JAKARTA – Sejarah hari ini, 10 tahun yang lalu, 5 Juni 2015, polisi Malaysia paksa Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad yang sedang berpidato mengkritik pemerintah berhenti. Mahathir dianggap membuat gaduh karena materi pidato menjelekkan pemerintah yang jadi kacung negara lain.
Sebelumnya, Mahathir telah membangun citra sebagai PM terbaik yang pernah memimpin Malaysia. Ia menggelorakan pembangunan di mana-mana. Ia juga yang berjuang menaikkan hajat hidup orang Melayu.
Mahathir Mohamad adalah tokoh politik yang tak bisa dianggap remeh dalam sejarah perjalanan bangsa Malaysia. Kiprahnya membawa Malaysia maju dan berkembang tiada dua. Jejak kariernya di dunia politik mentereng. Ia mampu menjabat sebagai PM sedari 1981.
Kehadiran Mahathir jadi pemimpin Malaysia disambut dengan gegap gempita. Mahathir dianggap bisa membawa perubahan. Mahathir pun dielu-elukan akan menaikkan hajat hidup kaum Melayu. Keinginan itu berbalas. Mahathir mengedepankan kaum Melayu.
Kondisi itu diperlihatkannya dalam kebijakan-kebijakannya. Mahathir bahkan mencoba membangun pusat pemerintahan baru yang kemudian dikenal sebagai Putrajaya. Pusat pemerintahan itu sengaja dibangun sebagai suatu bentuk identitas bahwa Malaysia bercorak Melayu.
Pembangunannya itu memang mendapatkan kritik dari sana-sini. Mahathir dianggap melakukan pemborosan. Namun, Mahathir tak ambil pusing. Ia terus saja membangun. Sekalipun secara senyap. Pembangunan bahkan terus berlangsung walau Malaysia sendiri diterpa krisis ekonomi pada era 1998.
Istimewanya Mahathir mampu membawa Malaysia lolos dari krisis. Kehebatannya pun terus diperbincangkan. Apalagi, ia adalah otak utama dari hadirnya berbagai macam megaproyek di Malaysia. Suatu proyek yang hasil jadi penanda penting kemajuan Malaysia.
“Kota yang rapi dan terorganisir ini menjadi puncak pencapaian PM Mahathir, sebuah warisan setelah 18 tahun berkuasa. Lokasi kota baru ini memiliki arti penting bagi Mahathir. Beliaulah yang membantu mengubah Malaysia dari negara yang bergantung pada komoditas – minyak sawit, karet, dan timah.”
“Malaysia di bawahnya menjadi negara dengan salah satu perekonomian paling terdiversifikasi dan dinamis di Asia. PM Mahathir juga meresmikan daftar panjang mega proyek: di antaranya bandara internasional Kuala Lumpur dan Menara Petronas,” tulis Thomas Fuller dalam tulisannya di surat kabar The New York Times berjudul Malaysia Shy About Cost as a Grand New City Arises (1999).
Mahathir turun dari kursinya sebagai PM Malaysia pada 2003. Namun, bukan berarti ia langsung memilih menepi dari dunia politik Malaysia. Mahathir tetap mengamati situasi perpolitikan di Negeri Jiran. Barang siapa pemimpin yang punya kebijakan buruk dikritiknya.
BACA JUGA:
Kritik yang paling dikenal muncul dalam mimbar forum 1 Malaysia Development Berhad (1MDB), di Putra World Trade Center, Malaysia pada 5 Juni 2015. Mahathir mendapatkan kesempatan untuk berpidato.
Alih-alih memuji pemerintahan Najib Razak, Mahathir justru mengkritik kebijakannya. Mahathir melihat Malaysia bak kembali terjajah. Kondisi itu karena Najib sendiri dianggap seraya kacung dari negara seperti Singapura dan Amerika Serikat (AS). Malaysia tak lagi berdiri di atas kaki sendiri.
Najib selalu tak dapat menolak keinginan kedua negara. Suatu hal yang membuat rakyat Malaysia rugi banyak. Isi pidato sensitif itu membuat polisi Malaysia segera memaksa menghentikan Mahathir yang sedang berpidato. Aksi polisi itu mendapatkan kecaman dari dalam dan luar negeri.
"Saya datang ke sini hari ini untuk berbicara tentang sesuatu yang hilang, milik kita semua. Dia terlalu tunduk kepada Singapura, dia terlalu tunduk kepada Amerika. Jadi apakah negara kita ini sudah merdeka? Ataukah masih dijajah? Saya melihat negara kita masih dijajah," ujar Mahathir sebagaimana dikutip laman tempo.co, 5 Juni 2015.