Kala Nurnaningsih Telanjang: Dimulainya Diskusi Panjang Batas Erotisme dalam Film Indonesia
Nurnaningsih tengah beradu akting (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Sejak awal kemunculan di Indonesia pada 1920-an, film langsung disambut antusias sebagai sensasi dan hiburan paling baru. Sentuhan erotisme menambah gairah itu. Beriringan, sejumlah tokoh muncul mengisi ruang tersebut, termasuk Nurnaningsih, yang kemudian dikenal sebagai bom seks pertama dalam film-film Indonesia.

"Gambar idoep," begitu orang-orang menyebut film yang mulanya bisu, kemudian disempurnakan dengan olahan suara. Dikutip dari buku Festival Film Indonesia 1988, tahun 1950-an jadi masa di mana judul-judul film Tanah Air diproduksi masif. Eksploitasi seks dan lekuk tubuh perempuan juga dimainkan dalam era itu.

Dua hal itu jadi daya tarik tersendiri. Fantasi erotis menguasai penonton. Namun, gairah itu dihadapkan dengan nilai-nilai dan norma. Menjadi kontroversi, erotisme dalam film justru makin diminati. Nurnaningsih hidup di era-era penuh gairah itu.

Narasi tentang sosok bom seks pertama Tanah Air awalnya memang teka-teki. Namun, entah bagaimana, berbagai literasi bagai sepakat menjadikan Nurnaningsih atau yang akrab disapa Nurna sebagai sosok yang mempelopori istilah bom seks.

Litelatur menyebut Nurna lahir di Wonokromo, Surabaya, 5 Desember 1928. Nurna adalah keturunan bangsawan. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Raden Kadjat Kartodarmdjo dan Sukini Martindjung.

Nurnaningsih beradu akting (Sumber: Commons Wikimedia)

 

Fandi Hutari, dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (2011) menceritakan, Nurna baru merantau ke Jakarta di usianya yang ke-25 tahun. Di masa-masa awal perantauan, Nurna tinggal di sebuah gubuk di pinggir Kali Ciliwung. Banyak yang menganggap usia Nurna ketika memulai telah melewati batas ideal. Namun, sinar dalam dirinya tak bohong.

Kenyataan dari mimpi-mimpi Nurna hadir lewat Usmar Ismail. Proposalnya diterima. Sang legenda menunjuk Nurna untuk sebuah peran dalam film garapannya kala itu: Krisis (1953). "Nurna berperan sebagai Ros. Kendati memainkan peran utama, dia tak mendapat bayaran tinggi, hanya Rp180." Tapi, apalah. Keterlibatan Nurna dalam film Usmar sudah cukup. Pun itu berbuah manis.

Intuisi Usmar benar. Ia memiliki keyakinan terhadap nyala sinar Nurna. Sang gadis memang memiliki modal mumpuni. Sebelum terjun ke film, Nurna telah lebih dulu bermain teater dan bernyanyi. Nurna bukan cuma keajaiban buat dirinya sendiri. Ia juga berkah besar bagi ekosistem perfilman.

Nurnasari memeragakan tarian di atas panggung (Sumber: Commons Wikimedia)

 

Kala itu, film Krisis yang ia bintangi sukses besar. Bahkan, Perusahaan Film Nasional (Perfini) yang awalnya dilanda krisis keuangan langsung terselamatkan berkat film Krisis. Nama Nurna makin harum.

“Setelah debut pertamanya, Nurna mendapat tawaran tampil dalam film Harimau Tjampa (1954) arahan sutradara D. Djajakusuma. Film ini juga meraih sukses, menyabet dua penghargaan bergengsi: skenario terbaik di ajang Festival Film Indonesia dan musik terbaik di ajang Asian Film Festival pada 1955,” tulis Fandy Hutari.

Di film keduanya itulah nama Nurna ditahbiskan sebagai bom seks. Dan tiada lain sebelum ia. Media massa kala itu membahas habis-habisan aksi Nurna tampil setengah telanjang dalam film Harimau Tjampa. Hal itu dibarengi sentimen negatif. Nurna punya argumen sendiri. Di matanya, yang ia lakukan adalah eksplorasi terhadap seni.

"Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia,” ucap Nurna pada 1954, dikutip Ekky Imanjaya dalam A to Z About Indonesian Film (2006).

Marilyn Monroe Indonesia

Imej sebagai Marilyn Monroe Indonesia kemudian melekat di diri Nurna. Bukan hanya dalam film. Nurna mengeksplorasi tubuhnya ke berbagai medium seni lain, seperti foto majalah. Foto bugil Nurna masyhur tak cuma di Jakarta, tapi hingga Amerika Serikat (AS) dan Italia.

Dikutip dari tulisan Djambak dalam buku Nurnaningsih Affair (1955), foto-foto tersebut awalnya disebarjualkan dengan harga Rp200 per lembar. Harganya kemudian naik Rp300. Polisi dan kejaksaan kala itu bahkan sampai turun tangan menghentikan laju penyebaran foto bugil Nurna.

Dari Sembilan gaya foto yang beredar, polisi hanya menyita tujuh. Namun, hal itu tak menghalangi orang-orang untuk mendapatkan foto Nurna. Mereka berpaling, berbelanja di pasar gelap. Nurna, dalam pengakuannya menjelaskan pemotretan bugil itu adalah permintaannya sendiri. Ia melakukan itu sebagai bahan studi para pelukis telanjang.

Nurnasari berpose dalam sebuah foto (Sumber: Wikimedia Commons)

 

“Tentang gambar-gambar telanjang ini dijelaskan semua kepada saya. Yang memperdagangkan gambar-gambar saya itu tentunya dapat banyak untung. Tapi, saya, selain tidak dapat apa-apa juga dapat susah karena harus bolak-balik menghadap kantor polisi bagian kesusilaan,” Nurna, ditutur dalam tulisan Djambak.

Nurna juga menjelaskan, dalam pemotretan itu, ada tujuh opsir tentara yang membayar demi bisa memotret Nurna telanjang. Selain itu, ada dua mahasiswa yang terlibat. Akhirnya, setelah menjalani pemeriksaan, Nurna dinyatakan tak bersalah dan bebas.

Tak mempan skandal

Nurna tak mempan dihajar skandal. Berbagai kabar kontroversial justru makin mengangkat popularitas Nurna. Sebuah kisah menggambarkan popularitas itu. Majalah Aneka, pada 20 Desember 1955 memuat cerita ketika Nurna bertandang ke Medan untuk turut dalam pementasan teater pada akhir November tahun itu.

Saat itu, kala baru mendarat di Bandala Polonia, Medan, Nurna langsung diserbu ribuan penggemar. Mayoritas dari mereka mengaku penasaran dengan sosok asli Nurna.

“Belum pernah orang begitu berdesak-desakan sehingga pintu kaca restoran Polonia pecah ditubruk orang karena buru-buru mau mencari tempat untuk dapat melihat Nurnaningsih. Belum pernah PAU (Polisi Angkatan Udara) di Polonia sesibuk mengawasi keadaan seperti waktu itu,” tulis Aneka.

Lewat ragam skandal itulah sosok Nurna sering disamakan dengan bintang film Amerika Serikat, Marilyn Monroe. Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Volume 1 (1996) mengungkap, atas skandal Nurna, media massa segera menjadikan kasusnya sebagai landasan untuk mempertanyakan batas antara seni dan pornografi, kata yang pada masa itu baru dan perlu dijelaskan dengan padanannya kecabulan.

“Perdebatan sampai kini belum selesai. Berbagai seminar dari waktu ke waktu mendiskusikannya dengan bersungguh-sungguh. Secara umum kaum liberal telah menang beberapa langkah selama tahun-tahun terakhir ini ... Masyarakat kota menerima kenekatan yang semakin berani. Dewan sensor diabaikan atau menutup mata, dan diulang-ulanglah semboyan Nurnaningsih: kalau mau maju, harus berani," tulis Denys.