Bagikan:

JAKARTA - Abdurrahman Wahid adalah sosok pemimpin yang kreatif. Pria yang akrab disapa Gus Dur punya pola pikir yang unik. Ia acap kali disebut man of ideas. Ia mampu menerjemahkan masalah dan kritikan dalam ragam medium. Humor, salah satunya.

Kelakar-kelakar Gus Dur tak hanya jadi magnet bagi tawa, tapi juga perenungan. Apalagi ketika membahas masalah surga. Topik itu jadi andalannya melemparkan kritik terkait laku hidup manusia. Ajaibnya, mereka yang dikritik justru menikmati dan tertawa.

Perihal humor, Gus Dur jagonya. Ia mampu menerjemahan segala masalah dalam humor. Dari sosial, politik, ekonomi, hingga budaya. Alias dalam tiap humor yang dilontarkan Gus Dur memiliki pesan tersendiri. Bahkan, pesan itu bisa digalinya semalam suntuk jika ada kesempatan.

Kepiawaannya itu membuat dia menjadi tokoh sentral di dunia pasantren. Ia mampu menempatkan dirinya di mana saja. Gus Dur mampu duduk bersama khalayak umum sebagai aktivis politik, budayawan, politisi, maupun intelektual. Keluwesan Gus Dur dalam memahami masalah jadi muaranya.

Gus Dur berkelakar dengan Presiden AS, Bill Clinton. (google.com)

Semuanya karena Gus Dur tak pernah pilih-pilih dalam mempelajari suatu ilmu. Gus Dur senang membaca buku dan menonton film. Sekalipun aktivitas itu kerap mengganggu pendidikan formalnya. Perihal itu Gus Menganggap sepi saja. Apalagi ilmu bisa berasal dari mana saja.

Bekal ilmu itu kemudian memengaruhi pola pikirnya memandang masalah. Pun karena ilmu yang didapat, masalah serius tak melulu harus ditanggapi secara serius. Sebab, masalah yang kerap dikemas dengan narasi humor justru memiliki kekuatan yang tak disangka-sangka. Kadang kala, jalan keluar dari masalah dapat terlihat setelahnya.

“Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, bisa dipahami jika Gus Dur sangat percaya diri dengan apa yang dilakukannya, juga percaya diri dengan efek yang hendak diraih. Sebagai man of ideas yang berpotensi untuk menggulirkan perubahan melalui kiprah kepemimpinannya, Gus Dur sangat kaya dengan ide-ide segar.”

“Tidak sedikit ide-ide itu disampaikan secara aneh, misalnya dengan humor. Dengan cara penyampaian seperti itu, pesan-pesan yang hendak disampaikan mengena dan tidak jarang bersifat simbolik tapi berdampak nyata, dan kalau memang berbenturan dengan wacana yang ada, akan merangkai dan merangsang pemikiran secara dinamis,” terang Ahmad Suaedy dalam buku Gus Dur: Islam Nusantara & Kewarganegaraan Bineka (2018).

Tradisi Nahdlatul Ulama

Adalah benar humor Gus Dur kerap membuat pendengarkan tertawa lepas. Gus Dur pun tak pernah memilih topik tertentu untuk mengeluarkan kelakarnya. Ia hanya mengomentari fenomena yang ada. Istimewanya mereka yang mendengar diliputi tawa.

Sebenarnya tradisi memanfaatkan humor untuk berdakwah dan pemanis diskusi bukan ‘monopoli’ Gus Dur seorang. Kiai-kiai di bawah panji Nahdlatul Ulama (NU) telah memanfaatkan sedari dulu. Kebetulan Gus Dur jadi salah satu Kiai yang paling menonjol.

Lagi pula Gus Dur berani mengangkat topik apa saja untuk humornya. Surga, misalnya. Bagi sebagian orang, perihal surge tak bisa dijadikan bahan bercanda. Namun, Gus Dur mendobraknya. Proyek pembangunan jembatan surga-negara jadi kelakar yang kerap dibawanya.

Alkisah, kiamat terjadi. Bumi hancur. Manusia-manusia mulai dihitung amal baik-buruknya oleh malaikat. Mereka yang tabungan amal baiknya bejibun akan ke surga. Sedang mereka yang memiliki tabungan amal buruk dominan: neraka.

Gus Due saat dilantik menjadi Presiden RI ke-4 pada 20 Oktober 1999. (Wikimedia Commons)

Rasa penasaran melingkupi keduanya. Penghuni surga penasaran kepada suasana neraka. Begitu pula sebaliknya. Karenanya, tercetuslah sebuah inisiasi. Jembatan antara surga dan neraka, namanya. Tiap kelompok lalu dibebani dengan perintah untuk membangun jembatannya sendiri-sendiri.

Gus Dur mengungkap penghuni neraka semangat sekali. Bahkan, jembatan yang dibuat selesai tepat waktu. Beda hal dengan penghuni surga. Tiada kemajuan yang berarti. Satu pun langkah belum dilakukan.

Nyatanya, di surga tiada orang yang mempuni membuat jembatan. Sebab, semua pemborong, pimpinan proyek, hingga mandor berada di neraka semuanya. Pesan yang ingin disampaikan Gus Dur jelas. Di balik tawa, ada realita KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) yang kerap ditemui dalam suatu proyek. Perihal ini telah berlangsung sejak lama. Bahkan, sedari Indonesia merdeka.

Tak hanya itu, Gus Dur memiliki kelakar lain perihal surga. Kelakar itu dimulai Gus Dur terkait seorang nenek-nenek yang risau mendengar sabda Rasulullah bahwa di Surga tak ada nenek-nenek. Ia sedih bukan main. Untungnya Sang Rasul menjelaskan bahwa semua penduduk surga akan kembali muda. Dan sang nenek kembali bahagia.

Humor-humor Gus Dur abadi. Baik sebelum dan sesudah ia menjabat presiden RI. Kelakar-kelakarnya masih sering terdengar dibawakan oleh banyak ulama. fakta itu jadi bukti  jika raga Gus Dur boleh telah tiada, tapi semangatnya tetap hidup hingga hari ini.

“Seorang nenek menangis, Ia kecewa mendengar sabda Rasulullah: Di surga tidak ada nenek-nenek. Tetapi ang Rasul cepat-cepat menjelaskan bahwa kelak semua penduduk surga akan kembali muda. Jadi si nenek akan masuk surga dan kembali muda. si nenek tertawa. Senang.” Cerita Gus Dur sebagaimana ditulis kembali Maman Imanulhaq Faqieh dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur (2010).