JAKARTA – Sejarah hari ini, 17 tahun yang lalu, 20 Januari 2009, sejarah baru tercipta di Amerika Serikat (AS) lewat sosok Barack Obama. Ia resmi dilantik jadi Presiden AS pertama dari kalangan kulit hitam. Pelantikan Presiden AS ke-44 itu disambut dengan gegap gempita dan dipandang jadi kemenangan AS melawan rasisme.
Sebelumnya, kehadiran Obama dalam peta politik AS tak sebentar. Ia sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari untuk mewujudkan mimpi jadi Presiden AS. ketekunan itu membawanya eksis dalam peta politik di Negeri Paman Sam.
Tiada yang tak mungkin dalam hidup. Narasi itu diamini benar oleh Barack Obama. Pria kelahiran Honolulu, 4 Agustus 1961 telah memantapkan mimpi ingin jadi Presiden AS sedari kecil. Orang-orang yang mendengar mimpinya boleh jadi meremehkan Obama.
Sikap itu bukan karena menganggap mimpi Obama yang tinggi. Namun, karena Obama berkulit hitam. Tiada presiden AS yang berasal dari kaum kulit hitam. Mereka yang jadi presiden selalu berasal dari kaum kulit putih.
Obama pun tak peduli. Ia terus saja bermimpi. Ia menyaksikan sendiri bahwa antara kulit hitam dan putih tiada beda. Mereka sama-sama punya hak hidup. Bebas pula menjadi siapa saja. Ia kemudian menjalankan pendidikannya dengan baik – dari Hawaii hingga Jakarta, Indonesia.

Nasib kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi, dari Universitas Columbia hingga Harvard Law School. Obama kemudian mulai masuk gelanggang politik AS sedari 1996. Ia terpilih sebagai senator dari Illinois.
Posisinya sebagai senator kemudian membawa namanya melejit. Obama banyak berbicara terkait peningkatan hajat hidup rakyat AS. Ia jadi ikon perlawanan terhadap rasisme. Istimewanya Obama tak melulu populer di kalangan kaum kulit hitam saja. Ia populer pula dalam lingkup kaum kulit putih.
Belakangan partainya, Partai Demokrat kemudian menjagokan obama ikut Pilpres AS 2008. Obama kemudian dipasangkan dengan Senator dari Delaware, Joe Biden. Hasilnya, rakyat AS kepincut dengan Obama.
Karismanya dikagumi di mana-mana. Obama pun diprediksi menang. Apalagi, lawan Obama dari Partai Republik hanya John McCain dan Sarah Palin.
“Kepada wartawan, ia mengatakan yang pertama dilakukan setelah menjadi senator adalah mempelajari bagaimana lembaga itu bekerja, bagaimana membuka keran di wastafel, serta bagaimana menggunakan telepon di sana. Inilah strategi mengenal lingkungan terdekat.”
“Dengan strategi ini ia menancapkan pengaruhnya di Illinois. Seperti bebek sawah yang terus mengitari sawah yang ia kenal, Obama mengetuk dari satu pintu ke pintu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, hingga akhirnya ia merebut para pemilih di seluruh Amerika. Ia menjadi Presiden Amerika pada usia muda: 47 tahun,” ujar Yos Rizal dan kawan-kawan dalam majalah Tempo berjudulSang Presiden dari Menteng Dalam(2008).
BACA JUGA:
Obama pun menang dalam Pilpres AS 2008, sebagaimana yang sudah diramal oleh banyak orang AS. Obama mendapatkan suara sebanyak 52,9 persen, sedang John McCain mendapatkan 45,7 persen. Hasilnya Obama jadi mencatatkan sejarah baru.
Ia menjadi Presiden AS terpilih dari kaum kulit hitam pertama. Peristiwa bersejarah pun disaksikan dunia pada 20 Januari 2009. Obama dilantik secara resmi sebagai Presiden AS ke-44 di depan Gedung Capitol. Peristiwa itu disambut dengan gegap gempita dan dianggap bak kemenangan AS lawan rasisme.
Rakyat AS berharap banyak kepada Obama. Mereka menganggap kehadiran Obama akan membawa angin perubahan di AS, dari urusan krisis ekonomi hingga reformasi layanan kesehatan.
“Mulai hari ini, kita harus bangkit, membersihkan diri dari debu dan memulai kembali pekerjaan membangun kembali Amerika," ujar Obama sebagaimana dikutip lamanThe Guardian, 20 Januari 2009.