JAKARTA – Memori hari ini, tujuh tahun yang lalu, 13 Mei 2018, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto akui dirinya masuk kategori Islam abangan. Ia tak ingin orang lain menganggapnya sebagai ahli agama Islam.
Sebelumnya, Prabowo kerap menegaskan bahwa ia terlahir dari keluarga yang berbeda-beda agama. Ibunya sendiri terlahir beragama Kristen. Begitu pula banyak saudara-saudaranya. Narasi itu membuat Prabowo paham terkait keberagaman Indonesia.
Kemunculan Prabowo Subianto di panggung politik penuh dinamika. Ia menjalan segalanya dengan penuh semangat hingga membangun partai politik, Gerindra. Belakangan popularitas Prabowo kian meningkat.
Ambil contoh kala Prabowo memutuskan maju jadi capres dari Gerindra pada Pilpres 2014. Ia yang menantang Joko Widodo (Jokowi) punya banyak penggemar setia. Namun, tak sedikit pula yang ingin menjatuhkan reputasinya dengan kampanye hitam.
Prabowo dianggap hanya memihak kelompok Islam. Ia digambarkan tak suka kelompok agama di luar Islam. Belum lagi Prabowo diyakini tak bisa melihat Indonesia yang beragam. Isu itu terus bergulir seiring banyaknya ulama yang mendukung pencalonan Prabowo.
BACA JUGA:
Prabowo pun tak diam saja. Ia berang dan segera beraksi. Prabowo menegaskan urusan menghormati keberagaman sudah jadi makanannya sehari-hari. Prabowo tak mengambil contoh jauh-jauh. Ia melirik kepada bagaimana keluarganya menghargai keberagaman.
Ibunya sendiri diketahui terlahir sebagai seorang Kristen. Begitu pula dengan saudara-saudaranya. Kondisi itu bukan malah jadi halangan. Keberagaman justru membuat Prabowo dapat menghargai perbedaan.
Prabowo pun menegaskan bahwa keluarganya adalah keluarga Pancasila. Ia menegaskan pula walau keluarganya berbeda-beda, tapi semuanya dalam satu keinginan: hidup rukun. Suatu kehidupan yang jadi mimpi banyak orang Indonesia.
"Siapa yang bilang saya tidak mendukung Kristen. Ibu saya Kristen, saudara saya Katolik. Jadi bagaimana saya tidak mendukung umat Kristen. Kami juga berkomitmen untuk membesarkan koperasi," ungkap Prabowo sebagaimana dikutip laman Tribunnews.com, 18 Juni 2014.
Prabowo memang kalah dalam Pilpres 2014. Namun, bukan berarti eksistensi Prabowo terganggu. Prabowo pun jauh-jauh hari sudah diisukan akan mencalonkan diri lagi sebagai capres pada Pilpres 2019. Kondisi itu membuatnya diterpa banyak isu baru.
Laku hidup Prabowo sebagai seorang Muslim dipertanyakan. Prabowo pun kemudian angkat bicara pada Milad Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Sentul Intenational Center, Bogor, Jawa Barat, 13 Mei 2018.
Prabowo menegaskan bahwa dirinya kalau diketegorikan masuk dalam kategori Islam abangan. Suatu hal yang dipahami sebagai kaum yang menjalankan Islam secara terbatas saja. Ia mengaku kemampuannya terkait agama Islam terbatas saja.
Prabowo menganggap ia bukan ahli agama. Ibadahnya saja masih bolong-bolong. Kejujuran Prabowo pun mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Ia dianggap berani mengakui tak paham banyak terkait Islam dibanding politikus lain yang memaksakan diri bercitra sebagai ahli agama.
"Saya memang berasal dari keluarga Jateng campur Sulawesi. Jadi memang saya dikategorikan Islam abangan. Tapi karena dari kecil dekat organisasi PMII, HMI dan sebagainya, lama-lama kok agak kental juga sedikit. Tapi kalau mau adu ayat, fasih saya angkat tangan deh. Tapi saya Muslim.”
"Saya dulu prajurit tentara. Jadi saya begitu dilantik, saya menghadap maut. Biasa kita ingat Tuhan jadi kita cari kiai. Jadi karena di situlah tentara dekat kiai. Walaupun salat ada banyak bolosnya dikit. Tapi saya ada program rohani yang mengajarkan bagi perwira yang membela negara, ya ada dispensasi," ujar Prabowo sebagaimana dikutip laman kumparan, 13 Mei 2018.