JAKARTA – Sejarah hari ini, enam tahun yang lalu, 6 September 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pabrik mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah. Peresmian itu dianggap sebagai bukti keseriusan Jokowi jadikan Esemka sebagai mobil nasional. Sekalipun diragukan banyak pihak.
Sebelumnya, kehadiran mobil Esemka buatan Sukiyat dan anak SMK Solo membawa kehebohan. Jokowi pun segera menawarkan diri sebagai duta mobil Esemka. Mobil itu nyatanya tak hanya dibawa uji emisi. Kendaraan itu jadi alat politiknya.
Semasa jadi Wali Kota Solo era 2005-2012, Jokowi dikenal pro rakyat. Segala macam kemajuan dari warga Solo didukung penuh olehnya. Ambil contoh kala pemilik bengkel Kiat Motor, Sukiyat mendampingi siswa SMK berhasil membuat mobil.
Mereka pun menamakan mobil itu dengan Esemka. Jokowi pun kepincut. Jokowi langsung menjadikan mobil Esemka Rajawali R2 sebagai kendaraan dinas Wali Kota Solo pada 2012. Kondisi itu membuat Jokowi mendapatkan banyak sorotan kamera.
Nama Jokowi terangkat secara nasional. Apalagi, Jokowi punya keinginan untuk mendorong Esemka dipasarkan secara massal. Paling tidak ke depan Esemka punya peluang jadi mobil nasional. Kondisi itu membuat Jokowi membawa mobil Esemka dari Solo ke Tangerang untuk uji emisi pada 2012.
BACA JUGA:
Media yang meliput bejibun. Esemka boleh tak lolos uji emisi. Namun, Esemka justru berhasil jadi kendaraan politik Jokowi. Esemka mampu meningkat popularitas Jokowi dari pemimpin Solo ke pemimpin nasional.
Jokowi mampu naik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jokowi pun mampu meraih jabatan sebagai Presiden Indonesia. Alhasil, Jokowi dan Esemka jadi dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sekalipun kemudian Esemka jadi mobil gaib – hampir tak pernah kelihatan di jalanan, kecuali tahun politik.
“Istilah mobil Esemka, diakui atau tidak, memang menjadi kendaraan kampanye citra keberpihakan yang melaju dari Solo ke Jakarta, dari pentas politik lokal ke arena politik nasional. Sukses menaiki popularitas mobil Esemka, media mulai membuka situs-situs kebaikan Jokowi dalam memerintah kota Solo.”
“Terutama dalam dua hal: penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dilakukan secara damai, tanpa kekerasan oleh aparat pemerintah daerah Solo dan revitalisasi pasar tradisional menjadi lebih bersih dan bersahabat untuk masyarakat kecil. Kemudian kosakata ‘pasar tradisional’ dan ‘kaki lima’ menjadi viral di media sosial dan membawa citra penunggang mobil Esemka meraih popularitas di kalangan masyarakat menengah ke bawah,” terang Dadang S. Anshori dalam buku Bahasa Rezim: Cermin Bahasa dalam Kekuasaan (2020).
Jokowi pun gerah dianggap tak serius mengembangkan Esemka. Ia ingin Esemka diperhitungkan secara serius di Indonesia. Pembuktian itu dilakukan dengan meresmikan pabrik Esemka di Boyolali pada 6 September 2019.
Pabrik itu dikelola oleh PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) yang berperan sebagai pemegang lisensi mereka. Pabrik berdiri di atas lahan 115 ribu meter persegi. Pabrik itu juga jadi tempat proses produksi Esemka dari perakitan, pengecatan, hingga pengetesan.
"Banyak yang bertanya kenapa saya mau meresmikan pabrik Esemka ini. Ya karena saya ingin mendukung pengembangan industri otomotif nasional. Mendukung merek lokal, mendukung merek nasional. Itu saja jawabannya," ujar Jokowi sebagaimana dikutip laman CNN Indonesia, 6 September 2019.