda, dan dari situ kita bisa lihat betapa beragamnya cara orang bermusik dan membangun skenanya sendiri,” tegas Iga Massardi.

Lintas Resonan Tangerang menjadi penebalan tentang kreativitas tidak selalu lahir dari pusat yang mapan. Semangat kolektif yang ditawarkan justru melihat bagaimana kreativitas tumbuh di ruang yang bergerak, di sela kepul asap industri dan terus mencari bentuknya sendiri.

Adapun, tiket dijual seharga Rp100.000 dan dapat dibeli melalui situs lintasresonan.com. Tersedia juga paket eksklusif terbatas tiket dan merchandise resmi Lintas Resonan.