JAKARTA - Perjuangan perempuandalam menghidupi keluarga sering kali berlangsung dalam diam, penuh pengorbanan, dan jauh dari sorotan.
Apalagi di tengah tekanan ekonomi dan berbagai tantangan hidup, banyak perempuan harus mengambil peran sebagai penopang utama keluarga bahkan memulai kembali dari titik nol ketika keadaan memaksa.
Kisah-kisah ini menjadi gambaran nyata ketangguhan perempuan Indonesia dalam menghadapi situasi sulit. Terlebih pada bulan ini kita memeringati Hari Kartini untuk lebih menghargai peran perempuan di berbagai aspek kehidupan.
Cerita inspiratif dari Mak Netty misalnya, ia merupakan seorang pengemudi ojek online yang mulai bekerja di usia di atas 50 tahun.
Sebelumnya sempat berprofesi sebagai pengajar sebelum harus berhenti demi merawat orang tuanya. Ketika suaminya jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan, Mak Netty mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga.
Dengan keterbatasan ekonomi, ia tetap bekerja dan memanfaatkan akses pendanaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pinjaman awal yang ia ambil digunakan untuk biaya pengobatan suaminya. Di tengah kondisi sulit, ia juga harus memastikan tetap bisa bekerja, termasuk ketika alat kerjanya seperti ponsel mengalami kerusakan.
"Namun, ketika kondisi kesehatan suami semakin menurun, saya harus bekerja lebih keras lagi dan lebih aktif untuk membantu biaya pengobatannya, sekaligus untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan pers GrabModal by Ovo Finansial kepada VOI, Rabu, 29 April.
Meski kini telah kehilangan suami, Mak Netty tetap memilih hidup mandiri. Ia bahkan sempat menghadapi pandangan miring dari sebagian orang terdekat terkait pekerjaannya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya.
"Selama pekerjaannya baik dan tidak melanggar aturan, kenapa harus malu? Yang penting kita semua bisa membantu kehidupan keluarga,” katanya.
Ia juga aktif dalam komunitas pengemudi perempuan, berbagi pengalaman dan memberikan semangat kepada sesama agar tetap percaya diri dan tidak mudah menyerah.
BACA JUGA:

Kisah lain datang dari Fitri Farhatani, pelaku usaha rumahan di Serang, Banten, yang harus membangun kembali kehidupannya setelah mengalami kerugian besar akibat penipuan digital. Tabungan keluarganya senilai ratusan juta rupiah raib, meninggalkan tekanan finansial sekaligus konflik dalam rumah tangga.
Dari kondisi tersebut, Fitri memulai usaha kecil dari rumah dengan modal terbatas. Ia berjualan makanan secara sederhana, dan tak disangka dagangannya langsung habis pada hari pertama. Sejak itu, usahanya perlahan berkembang dan menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga.
"Awalnya saya berharap bisa dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu sehari, itu saja sudah Alhamdulillah. Tapi ternyata usaha ini bisa jadi harapan baru untuk keluarga kami,” ungkapnya.
Di awal perjalanan, ia menjalankan usaha hampir seorang diri. Namun seiring waktu, suaminya mulai ikut terlibat dan hubungan mereka perlahan membaik. Usaha tersebut bukan hanya membantu ekonomi, tetapi juga memulihkan harapan dalam keluarga.
Seiring berkembangnya usaha, Fitri mulai memanfaatkan fasilitas pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Baginya, yang dirasakan bukan hanya tambahan modal, tetapi juga rasa tenang dalam menjalankan usaha.
Kini, usaha yang ia rintis dari dapur sederhana telah berkembang pesat. Ia bahkan berhasil memulihkan kondisi keuangan keluarga dan mewujudkan impian memiliki rumah sendiri.
Kisah Mak Netty dan Fitri mencerminkan semangat perempuan Indonesia masa kini yang tidak mudah menyerah. Ada yang berjuang di jalanan, ada pula yang membangun harapan dari dapur rumah. Keduanya menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi sosok tangguh dan mandiri di tengah keterbatasan.
"Boleh nangis, tapi tetap harus jalan,” kata Mak Netty.
"Jangan pernah takut untuk memulai. Perempuan juga harus berdaya dan percaya pada diri sendiri,” tambah Fitri.
Cerita-cerita seperti ini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan alias Kartini masa kini tidak selalu terlihat besar, namun memiliki dampak nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Dukungan berupa finansial yang inklusif pun menjadi salah satu faktor penting yang membantu mereka tetap produktif dan terus melangkah menghadapi berbagai tantangan hidup.