Bagikan:

JAKARTA - Keberanian Megawati Soekarnoputri masuk gelanggang politik era Orde Baru (Orba) bak kejutan. Pemerintah Orba terkejut. Rakyat Indonesia pun demikian. Apalagi Megawati memilih merapat ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Hasilnya tak disangka-sangka. Kehadiran Megawati bawa berkah bagi PDI. Suara PDI terdongkrak dengan andil Megawati sebagai anak dari Putra Sang Fajar, Soekarno. Karier politiknya melejit. Puncaknya, dukungan ke Megawati sebagai Ketua Umum PDI muncul di mana-mana.

Dunia politik pernah dianggap tabu bagi keluarga Bung Karno. Pun keluarga Bung Karno sampai sepakat membuat konsensus tak akan masuk partai politik pada 1982. Mereka bersedia berdiri di atas semua golongan.

Gerak-gerik keluarga Orba kerap diawasi oleh pemerintah Orba. Perubahan baru muncul ketika anak kedua Bung Karno, Megawati mendobrak kekakuan itu. Wanita yang kerap disapa Dyah oleh anggota keluarganya memilih terjun ke kancah politik pada 1987.

Ia pun merapatkan diri kepada PDI. Suatu partai yang kala itu dipimpin Soerjadi dan Nico Daryanto. Kehadiran Megawati dianggap memiliki pengaruh besar bagi tumbuh kembang PDI yang dikemudian hari bertransformasi jadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Megawati Soekarnoputri berdansa bersama ayahnya, Presiden Soekarno. (Wikimedia Commons)

Pertama, Megawati adalah sosok yang berintegritas. Kedua, Megawati adalah anak dari proklamator Indonesia, Soekarno. Ramuan itu digadang-gadang dapat mendongkrak suara PDI. Apalagi, empunya partai menempatkan Megawati sebagai juru kampanye yang andal.

Siasat itu membawakan hasil. Kehadiran Megawati bak Dewi Fortuna bagi PDI. Simpati massa kepada Megawati tiada dua. Simpati itu membuat dukungan ke PDI melejit. Nama Megawati sebagai anak Putra Sang Fajar diteriakan di mana-mana.

Megawati dianggap simbol perlawanan terhadap pemerintah Orba yang represif nan korup. Kehadiran Megawati mampu membuat PDI menempatkan banyak wakilnya di pemerintahan. Kondisi itu jelas jauh berbeda kala Megawati belum bergabung.

PDI pun memanfaatkan kehadiran Megawati dengan maksimal. Saban hari, wajah Megawati dan ayahnya, Soekarno muncul. Megawati bak dianggap juru selamat yang akan membawa Indonesia ke arah lebih baik. Sekalipun bagian itu masih membutuhkan bukti.

“Dampak keikutsertaan Taufik Kiemas dan Megawati kemudian terbukti mampu mendongkrak perolehan suara PDI. Pada pemilu 1987, dari total 400 kursi di DPR, PDI berhasil memperoleh 40 kursi. Itu berarti kenaikan hampir dua kali lipat dibandingkan pemilu 1982 yang hanya memperoleh 24 kursi. Sejak itu pula Megawati resmi mengawali langkahnya di dunia politik nyata.”

“Kehadiran Megawati semakin menaikkan pamor PDI. Fenomena kampanye PDI pada Pemilu 1992 yang mengusung tema Metal (merah Total) disertai foto-foto Soekarno dan Megawati, jelas menggambarkan ketokohan Megawati, jelas menggambarkan ketokohan Megawati. Pada Pemilu 1992 itu, perolehan PDKI kembali meningkat mencapai 56 kursi,” tulis Manuel Kaisiepo dalam buku Megawati: Anak Putra Sang Fajar (2012).

Megawati Jadi Ketum

Popularitas Megawati sebagai politisi kian meningkat apalagi memasuki era 1990-an. Segenap masyarakat Indonesia menaruh harapan besar kepada Megawati. Apalagi kader PDI. Mereka menyebut Megawati adalah calon yang tepat mengisi posisi sebagai Ketum PDI.

Pucuk dicinta ulam tiba. Sorotan mata mengarah kepada Kongres Luar Biasa (KLB) di Wisma Haji Sukolilo, Surabaya, pada 1993. Megawati disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang akan memimpin PDI di masa yang akan datang.

Namun, jalan Megawati tak mulus. KLB itu bak ingin mengubur keinginan Megawati sebagai Ketum PDI. Apalagi isu pemerintah Orba mengintervensi KLB mengalir deras. Tarik menarik keputusan hingga permainan kotor terlihat di sepanjang kongres.

Pekik Megawati sebagai ketum kemudian tak terbendung. Pekik nama Megawati muncul dari dalam dan  luar arena KLB pada 6 Desember 1993. Hari terakhir kongres itu jadi hari yang paling menentukan bagi Megawati.

Megawati Soekarnoputri sebagai Ketum PDIP bersama Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin. (Antara/M Risyal Hidayat)

Dukungan yang mengalir deras membuat Megawati mengambil langkah menentukan. Ia memberanikan diri muncul ke atas panggung dan mengumandangkan dirinya sebagai Ketua PDI secara de facto. Semenjak itu langkah Megawati banyak dijegal oleh hingga resesi ekonomi 1997-1998 terjadi dan Orba runtuh.   

“Waktu berdetak berpacu dengan akhir izin kongres. Aparat polisi sudah bersiap-siap menunggu dentang pukul 00:00. Pada pukul 00:00 itulah izin KLB berakhir, dan polisi akan mengambil alih ajang KLB. Di kegelisahan malam itu, ketika pukul 00:00 kurang 10 menit. Megawati tiba-tiba keluar kamar. Pekik gemuruh membelah keheningan menyambut kemunculan Megawati. Ia lantas berdiri di tengah lautan massa PDI. Dengan menggunakan pengeras suara seadanya. Megawati melancarkan pidatonya.”

“Dan ini yang paling tidak diduga oleh siapa pun, Megawati menyatakan diri secara de facto sebagai Ketua Umum DPP PDI. Pekik sorak pun tak tertahankan. Dan Megawati mengutip karya pujangga besar India, Swami Vivekananda: sudah cukup lama kita menangis, jangan menangis lagi. Tegakkan mukamu menjadi manusia sejati untuk menegakkan kebenarannya,” tertulis dalam buku Tragedi Megawati (2000).