Bung Hatta dibuang ke Sarang Buaya dan Malaria di Papua
Moh Hatta (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Mohammad Hatta adalah pejuang sejati. Sama seperti Soekarno, Hatta tak bisa dibungkam. Belanda sempat membuang Hatta ke Boven Digoel, Papua. Dari sana perlawanan Hatta terus berlanjut.

Hatta bukan pengisi mimbar orasi politik. Tapi sederet tulisannya sering ‘menggoyang’ kekuasaan Belanda di tanah Nusantara. Belanda pun membendung segala aktivitas politik Hatta. Dari penjara hingga pengasingan.

Hatta sempat dibuang ke Boven Digoel, Papua, wilayah yang sering disebut 'Siberianya Hindia Belanda.' Sepulang dari Belanda di tahun 1932, emosi Bung Hatta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia meluap-luap.

Bung Hatta tak cuma membentuk Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) bersama Sutan Sjahrir. Perlawanan yang ia lakukan lewat sederet tulisan di majalah Daulat Rakyat membuat Belanda naik pitam.

Gerak-geriknya diawasi. Apalagi tulisan Hatta sering kali menyenggol kolonialisme Belanda yang memiskinkan rakyat Indonesia. Terutama, lewat topik ekonomi dan konsep nasionalisme yang berkedaulatan rakyat.

Lebih lagi. Setiap Hatta melangkah ke berbagai wilayah di Nusantara, ia juga aktif memberikan rangkaian kursus-kursus politik. Kursus itu diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang berjuang memerdekakan bangsa.

Hatta tahu aktivitas politiknya membuat risau Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936). De Jonge menggolongkan aktivitas Hatta lebih radikal dan berbahaya dibanding pergerakan Soekarno.

Moh Hatta (Sumber: Commons Wikimedia)

Belanda pun memilih menjebloskan Hatta ke dalam penjara. Slamet Muljana dalam buku Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan Volume I rilisan 2008 mengisahkan penangkapan Hatta.

“Pada tanggal 26 Februari 1934, secara mendadak pemerintah menangkap beberapa anggota PNI Baru, yaitu Hatta, Sjahrir, Maskun, Burhanuddin, Marwoto, dan Bondan."

"Sambil menunggu keputusan dari pemerintah, Hatta ditawan di penjara Glodok, sedangkan Sjahrir dan lima orang lainnya di rumah tahanan Cipinang. Di penjara Glodok, Hatta masih sempat menyelesaikan bukunya, Krisis Ekonomi dan Kapitalisme,” tambahnya.

Sejak para pimpanan PNI Baru dibui, kantor PNI tak luput diacak-acak pemerintah kolonial. Semua surat, kertas-kertas, dan beberapa majalah Daulat Rakyat yang memuat tulisan Hatta dibawa oleh polisi Belanda.

Dalam masa itu Hatta sendiri lebih dulu merasakan ruangan penjara kantor polisi di kawasan Lapangan Gambir --sekarang kawasan Monumen Nasional. Hatta disuruh tidur di lantai, bahkan tanpa diberi alas.

Setelahnya, Hatta baru dipindahkan ke Penjara Glodok. Selama sembilan bulan meringkuk di Penjara Glodok, Hatta baru mendapatkan kabar dirinya akan dibuang ke Boven Digoel, Papua, pada 16 November 1934.

Hatta bersama enam pengurus PNI Baru, termasuk Sutan Sjahrir diangkut ke Boven Digoel. Hatta diminta bersiap-siap ke Pelabuhan Tanjung Priok dengan pakaian tahanan. Pemberangkatannya memakan waktu lama dan diestafet.

Perjalanan panjang itu bermula dari Tanjung Priok. Hatta dibawa menggunakan Kapal Melchior Treub ke Surabaya dan Ujung Pandang. Dari Ujung Pandang dia naik kapal lain yang lebih kecil ke Ambon.

Dari Ambon Hatta naik kapal yang lebih kecil bernama Albatros ke Boven Digoel. Mereka sampai di Boven Digoel 28 Januari 1935. Daerah ini terletak jauh di pedalaman selatan Papua, di tepi Sungai Digul yang jauhnya sekitar 600 km dari tepi laut.

