Bagikan:

JAKARTA - Konduktor sekaligus produser musik Addie MS memilih untuk menahan diri ketika bicara permasalahan mengenai hak cipta musik di Indonesia, khususnya kisruh tentang royalti, yang tiga tahun belakangan ramai dibicarakan.

Addie menghormati setiap musisi dengan pendapatnya masing-masing. Namun, ia mengaku sedih ketika permasalahan mengenai royalti jadi perseteruan antara penulis lagu dan penampil.

“Perseteruan antara pencipta dan performer, antara kreator dan performer. Sedih saya. Sahabat-sahabat saya jadi berseteru gitu,” kata Addie di Kuningan, Jakarta Selatan baru-baru ini.

“Tapi saya hormati. Masing-masing punya alasan untuk membereskan itu,” tambahnya. “Itu baik. Ya mudah-mudahan bisa guyub lagi. Makanya saya dari dulu kalau bicara royalti, saya mundur.”

Lebih lanjut, Addie menyebut isu mengenai royalti dari lagu kebangsaan “Indonesia Raya”—yang pertama kali mencuat karena pernyataan salah satu komisioner LMKN—membuatnya cukup terkejut dan kecewa.

Lagu ciptaan W.R. Supratman yang sampai saat ini sering diputar itu merupakan karya yang direkam ulang oleh Addie MS dengan versi simfoni. Dengan kata lain, suami dari penyanyi Memes itu merupakan salah satu produser dari master rekaman lagu “Indonesia Raya”.

“Oleh pemerintah masa itu sudah dibayar, jadi enggak ada royalti. Itu sudah jadi public domain,” ujar Addie.

“Nah, rekaman ‘Indonesia Raya’ yang beredar dan sekarang dipakai di mana-mana itu, produsernya ya termasuk aku. Jadi kalau mau hitung-hitungan, kaya raya sekali aku sekarang,” lanjutnya.

“Cuma dari awal aku bikin rekaman itu, memang bukan itu (cari uang) tujuannya. Jadi aku enggak terima royalti apa-apa,” pungkas Addie.