Sejarah Met Gala dan Perkembangannya di Tangan Anna Wintour
Kim Kadarshian dalam Met Gala 2021 (Instagram/@kimkadarshian)

Bagikan:

JAKARTA - The Costume Institute Gala atau yang lebih dikenal sebagai Met Gala selalu jadi pembicaraan publik setiap gelarannya. Met Gala biasanya diadakan setiap Senin pertama di bulan Mei. Met Gala sempat tak diselenggarakan karena pandemi COVID-19 pada 2020. Untuk 2021, Met Gala diselenggarakan pada Senin kedua di September.

Mengutip Vogue, Met Gala sendiri adalah malam penggalangan dana yang nantinya akan diberikan untuk Metropolitan Museum of Art's Costume Institute di New York. Met Gala menjadi fenomena budaya yang menarik perhatian global.

Pesta eksklusif ini hanya bisa dihadiri oleh orang-orang terpilih yang diundang. Pun jika benar-benar ingin hadir, seseorang harus membayar tiket seharga mobil baru dan tidak sembarang orang yang diperbolehkan membeli tiket tersebut. Intinya, seseorang harus benar-benar spesial untuk hadir di Met Gala.

Awal dan perkembangan Met Gala

Lady Gaga di Met Gala 2021 (Instagram/@metgala2021)

Hampir seabad yang lalu, produser teater Irene Lewisohn dan perancang teater Aline Bernstein membuat dasar dari Met Gala. Mereka merencanakan acara makan malam yang juga dibuat untuk menunjukkan berbagai koleksi busana yang diharapkan menjadi inspirasi oleh perancang busana atau teater lainnya.

Met Gala akhirnya benar-benar diselenggarakan pertama kali oleh humas mode dan pendiri Dewan Perancang, Eleanor Lambert pada 1948. Saat itu perjamuan makan malam diselenggarakan pada Desember. Tempat-tempat yang dipilih adalah Waldorf Astoria, Central Park, dan Rainbow Room hingga 1971.

Melansir Architectural Digest, hajatan Met Gala semakin rumit selama 1970-an dengan kedatangan pemimpin redaksi Vogue Diana Vreeland. Ia bertindak sebagai konsultan khusus untuk Met Gala pada 1973.

Di bawah masa Vreeland, Met Gala mulai merangkul budaya populer dan selebriti mulai dipilih sebagai daftar tamu. Andy Warhol, Diana Ross, dan Cher pernah tampil bersama tokoh masyarakat dan politisi seperti Jacqueline Kennedy Onassis dan Henry Kissinger.

Vreeland juga dikenal sebagai sosok yang membuat Met Gala dihadiri oleh rancangan-rancangan busana yang unik. Pada 1995, pemimpin redaksi Vogue Anna Wintour mulai memimpin Met Gala. Wintour menetapkan Senin pertama di Mei sebagai harinya Met Gala.

Daftar tamunya pun berevolusi untuk mencerminkan bintang mode, hiburan, dan politik yang nantinya akan menghiasi halaman-halaman Vogue. Anna Wintour masih menggunakan pola yang digunakan Vreeland untuk mengundang selebritas.

Metropolitan Museum of Art's Costume Institute di New York (Wikimedia Commons)

Atlet dan model pun juga diundang dengan dan duduk di sebelah aktris dan politisi. Acara makan malam lebih berwarna karena ditambah dengan hadirnya pembawa acara selebriti. Selain itu, terdapat hiburan tambahan yang diisi oleh penyanyi terkenal. Lady Gaga, Kanye West, Rihanna, dan Bruno Mars beberapa tahun terakhir ini tampil mengisi acara Met Gala.

Seiring berkembangnya zaman, beberapa aturan pun juga ditambahkan. Pada 2015, Met Gala melarang tamu undangannya untuk menggunakan media sosial saat acara, meskipun terkadang masih ada tamu yang sembunyi-sembunyi untuk berswafoto. Hingga akhirnya pada 2016, Vogue meluncurkan studio potret sebagai bagian dari acara di mana tamu dapat berpose untuk difoto.

Peraturan Met Gala pun semakin diperketat. Pada 2018, terdapat aturan bahwa siapa pun yang masih di bawah 18 tahun tidak diperkenankan hadir di Met Gala, bahkan tidak ada pengecualian untuk anak di bawah umur yang hadir bersama orang tua mereka.

