JAKARTA – Memori hari ini, tiga tahun yang lalu, 23 Juni 2022, pernyataan mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad terkait Malaysia harus rebut Singapura dan Riau (Indonesia) bawa polemik. Ancaman hancurnya hubungan antara negara di depan mata.
Sebelumnya, Mahathir kian khawatir dengan maraknya wilayah Malaysia yang hilang. Ia mencontohkan Singapura dan Riau yang dulunya bagian dari Johor. Wilayah itu lepas karena pemerintah yang lemah. Ia pun minta pemerintah Malaysia rebut kembali Singapura dan Riau.
Mahathir Mohamad adalah politikus kawakan. Ia mendapat predikat sebagai salah satu PM Malaysia terbaik. Kondisi itu karena kepedulian Mahathir kepada nasib orang Malayu. Jika dulu bangsa Melayu sempat terpinggirkan, Mahathir datang mengangkat derajat mereka.
Kondisi itu ditunjukkan dalam dua periode kekuasaannya pada 1981-2003 dan 2018-2020. Namun, dukungan Mahathir kepada Malaysia tak lantas hilang kala ia sudah tak berkuasa lagi. Mahathir justru terus berisik dari luar kekuasaan.
Ia terus berisik ketika pemerintah Malaysia tak bekerja keras untuk rakyat. Ia mulai merasa bahwa Malaysia tak begitu peduli dengan wilayahnya. Mahathir takut jika di masa depan wilayah Malaysia juga diklaim oleh pihak luar.
Kekhawatiran itu diungkapnya lewat orasi politiknya dalam acara Kongres Survival Melayu di Selangor, Malaysia pada 19 Juni 2022. Ia menyayangkan rakyat Malaysia yang tak tahu wilayahnya perlahan-lahan dimiliki orang asing.
Banyak pula wilayah Malaysia yang jadi milik negara lain. Pulau Batu Puteh (Pedra Branca), misalnya. Pulau itu kemudian jadi milik Singapura sedari 2008. Mahathir juga membahas kembali bahwa dulu Singapura dan Riau secara historis juga termasuk bagian dari Johor.
Ia pun menuntut supaya pemerintah berani rebut kembali dua wilayah itu. Sekalipun Malaysia dianggapnya sudah tak berdaya. Bahkan, untuk urusan lainnya tiada beda.
“Seharusnya kita tidak hanya menuntut agar Pedra Branca, atau Pulau Batu Puteh, dikembalikan kepada kita, tetapi kita juga harus menuntut kembalinya Singapura dan Kepulauan Riau ke Malaysia sebagai tanah Melayu.”
"Saya bertanya-tanya apakah semenanjung ini akan terus kita miliki. Saya khawatir dengan masa depan orang Melayu, apakah tanah semenanjung juga akan dimiliki oleh pihak lain,” ujar Mahathir sebagaimana dikutip laman tempo.co, 19 Juni 2022.
BACA JUGA:
Klaim Mahathir yang menganggap Singapura dan Riau wilayah Malaysia memunculkan polemik. Pemerintah Indonesia dan Singapura sama-sama menolak klaim Mahathir, apalagi ingin merebut kedua wilayah. Klaimnya dianggap tak memiliki dasar hukum. Bahkan, rakyat di kedua negara ikut mengecam Mahathir.
Mahathir kemudian sadar penyataannya memunculkan gangguan besar. Ancaman hancurnya hubungan antar negara telah di depan mata. Mahathir pun segera meluruskan pernyataannya atas kegaduhan pada 23 Juni 2022.
Ia menyatakan pada dasarnya ia tak menginginkan Malaysia mengklaim kembali wilayah yang telah hilang. Ia hanya ingin menunjukkan kepada rakyat Malaysia bahwa wilayah negara yang saat ini harus benar-benar dijaga supaya tak hilang seperti Singapura dan Riau.
"Saya tidak meminta Malaysia untuk mengklaim tanah yang telah kami hilangkan. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa kami sangat khawatir kehilangan batu seukuran meja, tetapi tidak pernah tentang bagian yang lebih besar dari Malaysia, ketika mereka diambil dari kami," ujar Mahathir dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip laman Tempo.co, 23 Juni 2022.