“Pada tanggal 28 Januari 1935 siang kami sampai di Tanah Merah. Setelah selesai urusan administrasi dari pihak penguasa kami diterima oleh panitia penerimaan yang anggotanya terdiri atas orang-orang yang datang lebih dahulu. Wedana dan lurah kampung Tanah Merah mengantarkan kami sampai ke rumah yang sudah disediakan buat saya."

"Hanya saya saja yang mendapat sebuah rumah yang sudah jadi. Rumah itu adalah bekas kantor. Jadi, unsur pengawasan terhadap saya masih berlaku meskipun sudah hidup di tengah-tengah rimba raya,” ujar Bung Hatta dikutip Rosihan Anwar dalam buku Mengenang Sjahrir (2013).

Kehidupan Hatta Boven Digoel

Suasana di Boven Digoel (Sumber: geheugen.delpher.nl)

Pengasingan Boven Digoel memang diciptakan pemerintah Belanda untuk meredam perlawanan para intektual yang melawan. Boven Digoel dikenal sebagai 'neraka'. Belanda menyebutnya 'kuburan'.

Imej itu terbentuk karena Boven Digoel terkenal berbahaya. Selain dikelilingi hutan belantara, Boven Digoel juga didiami banyak buaya. Dan yang paling terkenal adalah nyamuk malaria. Hatta sempat terkena Malaria dua kali.

“Hatta sendiri mengaku dua kali kena penyakit malaria tertiana selama di Digoel. Untuk menghindari penyakit tersebut mereka memakan pil kina. Tetapi hal ini juga punya dampak negatif karena banyak di antara mereka yang rusak pendengarannya dan kena penyakit lekas marah. Hatta pun terkena penyakit itu,” tulis Anwar Abbas dalam buku Bung Hatta dan Ekonomi Islam (2010).

Selama di Papua, Hatta tinggal di sebuah rumah berlantai tanah yang memiliki dua kamar. Semula, Hatta rencananya tinggal bersama Sjahrir. Akan tetapi Sjahrir lebih dulu tinggal bersama kawannya.

Kehidupan di Boven Digoel (Sumber: Wikimedia Commons)

Kekosongan itu diisi oleh Burhanuddin. Tujuh bulan Hatta dan Burhanuddin satu atap, sampai istri Burhanuddin datang. Keduanya membagi pekerjaan rumah, dari memasak nasi, cuci piring, hingga menyapu halaman.

Hatta terus melanjutkan agenda politiknya. Ia juga menolak berkerja sama dengan Belanda. Di pengasingan Hatta tetap produktif menulis untuk koran di Batavia dan Den Haag (Belanda).

Hatta mendapat imbalan untuk memenuhi kebutuhan hariannya di tanah interniran. Di samping itu, Hatta mulai mendalami filsafat Yunani dan aktif mengajar tahanan-tahanan di Boven Digoel ragam pelajaran.

"… Filosofi berguna untuk penerangkan pikiran dan penetapan hati. la membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita dari pengaruh tempat dan waktu. Dalam pergaulan hidup yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul. keamanan perasaan itu perlu ada. Siapa yang hidup dalam dunia pikiran, dapat melepaskan dirinya daripada gangguan hidup sehari-hari,” cerita Bung Hatta dalam buku Alam Pikiran Yunani (1983).

Terkait tugasnya mengajar, Hatta mengadakan kursus dengan tiga mata pelajaran inti: falsafah, ekonomi, dan sejarah. Tiap penghuni Boven Digoel dapat memilih pelajaran mana yang disukai, selama tak lebih dari tiga subjek per orang dalam satu kali datang.

Setelah dari Boven Digoel Hatta kemudian dipindahkan ke Banda Neira pada 11 Februari 1936. Mereka yang pernah belajar bersama Bung Hatta merasa kehilangan. Kabar baiknya, para tahanan kemudian mendapatkan akses bacaan bermutu berkat kehadiran Bung Hatta di Tanah Merah.

“Saya mendapat cukup bacaan, baik buku maupun koran, terlebih ketika Hatta dan Sjahrir masih berada di samping kami. Hatta dan Sjahrir menerima kiriman koran dari negeri Belanda. Sebulan sekali koran-koran itu bertumpuk datang. Het Volksblad, De Groene Amsterdammer dan Nieuwe Rotterdamshe Courant merupakan Koran Belanda yang setia mengunjungi Tanah Merah,” tutup mantan tahanan Boven Digoel, Mohamad Bondan dalam buku Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan (2011).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH NUSANTARA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

BERNAS Lainnya