Sebelum aturan tersebut ada, beberapa bintang muda pernah hadir, termasuk Jaden dan Willow Smith, Elle dan Dakota Fanning, dan Hailee Steinfeld. Meledaknya media sosial membuat Met Gala kembali mengembangkan daftar tamu.

Jika sebelumnya Met Gala dihadiri oleh selebriti atau aktor papan atas, politikus, dan atlet, Met Gala mulai mengundang YouTuber seperti Lilly Singh dan Liza Koshy hingga blogger Chiara Ferragni dan influencer kecantikan seperti Camila Coelho dan James Charles.

Anna Wintour juga sangat ketat terhadap aturan tempat duduk tamu undangan. Dalam film dokumenter 2016 The First Monday in May, yang merinci perencanaan Met Gala, direktur proyek khusus di Vogue, Sylvana Ward Durrett, menjelaskan bahwa banyak pemikiran khusus dalam rencana penentuan tempat duduk.

"Banyak pemikiran masuk ke siapa yang duduk di sebelah siapa, jika mereka duduk bersama tahun lalu, jika mereka duduk bersebelahan di acara lain, begitu banyak rencana yyang dibuat, itu mengejutkan," kata Ward Durrett. Menurut Ward Durrett, pasangan yang menjadi tamu Met Gala tidak pernah duduk bersebelahan.

"Inti dari semua ini adalah agar kita bertemu orang baru dan tertarik dengan apa yang dilakukan orang lain. Apa gunanya jika Anda datang ke sini hanya untuk santai-santai bersama suami?" ujar Durrett.

Siapa Anna Wintour

Anna Wintour (Sumber: Wikimedia Commons)

Jika membicarakan Met Gala, tidak akan terlepas dari Anna Wintour. Puluhan tahun Anna Wintour berkecimpung di dunia editorial fesyen. Berbagai keputusan juga pernah ia buat untuk membuat majalah fesyen lebih maju. Salah satu yang dianggap paling mengerikan adalah ketika ia mengubah wajah Vogue yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Khawatir Vogue akan membosankan, Wintour sebagai pemimpin redaksi dengan semua kebebasannya, merevitalisasi publikasi. Dalam tiga dekade kepemimpinannya di majalah tersebut, Wintour lebih dari menyelesaikan misinya. Ia memulihkan keunggulan Vogue sambil menghasilkan beberapa masalah yang benar-benar besar.

Pada edisi September 2004, terdapat 832 halaman dalam satu majalah. Mengutip Biography, Wintour mulai melirik selebriti daripada model untuk sampul Vogue. Wintour juga orang pertama yang benar-benar memadukan barang-barang fesyen kelas bawah dengan barang-barang yang lebih mahal dalam pemotretannya.

Pada sampul Vogue edisi November 1988 terdapat model Israel berusia 19 tahun yang mengenakan celana jins seharga 50 dolar AS dan t-shirt bertatahkan permata seharga 10.000 dolar AS. Bersama Dewan Perancang Busana Amerika, Wintour membantu menciptakan dana untuk mendorong dan mendukung desainer yang sedang naik daun.

Sebagai anggota dewan Metropolitan Museum of Art's Costume Institute, Wintour mengorganisir penggalangan dana untuk departemen kostum, yang selama bertahun-tahun telah menghasilkan sekitar 50 juta dolar AS. Pada Oktober 2017, Wintour menjadi berita utama ketika mengungkapkan bahwa dia tidak akan lagi mengundang Donald Trump ke Met Gala.

Anna Wintour juga berhasil memadupadankan fesyen dan politik. Ia pernah menjadi co-host acara penggalangan dana untuk Presiden Barack Obama bersama aktris Scarlett Johansson. Acara Runway to Win miliknya menawarkan busana dan aksesori bertema Obama dari desainer seperti Diane Von Furstenberg, Marc Jacobs, dan Tory Burch.

Runway (panggung untuk model yang menggunakan pakaian buatan desainer) tidak lagi hanya runway, itu sekarang menjadi kekuatan untuk perubahan dalam politik,” kata Wintour.

Anna Wintour bukan sekadar orang yang berpengaruh di fesyen, ia mampu mendobrak berbagai aturan tradisional terkait fesyen dan mampu merangkul budaya baru setiap tahunnya. Tidak heran jika Met Gala di bawah kepemimpinannya, menjadi sebuah budaya yang tidak terelakkan dan akan terus menjadi perbincangan di tahun-tahun berikutnya.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH DUNIA atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

MEMORI Lainnya