Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 13 tahun yang lalu, 13 Juli 2012, mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla (JK) memuji kemenangan Joko Widodo (Jokowi) – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2012. Kemenangan itu dianggapnya sebagai bukti warga Jakarta ingin pemimpin yang bersih.

Sebelumnya, kemunculan Jokowi-Ahok jadi harapan bagi warga Jakarta. Keduanya dianggap jawaban penting untuk semua masalah Kota Jakarta. Semuanya karena Kota Jakarta butuh pemimpin yang bersih dan mengerti masalah warganya.

Tiada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang paling dinanti selain Pilkada DKI Jakarta. Citra Jakarta yang kerap kena sorotan media massa jadi muaranya. Narasi itu membuat siapa yang memimpin Jakarta jadi sosok populer.

Kondisi itu dibuktikan dengan kemunculan pasangan Jokowi-Ahok yang diusung PDIP dan Gerindra di Pilkada DKI Jakata 2012. Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta itu langsung jadi populer di mata rakyat Indonesia. Padahal, baru sebatas mencalonkan saja.

Semuanya karena gerak gerik Jokowi yang kerap melangsung agenda blusukan. Wali Kota Solo dua periode (2005-2012) itu dianggap sosok yang merakyat dan sederhana. Ia mau terjun ke kampung hingga pasar di berbagai wilayah Jakarta.

Jusuf Kalla yang pernah jadi Wakil Presiden Indonesia era 2004-2009. (ANTARA)

Ia mencoba mencari tahu masalah masyarakat. Semua dilakukan supaya ia meramu kebijakan yang tepat untuk setiap masalah warga Jakarta di masa depan. Ahok pun punya cara sendiri mendekati warga Jakarta.

Bupati Belitung Timur era 2005-2006 itu mencoba menyebarkan beberapa nomornya untuk keluhan warga DKI Jakarta. Nomor itu jadi sarana pengaduan warga Jakarta.

Narasi itu membuat Jokowi-Ahok penantang yang tepat bagi Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Hasilnya gemilang. Jokowi-Ahok mampu merebut panggung Ibu Kota.

Semua kerja keras tim pemenangan Jokowi Ahok pun terbalas di putaran pertama yang berlangsung pada 11 Juli 2012. Jokowi-Ahok unggul dari lima kandidat lainnya yang bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta. Jokowi-Ahok kemudian menantang Foke-Nara di putaran kedua yang akan berlangsung pada September 2012.

“Jokowi dan Basuki barangkali memunculkan harapan bagi penduduk Jakarta: mereka akan memimpin Ibu Kota dengan lebih manusiawi. Ketika memimpin Kota Solo, Jokowi dikenal sangat humanis.”

“Ia, misalnya, meminta Satuan Polisi Pamong Praja 'mengandangkan' pentungan dan pistol mereka. Jokowi juga mampu memindahkan kawasan pedagang pasar tanpa gejolak. Ketika menjadi Bupati Belitung Timur, Provinsi Bangka-Belitung, Basuki juga cukup membumi,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Gubernur Baru Jakarta Lama (2012).

Kemenangan Jokowi-Ahok putaran pertama disambut dengan gegap gempita. Banyak polikus nasional yang ikut bangga dengan kemenangan Jokowi-Ahok. Beberapa di antara tak lupa melemparkan pujian.

JK, misalnya. Ia memuji kemenangan Jokowi-Ahok putaran pertama pada 13 Juli 2012. Ia menanggap kemenangan itu jadi bukti track record keduanya mampu menarik dukungan. Jokowi-Ahok muncul jadi sosok yang bersih.

Keduanya dianggap tak memilih masalah besar di dengan jabatan yang terdahulu. Sederet hal itu jadi amunisi penting Jokowi-Ahok. Bahkan, JK yakin keduanya akan mampu jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih pada putaran dua di September nanti.

"Orang sekarang lebih memilih track record dibanding janji, karena banyak calon berjanji, itu dahulu-dahulu tapi tidak melaksanakannya, sehingga masyarakat cenderung untuk tidak lagi percaya pada janji, tapi lebih percaya pada track record. Jokowi dan Basuki itu hampir tidak ada isu negatifnya, korupsi, moral, clean gitu ya,” ujar JK sebagaimana dikutip laman tribunnews, 13 Juli 2012.