JAKARTA – Memori hari ini, tiga tahun yang lalu, 12 Juli 2022, Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin menegaskan Indonesia sedang kekurangan 160 ribu dokter. Pandangan itu diungkapnya merujuk kepada standar organisasi kesehatan dunia, WHO yang tegaskan rasio dokter seharusnya satu per 1.000 populasi.
Sebelumnya, pemerataan SDM kesehatan Indonesia jadi masalah yang tak pernah usai. Ketersediaan tenaga kesehatan hanya terfokus di kota besar, sedang di desa kekurangan. Narasi itu membuat pelayanan kesehatan tak optimal.
Pandemi COVID-19 dapat jadi ajang melihat kekacauan sistem pelayanan kesehatan. Urusan tidak meratanya SDM kesehatan dapat terlihat dengan mudah kala virus korona mewabah. Cara paling mudah melihatnya adalah melihat perbedaan penanganan antara kota dan desa.
Kota lazimnya cepat tanggap. Sedang desa penanganan virus korona bak tak berdenyut. Kondisi itu membuat penangan virus dari Wuhan tak pernah maksimal. Keseriusan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona jadi pertanyaan.
Penyebaran tenaga kesehatan antara kota dan kota lainnya atau dengan desa belum seimbang. Kadang juga suatu kota dengan rumah sakit melimpah. Ada juga kota dengan rumah sakit yang terbatas. Alih-alih penyebaran dokternya diperbanyak, nyatanya dokter yang ada cukup terbatas.
BACA JUGA:
Ambil contoh di bagian timur Indonesia. Kondisi di sana sungguh jauh dari harapan. Dokternya terbatas. Begitu pula dengan fasilitas kesehatan. Kondisi itu membuat pemerintah Indonesia harus bekerja keras melakukan pemerataan.
Jika hal tak dilakukan narasi yang sama dengan semrawutnya penanganan COVID-19 akan terjadi lagi. Mereka yang di kota besar dapat pelayanan. Sedang mereka yang berada di desa sulit mengakses fasilitas kesehatan.
"Pemerataan SDM kesehatan di Indonesia masih dalam jumlah pemerataan SDM yang terbatas. Dengan tingkat kelulusan dokter 12 ribu per tahun maka perlu dibutuhkan 10 tahun untuk memenuhi rasio dokter/populasi setara dengan Asia karena sekarang kebutuhannya kira-kira 140 ribu.”
"Selanjutnya 158 atau 25,08 persen RSUD kabupaten/kota belum terpenuhi dengan tujuh dokter spesialis. Dan rasio dokter 0,67 per 1.000 penduduk Indonesia masih rendah dan dokter spesialis 0,5 per 1.000 penduduk juga masih rendah," ungkap Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono sebagaimana dikutip laman Media Indonesia, 18 Desember 2021.
Urusan kekurangan dokter jadi masalah besar bagi Indonesia. Masalah itu diamini langsung oleh Menkes, Budi Gunadi Sadikin. Budi sendiri mengakui jika Indonesia kini kekurangan 160 ribu dokter pada 12 Juli 2022.
Kekurangan itu dikalkulasi oleh Budi melihat standar WHO yang menegaskan rasio dokter harus satu per 1.000 populasi. Dokter yang ada sekarang ini mencapai 110 ribu orang. Artinya jika penduduk Indonesia mencapai 270 juta, maka Indonesia total harus punya dokter 270 ribu orang.
"Supaya membuat manusia sehat, kata WHO saya butuh 1 per 1.000 populasi dokter atau 270.000 (dokter). Saya tanya dinkes, angkanya keluar 110.000 (jumlah dokter yang ada saat ini). Kalau standar WHO jumlahnya 270.000, berarti kurangnya 160.000 dokter.”
"RSUD itu harus ada tujuh dokter spesialis standarnya. Kalau ikutin itu standarnya, kurangnya 2.200-an (dokter).Tapi kalau RSUD besar, misal (dokter) penyakit dalamnya butuh dua, (kebutuhannya) naik jadi 4.437 dokter spesialis. Ini baru dari nominal saja," ujar Budi sebagaimana dikutip laman kompas.com, 12 Juli 2022.