JAKARTA - Sejarah ditulis penguasa bukan pepesan kosong belaka. Narasi itu terjadi di Filipina. Kemenangan Ferdinand ‘Bongbong’ Marcos Jr sebagai Presiden Filipina mengubah segalanya. Ia bak merevisi citra negatif ayahnya, Ferdinand Marcos semasa menjabat era 1965-1986 dari diktator hingga koruptor.
Ia seraya menancapkan ilusi bahwa ayahnya punya kontribusi besar bagi Filipina. Bongbong menyanjung ayahnya seperti seorang pahlawan Filipina. Bongbong juga jadikan hari lahir ayahnya sebagai libur khusus di Filipina. Suatu peringatan atas jasa baik Marcos.
Kelamnya sejarah Filipina hadir pada masa pemerintahan Ferdinand Marcos. Presiden Filipina era 1965-1985 digambarkan seraya musuh bersama rakyat. Gambaran tentang keburukannya bejibun. Ia memerintah dengan represif. Banyak aktivis mati. Ia juga korup bukan main.
Keluarganya saja kerap berpesta di tengah kesulitan hidup yang dialami rakyat Filipina. Eksistensi Marcos baru berakhir kala rakyat Filipina geram dan menumbangkan rezim Marcos lewat jalur revolusi. Revolusi itu membuat Marcos dan keluarganya kabur ke Hawaii.
Belakangan keluarga Marcos kembali ke Filipina di era 1980-an. Keluarga Marcos seraya membenarkan ingatan rakyat Filipina pendek. Kondisi itu dibuktikan dengan penerimaan rakyat Filipina kepada keluarga Sang Diktator.
Celah itu dimanfaatkan benar keluarga Marcos. Anaknya Marcos, Bongbong mampu masuk dunia politik Filipina. Bahkan, bukan melulu jadi politikus biasa. Bongbong mampu menjelma jadi politikus populer. Ambisinya jadi pemimpin Filipina seperti ayahnya tak pernah padam.
Puncaknya, Ia jadi calon kuat Presiden Filipina di masa depan. Ia segera berpasangan dengan anak penguasa Filipina lainnya Sara Duterte pada Pilpres Filipina 2022. Marcos yakin langkahnya mengambil pasangan dari anak Presiden Filipina, Rodrigo Duterte bawa kemunjuran dan benar.
Ia pun mulai mengemas kampanye populer. Ia juga mulai membelokkan sejarah dengan kekuatan buzer-buzer politik yang menyerang ke berbagai media sosial dan aplikasi populer. Aksi itu bawa keuntungan besar.
Bongbong mendapatkan simpati rakyat – utamanya dari anak muda yang tak hidup di masa ayahnya jadi pemimpin Filipina. Ia bak menciptakan ilusi kekuasaan ayahnya penuh dengan prestasi besar.
“Anak muda tidak memiliki pengalaman, ingatan, atau pengetahuan apa pun tentang rezim Marcos. Kondisi itu melegitimasi bahwa generasi Milenial dan Gen Z tampaknya menjadi penggerak utama dukungan terhadap Bongbong Marcos di media sosial. Perusahaan survei Pulse Asia juga menemukan bahwa 72 persen pemilih terdaftar berusia 18-24 tahun mendukung Marcos,” ujar Ella Hermonio dan Chad de Guzman dalam tulisannya di laman TIME berjudul A Dictator’s Son Rewrites History on TikTok in His Bid to Become the Philippines’ Next President (2022).
Merayakan Hidup Ferdinand Marcos
Bongbong memang pintar merebut hati rakyat Filipina. Buktinya ia mampu menang dalam Pilpres Filipina 2022. Kemenangan disambut dengan suka cita. Bahkan, pidato pertamanya sebagai Presiden Filipina langsung kepada poin pemerintahan ayahnya terdahulu banyak prestasi.
Ia menyangkal bahwa masa pemerintahan ayahnya buruk. Keburukan itu dianggapnya hanya berasal lontaran dan fitnah lawan politik. Bongbong seraya menulis kembali sejarah ayahnya. Ia ingin rakyat Filipina kemudian mengenal mengenal ayahnya sebagai sosok besar.
Agenda Bongbong berikut adalah mencoba memaksa hari lahir ayahnya, 11 September diperingati. Keinginan itu sudah hadir sejak ia menjabat sebagai Presiden Filipina. Peringatan hari lahir ayahnya kemudian dimajukan satu hari tanggal 12 September dan diresmikan pada 11 September 2022.
BACA JUGA:
Artinya, tiap tanggal 12 September di Provinsi Ilocos Norte berlaku libur khusus. Hal itu dituangkan dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 53. Ia menganggap rakyat Filipina di Ilocos Norte sudah sepantasnya mendapatkan libur khusus tiap tanggal 12 September.
Ia yakin warga Ilocos Norte sudah jadi pendukung ayahnya bertahun. Alih-alih mendapatkan dukungan luas, keputusan Bongbong mendapatkan penolakan dari mana-mana. Apalagi, Bongbong sebelumnya juga menghapus Hari peringatan People Power, atau hari lengsernya Ferdinand Marcos tiap tanggal 25 Februari.
"Ini penghinaan terhadap sejarah Filipina dan rakyat Filipina. Bongbong secara terang-terangan berusaha mencuci tangan keluarganya yang bergelimang darah saudara setanah air," ujar aktivis yang ikut melengserkan Ferdinand Marcos pada 1985, Bonifacio Ilagan sebagaimana dikutip laman kompas.id, 11 September 2022.