Bagikan:

JAKARTA - Hidup sebagai guru bumiputra di era Hindia Belanda tak mudah. Soekemi Sosrodihardjo pernah merasakannya. Ayah dari tokoh bangsa, Soekarno itu jadi saksi kehidupan guru bumiputra yang kurang sejahtera – jika tak mau dikatakan melarat.

Gajinya untuk mencerdaskan anak bangsa tak seberapa. Kebanyakan habis untuk sewa rumah. Beda dengan guru Eropa yang digaji besar. Namun, Soekemi ogah menyerah. Ia bangga jadi guru. Ia berjuang keras supaya anaknya bisa menempuh pendidikan tinggi dan berhasil.

Penjajah Belanda kerap menganggap rendah kaum bumiputra. Hajat hidup kaum bumiputra tak pernah dipikirkan. Empunya kuasa bahkan jadikan kaum bumiputra sebagai warga negara kelas tiga – kalah dengan etnis China dan orang Eropa.

Perbedaan perlakuan sudah pasti terjadi. Tiada keadilan dalam semua lini kehidupan. Ambil contoh pekerjaan sebagai guru bumiputra. Guru bumiputra dan guru Eropa punya kehidupan yang berbeda jauh.

Guru Eropa sejahtera, guru bumiputra justru nelangsa. Gajinya mereka tak pernah sama. Kondisi itu dirasakan sendiri oleh anak priayi rendahan Soekemi Sosrodihardjo. Pria kelahiran Wirosari, 15 Juni 1873 itu dengan bangga memilih karier sebagai guru. Otaknya encer. Cerdas pula.

Potret kala Bung karno datang ke keluarga besarnya di Blitar setelah lulus dari Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1926 -- Ayahnya, Soekemi dan ibunya Ida Ayu berada di tengah. (Wikimedia Commons)

Soekemi pun mantap masuk sekolah guru bumiputra (Kweekschool) di Probolinggo dan lulus. Narasi itu membuat Soekemi punya misi mencerdaskan kaum bumiputra. Ia pernah berkerja sebagai guru di beberapa tempat di Jawa Timur.

Ia pernah pula ditempatkan di Singaraja, Bali. Sesuatu penempatan yang membuat Soekemi berjumpa pujaan hatinya, Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya mulai menikmati hidup berdua. Namun, kehidupan tak selalu menawarkan kemudahan.

Gaji seorang guru tak seberapa, sementara beban hidup terus bertambah. Kehidupan mereka kian berat dengan lahirnya dua orang anak: Soekarmini (Ibu Wardoyo) dan Soekarno – dulu pernah dinamakan Kusno.

Soekemi menghidupi keluarganya dengan gaji yang hanya mencapai 25 gulden per bulan. Jumlah itu tak cukup menutupi semua kebutuhan hidup Soekemi dan keluarganya.

“Aku dilahirkan di tengah‐tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari keran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih.”

“Dengan kakakku perempuan Sukarmini, yang dua tahun lebih tua daripadaku, kami merupakan suatu keluarga yang terdiri dari empat orang. Gaji bapak 25 gulden sebulan. Dikurangi sewa rumah kami di Jalan Pahlawan 88, neraca menjadi 15 gulden dan dengan perbandingan kurs pemerintah 3,60 gulden untuk satu dolar dapatlah dikira‐kira betapa rendahnya tingkat penghidupan keluarga kami,” ungkap Soekarno sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2019).

Berjuang Besarkan Soekarno

Ia dan keluarganya pernah hidup di daerah yang melarat di Mojokerto. Kondisi itu membuat kesedihan yang mereka rasakan hampir dirasakan satu kampung. Tiada hal yang bisa dibanggakan. Soekemi sampai pernah kesulitan membeli beras. Kondisi itu membuat mereka banyak makan ubi kayu hingga jagung tumbuk.

Segala macam kesulitan hidup memang berat dijalani. Namun, Soekemi bukan orang yang cepat menyerah. Ia justru dapat melihat jauh ke depan terkait masa depan anak-anaknya. Utamanya, Soekarno. Ia selalu mengusahakan pendidikan terbaik untuk Bung Karno.

Uang memang sulit didapat, tapi bukan berarti Soekemi kesulitan mendapatkan relasi. Ia tergabung dengan kelompok theosofi di Surabaya. Temannya dari kaum intelektual bejibun. Kelompok itulah yang banyak memberikan bantuan kepada Soekemi.

Bahkan, perpustakaan kelompok theosofi jadi arena bermain Soekarno menjelajahi banyak pemikiran tokoh besar dunia lewat buku. Soekemi tak lupa memasukan Soekarno ke sekolah terbaik di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya.

Sekolah itu yang mampu membangkitkan kepakaan Bung Karno terkait buruknya penjajahan. Perjuangan Soekemi juga dilirik kala membawa Bung karno bisa berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini: Institut Teknologi Bandung) dan jadi insinyur teknik sipil.

Soekemi memang tak hadir saat anaknya di wisuda. Namun, keberhasilan Soekarno jadi sarjana jadi bukti bahwa guru melarat bisa menyekolahkan anaknya ke pendidikan lebih tinggi. Belakangan Bung Karno kala jadi pemimpin tak pernah melupakan jasa orang tua dan guru-gurunya.

“Dalam percakapan dengan teman-teman, ia ulang pernyataan rektor sekolahnya, Profesor Klopper, sewaktu suamiku menerima ijazah. Ir. Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu pada satu saat. la tidak kekal. Ingatlah, satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter seseorang. la akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati,” ujar istri Soekarno, Inggit Garnasih sebagaimana ditulis Ramadhan K.H. dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang (2014).