Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, tujuh tahun yang lalu, 11 Mei 2019, Partai Demokrat menilai suara mereka menurun imbas dukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019. Elite Partai Demokrat merasa politik identitas jadi salah satu penyebabnya.

Sebelumnya, Partai Demokrat dan Gerindra dikenal sebagai oposisi dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Kedua partai terkenal berisik kritik kebijakan Jokowi. Istimewanya kemudian kedua partai sepakat mengusung Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019.

Tiada yang meragukan eksistensi Partai Demokrat dan Gerindra sebagai oposisi. Mereka mantap memilih jalur oposisi karena Jokowi jadi Presiden Indonesia terpilih. Fungsi pengawasan dilakukan dalam setiap program pemerintahan Jokowi.

Kritik dan kecaman akan diarahkan ke pemerintah karena kebijakan yang dibuat merugikan rakyat. Kedua partai dikenal berisik dengan caranya masing-masing. Kondisi itu membuat kedua partai memiliki penggemarnya masing-masing.

Mereka yang terwakilkan dari kritik mulai merapatkan barisan mendukung partai kritik pemerintah. Kondisi itu kemudian membuat kedua partai mulai menatap Pilpres 2019. Kedua partai besar tersebut menganggap dapat membawa perubahan jika menjadi bagian pemerintahan.

Opsi berkolaborasi dengan Jokowi dianggap bukan jawaban. Opsi yang paling memungkinkan adalah melawannya. Kedua partai kemudian bersepakat memajukan Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019. Pasangan itu dianggap mampu mengalahkan Jokowi yang berpasangan dengan Mar’uf Amin.

Kampanye masif dilakukan. Mesin-mesin partai mulai bergerak mengemas citra. Dukungan dari alim ulama berdatangan. Suatu hal yang kemudian banyak diyakini orang sebagai politik identitas.

Penerimaan masyarakat besar akan Prabowo-Sandi. Namun, perjalanan itu tak selamanya mulus. Prabowo dan Sandi justru harus mengakui keunggulan Jokowi-Mar’uf yang lebih disukai rakyat Indonesia.

"Dan juga 22 negara lainnya yang telah memberikan ucapan selamat atas berlangsungnya pesta demokrasi besar di negara kita, pileg maupun pilpres. Beliau ucapkan selamat untuk masyarakat Indonesia dan juga kepada Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin atas keberhasilan pemilu 17 April kemarin.”

"Kita tahu bahwa yang namanya penghitunganquick countadalah cara penghitungan ilmiah dan dari pengalaman pengalaman pemilu yang lalu. Akurasinya 99 persen, hampir sama dengan perhitunganreal count. Namun demikian kita harus tetap sabar, sabar menunggu hasil penghitung resmi dari KPU," ungkap Jokowi sebagaimana dikutip lamanCNBC Indonesia, 20 April 2019.

Kekalahan Prabowo-Sandi bawa luka yang amat dalam bagi pendukungnya. Partai Demokrat, apalagi. Hubungan antara Partai Demokrat dan Gerindra jadi renggang. Partai Demokrat tak hanya pusing dengan kekalahan Prabowo, tapi mereka juga merasa mendukung Prabowo membuat suara partai dalam pileg berkurang pada 11 Mei 2019.

Suara demokrat yang diturun diungkap karena pola politik identitas yang dimainkan dalam Pilpres. Alhasil, banyak kader Demokrat yang ikut Pilpres jadi terganjal jalannya karena citra politik identitas yang dibangun oleh kubu Prabowo-Sandi. Mereka yang bukan Islam kesulitan cari suara.

"Kami 7 bulan ini sudah membuktikan serius kok memenangkan Prabowo. Bahkan karena dukung Prabowo ini suara partai kami turun. Caleg seperti saya ini tidak dipilih karena politik identitas.”

"Jadi jangan amnesia (kader Gerindra) Poyuono itu. Ketimbangnggedabrusbanyak bicarangurus-ngurusiDemokrat, lebih baik diangurus-ngurusisetan gundul yang ngasih data 62 persen ke Prabowo itu. Itu angkahaluitu,halu, halu. Jadi Poyuono ngurusin angka 62 persen yanghaluitu," ujar Ketua DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon sebagaimana dikutip lamandetik.com, 11 Mei 2019.