Pecahnya Perang Yom Kippur Islam Versus Yahudi dalam Sejarah Hari Ini, 6 Oktober 1973
Kerusakan di Dataran Tinggi Golan (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 6 Oktober 1973, Mesir dan Suriah melakukan serangan terhadap Israel. Hari tersebut bertepatan dengan hari suci Yahudi Yom Kippur dan bulan Ramadan di tahun tersebut. Mesir dan Suriah hendak memenangkan kembali wilayah yang hilang karena dikuasai oleh Israel selama perang Arab-Israel saat Perang Enam Hari pada 1967.

Mengutip Britannica, Israel telah merebut dan menduduki wilayah Arab termasuk Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan, diikuti oleh pertempuran sporadis selama bertahun-tahun. Presiden Mesir Anwar Sadat, yang menjabat tak lama setelah Perang Atrisi berakhir, membuat tawaran untuk mencapai penyelesaian damai jika, sesuai dengan Resolusi 242 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Israel mengembalikan wilayah yang telah direbutnya. Israel menolak persyaratan itu dan pertempuran berkembang menjadi perang skala penuh pada Oktober 1973.

Mesir dan Suriah menyerang Israel secara bersamaan di dua front. Dengan keduanya memanfaatkan keuntungan, pasukan Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez dengan lebih mudah. Sementara pasukan Suriah mampu melancarkan serangan terhadap posisi Israel dan menerobos Dataran Tinggi Golan.

Serangan Mesir dan Suriah membuat amunisi Israel habis dengan cepat. Perdana Menteri (PM) Israel Golda Meir meminta bantuan Amerika Serikat (AS), sementara staf umum Israel buru-buru mengimprovisasi strategi pertempuran.

Bala bantuan untuk Israel pun datang. AS membantu Israel dengan cepat ketika mengetahui Uni Soviet memberikan pasokan ke Mesir dan Suriah. Presiden AS Richard Nixon membalas dengan mendirikan jalur pasokan darurat ke Israel, meskipun negara-negara Arab memberlakukan embargo minyak yang mahal dan berbagai sekutu AS menolak memfasilitasi pengiriman senjata terhadap Israel.

Tank milik Israel saat Perang Yom Kippur (Sumber: Wikimedia Commons)

 

Dengan bantuan AS, Israel bisa dengan cepat membalikkan keadaan. Kaum itu berhasil melumpuhkan sebagian dari pertahanan udara Mesir, yang memungkinkan pasukan Israel yang dikomandani oleh Jenderal Ariel Sharon untuk menyeberangi Terusan Suez dan mengepung Tentara Ketiga Mesir. Di front Golan, pasukan Israel memukul mundur Suriah dan maju ke tepi Dataran Tinggi Golan di jalan menuju Damaskus.

Dengan Resolusi 338, Dewan Keamanan PBB menyerukan agar pertempuran segera diakhiri. Meskipun demikian, bagaimanapun, permusuhan berlanjut selama beberapa hari. Hal tersebut mendorong PBB untuk mengulangi seruan untuk gencatan senjata dengan Resolusi 339 dan 340. Dengan meningkatnya tekanan internasional, perang akhirnya berhenti pada 26 Oktober 1973.

Kekalahan demi kekalahan

Perang terbukti merugikan Israel, Mesir, dan Suriah. Jumlah korban begitu signifikan dan melumpuhkan sejumlah besar peralatan militer. Selain itu, meskipun Israel telah mencegah Mesir untuk merebut kembali Semenanjung Sinai selama perang, Israel tidak pernah memulihkan bentengnya yang dihancurkan Mesir pada 6 Oktober.

Dalam upaya mempertahankan gencatan senjata antara Israel dan Mesir, perjanjian pelepasan ditandatangani pada 18 Januari 1974. Perjanjian tersebut mengatur agar Israel menarik pasukannya di Semenanjung Sinai di sebelah barat jalur Mitla dan Gidi.

Sementara itu Mesir mengurangi pasukannya di tepi timur kanal Terusan Suez. Pasukan penjaga perdamaian PBB lalu membentuk zona penyangga antara kedua pasukan. Perjanjian Israel-Mesir dilengkapi dengan perjanjian lain, yang ditandatangani pada 4 September 1975, mencakup penarikan pasukan tambahan dan perluasan zona penyangga PBB.

Perang Yom Kippur tidak serta merta mengubah dinamika konflik Arab-Israel, tetapi memiliki dampak yang signifikan pada lintasan proses perdamaian antara Mesir dan Israel. Proses tersebut berpuncak pada kembalinya seluruh Semenanjung Sinai ke Mesir dengan imbalan perdamaian abadi.

Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin (Sumber: Wikimedia Commons)

 

Perdamaian abadi Israel-Mesir

Melansir artikel VOI berjudul Ditandatanganinya Perjanjian Camp David yang Membawa Perdamaian Israel-Mesir, Israel dan Mesir menandatangani Perjanjian Camp David pada September 1978, yang merupakan dasar perjanjian perdamaian permanen antara Mesir dan Israel. Kesepakatan dinegosiasikan selama 12 hari dalam pembicaraan intensif di tempat istirahat Presiden AS Jimmy Carter di Camp David, Pegunungan Catoctin, Maryland.

Penandatangan perjanjian serupa kembali dilakukan pada 26 Maret 1979. Perjanjian itu memberikan perdamaian permanen antara kedua negara yang menyebabkan penarikan penuh pasukan Israel dari Semenanjung Sinai dan normalisasi hubungan antara kedua negara. Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin menerima Nobel Perdamaian karena melakukan perjanjian tersebut.

Berdamainya Mesir dan Israel bukannya tidak menimbulkan dampak lain. Mesir diusir dari Liga Arab dan terdapat oposisi internal yang menyebabkan krisis domestik. Pada 6 Oktober 1981, Sadat dibunuh oleh ekstremis di Kairo saat menonton parade militer memperingati Perang Yom Kippur.

Meskipun Sadat meninggal, proses perdamaian dengan Israel terus berlanjut di bawah arahan presiden baru Mesir, Hosni Mubarak. Israel memenuhi perjanjian dengan mengembalikan segmen terakhir Semenanjung Sinai ke Mesir pada 1982.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya