JAKARTA – Sejarah hari ini, 13 tahun yang lalu, 26 Juni 2012, mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri geram dengan aksi Malaysia klaim tari Tortor dan Gordang Sambilan sebagai budayanya. Megawati menyerukan pemerintah total lawan Malaysia. Bila perlu bertengkar – berantem sekalian.
Sebelumnya, Malaysia dikenal sebagai tukang klaim budaya Indonesia. Aksi terbarunya adalah klaim atas tari Tortor dan Gordang Sambilan dari Sumatra Utara. Klaim itu memunculkan kecaman dari segenap rakyat Indonesia.
Segenap rakyat Indonesia tak pernah lupa dengan citra Malaysia sebagai negara tukang klaim budaya. Kondisi itu karena Negeri Jiran kerap mengklaim budaya Indoensia. Mereka menganggap Indonesia yang notabene rumpun Melayu sudah tentu menghasilkan budaya yang sama.
Kondisi itu membuat mereka sembarang saja mengklaim seni budaya Indonesia macam batik, keris, tari pendet, ulos, hingga gamelan. Aksi klaim Malaysia tak berhenti. Aksi klaim mereka yang terbaru adalah tari Tortor dan kesenian Gordang Sambilan dari Sumatra Utara.
Kesenian itu ingin diabadikan Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Malaysia disebut-sebut bakal memasukan kedua tarian ke dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005. Suatu akta yang menegaskan budaya-budaya milik Malaysia.
Keinginan itu membawa masalah besar. Seisi Indonesia tak terima. Kecaman muncul dari mana-mana. Citra Malaysia sebagai tukang klaim budaya mengudara. Politikus nasional satu demi satu ikut mengecam.
Mereka meminta pemerintah Indonesia ambil sikap. Tujuannya supaya klaim budaya tak terjadi di masa yang akan datang. Namun, kemarahan rakyat Indonesia segera direspons pemerintah Malaysia pada 19 Juni 2012.
Mereka kemudian mengundang para wakil rakyat untuk mengklarifikasi urusan klaim tari Tortor dan Gordang Sambilan. Pihak Malaysia meyakini bahwa klaim itu hanya salah paham. Malaysia sebetas melakukan pencatatan budaya dari suku bangsa Mandailing di Malaysia.
"Malaysia mengaku terjadi kesalahpahaman. Bukan diklaim sebagai budaya negara itu tetapi hanya usulan pencatatan terhadap warisan budaya yang dimiliki komunitas Mandailing di Malaysia, dimana budaya itu merupakan dari Sumatera Utara," ujar anggota DPR utusan Sumut, Parlindungan Purba sebagaimana dikutip laman inilah.com, 19 Juni 2012.
Permintaan maaf Malaysia dianggap tak cukup. Megawati Soekarnoputri sampai angkat bicara. Ia menganggap kebiasaan buruk klaim budaya Malaysia akan terus berlanjut. Pemerintah diminta ambil tindakan tegas.
BACA JUGA:
Megawati bahkan menegaskan pemerintah harus cekatan pada 26 Juni 2012. Bila perlu sampai bertengkar – berantem dengan Malaysia. Narasi itu supaya kejadian serupa tak lagi terulang.
Megawati pun menyayangkan pemerintah yang ogah mematenkan banyak budaya Indonesia. Akhirnya, kala ada yang klaim dari negara lain, baru pusing sendiri.
"Jangan ngomong saja. Kerja dong. Kalau mau berantem, ya, kita berantem (dengan Malaysia). Dicolong Malaysia, baru kita ngamuk. Tidak dari awal (dipatenkan)," ujar Megawati sebagai dikutip lawan tempo.co, 26 Juni 2012.