JAKARTA – Sejarah hari ini, tujuh tahun yang lalu, 16 Mei 2018, tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim bebas dari penjara. Kebebasannya dianggap segenap rakyat Malaysia sebagai angin perubahan. Kebebasan Anwar diyakini dapat memusnahkan segala macam ketidakadilan di Malaysia.
Sebelumnya, Anwar dikenal luas sebagai politikus paling berisik di Malaysia. Ia kerap berisik di dalam maupun di luar gelanggang politik Malaysia. Kondisi itu membuatnya kerap dibenci pemerintah. Anwar dituduh terlibat korupsi dan sodomi.
Karier politik Anwar Ibrahim penuh liku. Ia memulai kariernya dengan bergabung dengan partai berkuasa, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO). Langkah dianggap sebagai terobosan. Ia jadi politisi pendatang baru yang menonjol.
Kondisi itu membuat Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad kepincut. Anwar segera menjalin hubungan mentor-murid dengan Mahathir. Hasilnya, Mahathir menganggap Anwar layak menjadi Wakil PM Malaysia.
Ia diangkat sebagai PM pada 1993. Pengangkatan itu membuat cita-cita membangun Malaysia menggebu-gebu. Anwar ingin mengabdikan dirinya berjuang untuk kesejahteraan semua etnis di Malaysia. Rakyat Malaysia mendukung langkahnya.
BACA JUGA:
Posisi itu membuatnya kian populer. Bahkan, kepopulerannya bisa melampaui atasannya, Mahathir. Belakangan Anwar mulai merasa dirinya tak sejalan dengan Mahathir yang ingin terus berkuasa. Apalagi, kala Malaysia diterpa resesi ekonomi pada 1997-1998.
Konsekuensi besar terpaksa diterimanya karena terlalu berisik. Mahathir kemudian melengserkan Anwar dari kursi Wakil PM Malaysia pada 1998. Kemudian, Anwar dituduh melakukan korupsi dan sodomi.
“Bahkan, lebih malang lagi, pemerintah Malaysia gagal untuk tidak meninggalkan kesan bahwa aparat kekuasaannya, dalam hal ini polisi, bersih dari cara kekerasan terhadap tahanan. Anwar adalah seorang tokoh terkenal, dan nasibnya diikuti orang di seluruh dunia. Mahathir ternyata kecolongan dan tak bisa memperbaiki posisi ketika Anwar tampil di depan kamera dengan wajah bekas pukulan.”
“Tak mengherankan bila ditangkapnya Anwar telah menyatukan pelbagai kalangan politik Malaysia yang tak senang dengan keadaan, yang merasa tersinggung rasa keadilan dan akal sehat mereka--dan mulai merasa bahwa 17 tahun terlalu lama untuk seorang PM berkuasa. Singkatnya, Anwar memang tak segera menang, dunia memang tak usah dipedulikan, tapi Mahathir sudah memulai kekalahannya sendiri,” tertulis dalam laporan majalah Tempo berjudul Dunia Menurut Dokter M (1998).
Anwar berhasil bebas pada 2004. Namun, kebebasan itu tak membuat Anwar berhenti melemparkan kritik kepada pemerintah di bawah kuasa PM Malaysia yang berbeda. Ia kembali jadi politisi yang paling berisik. Kondisi itu membuatnya kembali di Penjara pada 2015. Kasus sodomi pula jadi tuduhan.
Belakangan, kasus sodomi yang menimpa Anwar lagi-lagi sulit dibuktikan. Rakyat Malaysia menganggap Anwar kembali dizalimi. Namun, popularitas Anwar terus menggema ke mana-mana. Mahathir yang dulu pernah memenjarakan Anwar mulai mengubah pikiran.
Mahathir menganggap kehadiran Anwar kembali dalam peta politik Malaysia jadi keuntungan besar baginya. Keduanya berkoalisi dalam Pekatan Harapan dalam Pemilu Malaysia 2018. Alhasil, Pekatan Harapan menang. Mahathir yang jadi PM kali kedua lalu meminta kerajaan mengampuni Anwar.
Hasilnya Anwar bisa bebas dari penjara pada 16 Mei 2018. Kebebasan Anwar disambut dengan gegap gempita. Rakyat Malaysia menganggap pembebasan Anwar sebagai bentuk harapan baru dalam memajukan Malaysia.
"Dia adalah simbol kebebasan bagi rakyat Malaysia seperti saya. Akhirnya. Seperti ombak perubahan tengah melanda Malaysia setelah bertahun-tahun ditimpa ketidakadilan. Hari ini adalah hari bersejarah seiring dengan pembebasan Anwar dan akan bertambah baik," ujar pendukung Anwar, Ahmad Samsuddin sebagaimana dikutip BBC Indonesia, 16 Mei 2018.
Kebebasan itu membawa arah baru dalam hidup Anwar Ibrahim. Ia terus mampu merebut hati rakyat Malaysia. Akhirnya, Ia kemudian mampu naik jadi PM Malaysia pada 2022.