4 Maret dalam Sejarah: Seorang Bayi di AS Sembuh dari HIV
Ilustrasi foto (St Janko Ferlic/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 4 Maret 2013, tim dokter di Amerika Serikat (AS) menyatakan seorang bayi yang terlahir dengan HIV berhasil sembuh. Bayi tersebut sembuh setelah diberi tiga obat antiretroviral dosis tinggi dalam waktu 30 jam setelah kelahirannya. Dokter telah mengetahui ibunya HIV positif dan memberikan obat dengan harapan bisa mengendalikan virus.

Mengutip CNN, bayi asal Mississippi itu adalah bayi pertama yang "sembuh secara fungsional" dari HIV. Para peneliti yakin intervensi dini dengan obat antiretroviral adalah kunci keberhasilan tersebut. Sebuah "penyembuhan fungsional" adalah ketika keberadaan virus sangat kecil, pengobatan seumur hidup tidak diperlukan dan tes klinis standar tidak mendeteksi adanya virus dalam darah.

Penemuan ini diumumkan pada Konferensi 2013 bertemakan Retrovirus dan Infeksi Oportunistik di Atlanta. Bayi perempuan yang tidak disebutkan namanya itu lahir dengan HIV positif dari ibunya yang tidak menerima perawatan pranatal dan tidak terdiagnosa HIV positif sampai menjelang persalinan.

“Kami tidak memiliki kesempatan untuk merawat sang ibu selama kehamilan untuk mencegah penularan ke bayi,” kata Dr. Hannah Gay, spesialis HIV pediatri di University of Mississippi Medical Center.

Gay mengatakan waktu intervensi atau sebelum bayi didiagnosa memiliki HIV, mungkin perlu lebih diperhatikan daripada menentukan obat atau jumlah obat yang dikonsumsi. "Kami berharap penelitian di masa depan akan menunjukkan bahwa lembaga terapi efektif yang paling awal akan menghasilkan hasil yang sama secara konsisten," tambah Gay.

Dr. Katherine Luzuriaga, seorang ahli imunologi di Universitas Massachusetts yang bekerja sama dengan Gay, menyebut perkembangannya menarik, termasuk fakta bahwa bayi itu akhirnya tidak memiliki HIV dalam darahnya bahkan setelah ibunya berhenti melakukan perawatan terhadap bayinya selama delapan hingga 10 bulan.

Setelah dipastikan bahwa ibu tersebut positif HIV, Gay segera mulai memberikan obat antiretroviral pada bayi saat bayi dilahirkan sebagai upaya untuk mengendalikan infeksi HIV. "Kami memulai terapi sedini mungkin, yang dalam kasus ini berusia sekitar 30 jam," kata dokter tersebut. "Dan karena itu adalah paparan risiko tinggi, saya memutuskan untuk menggunakan tiga obat daripada satu."

Gay mengisahkan, dalam beberapa hari ia mendapat hasil pemeriksaan bahwa anak itu positif HIV. Dia mengatakan bayi itu mungkin telah terinfeksi saat masih berada dalam rahim. Anak tersebut tetap mengonsumsi obat antiretroviral selama sekitar 15 bulan. Ibunya kemudian berhenti memberi obat tersebut karena suatu alasan dan perawatan dilanjutkan setelah petugas kesehatan.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa merawat ibu yang HIV-positif sejak dini itu penting, karena mereka meneruskan antibodi kepada bayinya. Bayi baru lahir memiliki berisiko tinggi jika terinfeksi HIV dari ibu yang memiliki HIV yang tidak terkendali atau jika ibu tersebut baru diketahui positif HIV ketika menjelang waktu lahir.

"Seratus persen ibu (positif HIV) akan menularkan antibodi tersebut, tetapi jika tidak ada pengobatan, 30 persen ibu akan menularkan virus yang sebenarnya," kata Luzuriaga.

Para peneliti mengatakan satu-satunya kasus pengobatan HIV yang terdokumentasi adalah Timothy Brown, yang dikenal sebagai "pasien Berlin." Pada 2007, Brown, orang Amerika yang tinggal di Jerman, saat itu tengah berjuang melawan leukemia dan HIV ketika dia menjalani transplantasi sumsum tulang. Transplantasi itu tidak hanya menyembuhkan kankernya tetapi juga HIV-nya.

Dalam sebuah wawancara, Brown mengatakan kepada Dr. Sanjay Gupta, bahwa meski telah bertahun-tahun lamanya, ia masih terbebas dari HIV. "Saya telah diuji di mana-mana," kata Brown, yang pindah ke San Francisco.

"Darah saya telah diuji oleh banyak lembaga. Saya telah menjalani dua kolonoskopi untuk diuji untuk melihat apakah mereka dapat menemukan HIV di usus besar saya, dan mereka belum dapat menemukannya."

Meski demikian, kasus Brown jarang terjadi. Prosedur tersebut, yang sangat berbahaya, tidak akan berhasil pada kebanyakan pasien karena sumsum tulang yang dia terima memiliki mutasi genetik khusus yang membuat sel punca di dalamnya secara alami kebal terhadap virus.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya