Kisah Kapten Mabuk Exxon Valdez yang Hancurkan Laut dengan Tumpahan Minyak
Ilustrasi foto Exxon Valdez (Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Laut biru itu berubah menjadi hitam pekat setelah kapal tanker pengangkut minyak Exxon Valdez memuntahkan isi "perutnya" karena menabrak terumbu karang di perairan Prince William Sound, Alaska selatan. 42 juta liter minyak mentah tumpah dan mencemari garis pantai sepanjang 1.990 kilometer. Insiden itu seketika menjadi bencana besar yang membunuh jutaan makhluk hidup. 

"Mataku berair karena asap minyak meski sedang berada di ketinggian 1.000 kaki," kata Rick Steiner, seorang Penasihat Kelautan (Marine Advisor) dari Universitas Alaska mengenang peristiwa tersebut kepada National Geographic. Steiner menyaksikan langsung kejadian yang terjadi pada hari ini, 31 tahun lalu, 4 Maret 1989.

"Minyak berceceran di seluruh geladak kapal dan terlihat meluber kemana-mana di air laut," kata Steiner yang sedang menginspeksi salah satu peristiwa kebocoran minyak terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat (AS) tersebut.

Ilustrasi foto (Wikimedia Commons)

Tumpahnya sebelas juta galon minyak mentah itu menimbulkan musibah besar bagi kelangsungan ekosistem lingkungan sekitar. Ratusan ribu binatang yang tinggal di habitat terdampak mati. Menurut catatan Scientific American, akibat kejadian itu, sekitar dua ribu berang-berang laut, 302 anjing laut, dan 250 ribu burung laut mati dalam beberapa hari setelah kejadian.

Bahkan, laporan itu juga menulis analisis sejumlah peneliti, bahwa dampak pencemaran lingkungan akan terasa sampai 30 tahun kemudian. Charles H. Peterson, peneliti Universitas of North Carolina yang memimpin kajian itu sempat memaparkan perkembangan di tahun 2003, bahwa "...minyak telah bertahan dalam jumlah yang sangat besar selama bertahun-tahun pascaperistiwa 1989."

Menurut Peterson, paparan minyak ini, pada gilirannya dapat menyebabkan lebih banyak kematian hewan. Salmon, misalnya di mana telurnya mengalami peningkatan tingkat kematian karena telur yang diinkubasi bersentuhan dengan tumpahan minyak tersebut.

Selain itu, yang juga akan terdampak tumpahan minyak di laut ini adalah hewan mamalia laut dan bebek karena mangsanya juga terkontaminasi tumpahan itu. Tulisan Peterson dan kawan-kawannya bukan isapan jempol semata. Laporan National Geographic pada 22 Maret 2019 mengungkap matinya miliaran telur ikan salmon dan hewan mamalia. Paus pembunuh, misalnya yang mencatatkan kematian sebanyak 22 ekor.

 

Penyebab

Mengutip History.com, belakangan, terungkap penyebab olengnya kapal hingga menubruk terumbu karang adalah karena Kapten Kapal Joseph Hazelwood mabuk. Meski semua orang mabuk cenderung berbuat bodoh, apa yang dilakukan Joseph jelas jauh melampaui batas toleransi. Dengan gilanya, Joseph mengizinkan seorang petugas tak berwenang untuk mengarahkan kapal besar tersebut.

Pada Maret 1990, Joseph dihukum dengan dakwaan kelalaian. Ia didenda sebesar 50 ribu dolar AS dan diperintahkan untuk melakukan pelayanan masyarakat selama seribu jam. Sementara itu, pada awal 1991, Exxon, perusahaan pengangkut minyak tersebut mendapat kecaman dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional.

Bersamaan dengan itu, di bawah tekanan para kelompok pemerhati lingkungan, Exxon menyepakati tuntutan mereka untuk membayar denda sebesar 1 miliar dolar AS dalam kurun waktu sepuluh tahun untuk biaya pembersihan. 

Namun, tiba-tiba Exxon menolak perjanjian itu. Kemudian, pada Oktober 1991 raksasa minyak itu menyelesaikan masalahnya dengan membayar 25 juta dolar AS saja. Jauh dari yang sudah disepakati di awal perjanjian.