Merayakan Sakit Hati Fowler dengan Kokain
Robbie Fowler (Sumber: Lfchistory.net)

Bagikan:

JAKARTA - Hari ini, 3 April di tahun 1999, legenda Liverpool Robbie Fowler 'membakar' Stadion Anfield dengan selebrasi gol paling "junkie" di sepanjang sejarah sepak bola dunia. Fowler meledak di tengah derby Merseyside, dalam ekspresi yang dipicu tekanan rumor deras tentang dirinya yang disebut sebagai pengguna narkoba.

Pertandingan baru 41 detik ketika tendangan jarak jauh Olivier Dacourt menjebol gawang tuan rumah yang dijaga David James. Everton unggul. Di menit ke-15, Marco Materazzi melakukan pelanggaran terhadap Paul Ince di dalam kotak penalti. Sepakan Fowler ke kiri gawang tak dapat dijangkau kiper Everton, Thomas Myhre. Skor sama kuat.

Usai mencetak gol, Fowler berlari ke arah tribun suporter Everton di belakang kanan gawang. Fowler merendahkan tubuhnya hingga kepalanya mencapai garis lapangan, sebelum ia memperagakan gestur "sniffing" ala pemakai kokain. Pemain Liverpool lain sempat menarik Fowler ke atas, sebelum Fowler mengangkat tangan dan menunjukkan sedikit tarian dan kembali merangkak dengan gestur sniffing.

Pertandingan hari itu berakhir dengan skor 3-2, di mana Fowler mencetak dua gol. Satu gol lain dari Liverpool dicetak gelandang Ceko Patrik Berger, sementara gol kedua Everton dicetak Francis Jeffers.

Usai pertandingan, Asosiasi Sepak Bola Inggris, FA langsung mengambil tindakan atas selebrasi Fowler. Mereka khawatir selebrasi yang dilakukan Fowler akan memengaruhi gaya hidup anak muda Inggris. Fowler pun disanksi dengan larangan bermain selama enam pertandingan.

Hukuman itu diakumulasikan dengan hinaan homofobia yang dilontarkan Fowler kepada salah seorang pemain Chelsea, Graeme Le Saux dalam laga sebelumnya. Selain larangan bermain, Fowler juga dituntut denda sebesar 32 ribu poundsterling.

 

Tuduhan pengguna narkoba

Belakangan, Fowler memberi pernyataan terkait selebrasi kontroversial itu. Diwawancarai Independent, Fowler menyatakan selebrasi itu sebagai reaksi dari tekanan atas tuduhan penyalahgunaan narkoba yang selama ini ditujukan publik --khususnya penggemar Everton-- kepadanya.

"Dalam beberapa tahun terakhir, saya merasa tertekan dan amat sedih dengan tuduhan soal penyalahgunaan narkoba yang terus-menerus ditujukan pada saya. Tuduhan ini tak hanya memengaruhi saya di lapangan, tapi juga menyakiti perasaan keluarga saya," kata Fowler, dalam artikel 5 April 1999.

Ada alasan kenapa tuduhan tersebut sangat memengaruhi Fowler dan keluarganya. Seperti diceritakan dalam otobiografi Fowler: My Autobiography, masa kecil sang striker memang dipenuhi dengan kejadian menyakitkan tentang dua sepupunya yang meninggal karena penyalahgunaan narkoba.

“Andai orang-orang menyaksikan hancurnya bibi saya, bagaimana ia harus hidup dengan rasa sakit itu sampai akhir hayatnya. Saya tidak berpikir orang-orang akan menggunakan 'narkoba' sebagai lelucon. Bahkan mereka menyebut saya menggunakannya,” tulis Fowler.

Robbie Fowler (Sumber: lfchistory.net)

Tuduhan penuh stereotip atas Fowler itu dilontarkan para pendukung The Toffees --julukan Everton-- karena Fowler berasal dari Toxteth, Merseyside. Kampung halaman Fowler itu memang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat peredaran narkoba paling tinggi di Inggris.

Dalam studi The Heroin Epidemic of the 1980s and 1990s and Its Effect on Crime Trends - Then and Now karya Nick Morgan yang dikutip Pandit Football, dijelaskan bahwa Merseyside adalah satu dari banyak wilayah lain yang paling pertama dimasuki wabah penggunaan heroin pada tahun 1980-an. Dari wilayah-wilayah tersebut, narkoba menjalar jadi masalah nasional pada era 90-an.

Belakangan, Fowler meminta maaf atas selebrasinya. Fowler sadar, di lain sisi, selebrasi itu menyakitkan bagi orang-orang yang berjuang keras melawan narkoba, termasuk mereka yang mati-matian melepaskan diri dari cengkram kimia ilegal.

Apapun yang terjadi hari itu, Fowler adalah salah satu penyerang paling ganas yang pernah dimiliki Inggris. Keganasan itu bahkan terlihat sejak muda. Dikutip dari laman lfchistory.net, Jim Aspinall, pencari bakat Liverpool yang menemukan Fowler di usia 14 mengatakan, "Dia (Fowler) memiliki insting yang sangat baik, tentang ke mana ia harus meletakkan bola dan berlari mencari celah ... Sentuhannya pada bola adalah hal istimewa lain," katanya, menggambarkan impresinya terhadap Fowler muda.

Saat berusia 23 tahun 283 hari, Fowler sempat memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang mencetak seratus gol di Liga Primer. Bersama Liverpool, Fowler memenangi satu FA Cup (2001), satu Piala Liga (1995 dan 2001), UEFA Cup (2001), European Super Cup (2001).

Fowler mengakhiri petualangannya di lapangan hijau bersama Muang Thong United pada 2011-2012, setelah bermain di Liverpool, Leeds United, Manchester City, Cardiff City, Blackbur Rovers, North Queensland Fury, serta Perth Glory.