JAKARTA – Sejarah hari ini, 15 tahun yang lalu, 24 Juni 2010, Julia Gillard resmi dilantik sebagai Perdana Menteri (PM) Australia yang baru. Pelantikan itu menegaskan bahwa Australia secara resmi memiliki PM wanita pertama dalam sejarah.
Sebelumnya, Julia dikenal sebagai aktivitis mahasiswa. Posisi itu membuatnya peka urusan kelas pekerja – buruh. Ia lalu jadi pengacara dan membela hak-hak buruh. Ia kemudian banting setir dari pengacara jadi politikus supaya ketidakadilan musnah dari Australia.
Tiada yang meragukan bangku kuliah dapat menumbuhkan kepekaan terhadap masalah sosial. Kondisi itu hadir dalam hidup Julia Gillard di Australia. Wanita kelahiran Barry, Inggris, 29 September 1961 itu memilih mengambil hukum di Universitas Adelaide.
Masa kuliah itu membuatnya peka terhadap lingkungan sekitar. Ia bergabung dengan klub buruh -- kemudian jadi aktivis mahasiswa. Ia mahasiswa kiri yang terkenal vokal. Kondisi itu membuatnya cepat populer.
Julia pun akhirnya menyelesaikan pendidikan hukum pada 1986. Ia memilih untuk menjalani kehidupan sebagai pengacara. Profesi itu justru tak membuatnya melupakan kaum buruh. Ia terus bergerak membela kaum buruh.
Belakangan ia memilih banting stir dari pengacara ke politikus. Ia mencoba berjuang bersama Partai Buruh untuk bisa duduk di parlemen Australia. Perjuangannya tak mudah. Ia harus bersaing dengan tokoh-tokoh politik besar.
Ia berkali-kali gagal. Namun, perjuangan itu akhirnya terbalaskan pada 1998. Ia masuk parlemen. Ia mulai menyuarakan hak-hak kaum buruh. Ia juga mulai jadi orang penting di Partai Buruh. Kondisi itu dibuktikan dengan ia mampu terpilih sebagai Wakil PM pada 2007.
Kepemimpinan Julia mendapatkan sambutan yang meriah. Rakyat Australia menilai kebijakannya punya dampak besar di masa depan.
“Julia dilantik sebagai wakil perdana menteri pada bulan Desember 2007 – wanita pertama yang menduduki jabatan tersebut. Rudd memberinya tanggung jawab atas portofolio besar ketenagakerjaan, pendidikan, dan hubungan di tempat kerja.”
“Gillard dianggap telah membongkar kinerja buruk rezim pemerintahan sebelumnya dan menggantinya dengan Undang-Undang Pekerjaan yang Adil. Ia harus menyeimbangkan tuntutan serikat pekerja untuk memperkenalkan lebih banyak regulasi dan tuntutan pengusaha agar pendulum tidak berayun terlalu jauh,” ungkap Lenore Taylor dan kawan-kawan dalam tulisannya di The Guardian berjudul Julia Gillard: A Life in Politics (2013).
BACA JUGA:
Karier politiknya terus menanjak. Ia kemudian menjadi sosok pemimpin populer dari Partai Buruh. Julia bahkan diramalkan mampu menjadi PM Australia berikutnya. Narasi itu akhirnya kejadian. Kevin Rudd yang notabene tokoh Partai Buruh dan pemimpin Partai Buruh mengundurkan diri dari kepemimpinan.
Kondisi itu membuat Partai Buruh memilih Julia sebagai calon PM. Puncaknya, Partai Buruh memenangkan Pemilu 2010. Kondisi itu membuat Julia jadi PM Australia terpilih. Julia lalu dilantik di Government House, Australia pada 24 Juni 2010. Ia kemudian jadi PM wanita pertama dalam sejarah Australia.
"Saya pikir jika ada seorang gadis yang melihat layar TV selama beberapa hari ke depan dan berkata 'Wah, saya mungkin ingin melakukan itu di masa mendatang, itu hal yang baik. Saya sangat bahagia di rumah saya di Altona. Sangat bahagia di flat saya di Canberra.”
"Sesungguhnya, saya rasa sudah sepantasnya bagi saya untuk tetap di sana hingga kita menyelenggarakan pemilihan umum dan saya telah sepenuhnya memperoleh kepercayaan rakyat Australia untuk menjadi PM Australia,” ungkap Julia sebagaimana dikutip laman The Guardian, 24 Juni 2010.