JAKARTA – Memori hari ini, sembilan tahun yang lalu, 22 Januari 2017, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto tegaskan dirinya tak percaya hasil survei. Ia menganggap kehadiran lembaga survei tak lebih dari sekumpulan orang pintar yang hanya manfaatkan kepandaiannya untuk bohongi rakyat.
Sebelumnya, Prabowo memutuskan mendukung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Prabowo menganggap segenap warga Jakarta menghendaki kedua jagoannya menang. Namun, survei justru menegaskan calonnya tak kuat.
Tiada yang meragukan eksistensi Pilgub DKI Jakarta 2017. Pemilihan kepala daerah itu dianggap sebagai kontestasi politik yang paling panas di Indonesia. Kondisi itu karena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang notabene Gubernur DKI Jakarta memilih ikut kembali.
Ahok percaya diri bahwa ia bisa terpilih kembali. Narasi itu membuat lawan politik Ahok mencoba mencari sosok yang sepadan untuk bersaing dengan Ahok. Prabowo Subianto dan Partai Gerindra tak mau kalah.
Mereka kemudian mencari sosok pemimpin yang dapat bersaing di Jakarta. Pilihan kemudian membawa Prabowo memilih Anies Baswedan. Prabowo percaya mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu bisa membawa perubahan di Jakarta.
BACA JUGA:
Prabowo memang mengakui bahwa dulu dirinya dan Anies dalam lawan politik. Namun, dunia politik dianggapnya istimewa, lawan bisa jadi kawan. Prabowo kemudian memasangkan Anies dengan pengusaha Sandiaga Uno.
Pasangan itu dianggap bisa mematikan langkah Ahok dan Djarot Saiful Hidayat juga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni. Prabowo sendiri yakin Anies menang. Kondisi itu karena Prabowo yakin jejak Anies sebagai Mendikbud harum.
Prabowo pun kemudian menginstruksikan seluruh kader Gerindra di Jakarta untuk bergerak menyukseskan Anies-Sandi. Mesin-mesin politik dinyalakan. Relawan pun disebar. Semuanya dengan satu tujuan: menang.
"Benar, dulu saya adalah lawan politik saudara Anies. Namun saya yakin pasangan Anies-Sandi dapat jadi pemimpin yang melibatkan warga dalam membangun Jakarta. Saya sampaikan kepadanya,I know you love your country, and I love my country, let's work together. Saya tahu saudara cinta negara ini, dan saya cinta negara ini, mari kita bekerja sama," ungkap Prabowo sebagaimana dikutip lamandetik.com, 27 Oktober 2016.
Prabowo memang yakin Anies-Sandi menang. Ia menganggap hitung-hitungan partai Gerindra akan perolehan suara bisa membawa Anies jadi Gubernur DKI Jakarta. Masalah muncul. Hitung-hitungan Prabowo tak sama dengan yang diungkap beberapa lembaga survei.

Beberapa lambaga survei dianggap tak konsisten memprediksi pemenang Pilgub 2017. Kadang Anies ditempatkan pada posisi dua. Kadang juga pada posisi tiga. Uniknya, ada pula lembaga survei yang menempatkan AHY-Sylvi pada urutan pertama, padahal pada survei yang lain nama keduanya terpuruk.
Narasi itu kemudian membuat Prabowo berang. Ia mengaku tak percaya dengan lembaga survei pada 22 Januari 2017. Prabowo menganggap bahwa lembaga survei tak lebih dari sekumpulan orang pintar yang hanya manfaatkan kepandaiannya untuk bohongi rakyat.
Belakangan, kemenangan Anies-Sandi di Jakarta kian membuat Prabowo tak percaya survei. Alhasil, Prabowo kerap anggap sepele lembaga survei dalam tiap kontestasi politik.
“Yang jelas saya sudah tidak respek. Kepintarannya dipakai membohongi rakyat. Namun, semestinya mereka terbuka dan jujur terkait dengan pihak yang mengontraknya,” ujar Prabowo sebagaimana dikutiptempo.co, 22 Januari 2017.