JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa kakao bukan hanya bahan dasar cokelat, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, mulai dari makanan, minuman, hingga peluang usaha kreatif berbasis perkebunan.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk cokelat premium dan minuman berbasis kakao, edukasi mengenai pengolahan kakao menjadi semakin penting. Tidak hanya untuk mengenalkan kualitas kakao Indonesia, tetapi juga membuka wawasan tentang bagaimana komoditas ini bisa menjadi sumber ekonomi baru, khususnya bagi generasi muda dan pelaku usaha kecil.
Kakao sendiri berasal dari tanamanTheobroma cacao, yang memiliki arti “food of god” atau makanan para dewa. Tanaman ini menghasilkan biji kakao yang kemudian diolah menjadi berbagai produk, termasuk bubuk cokelat, pasta kakao, hingga minuman cokelat yang banyak digemari.
Dalam dunia kakao, terdapat beberapa jenis utama yang dikenal luas, yakni criollo, forastero, dan trinitario. Masing-masing memiliki karakter rasa dan kualitas berbeda. Salah satu yang dianggap premium adalah criollo, karena memiliki aroma lebih kompleks dan jumlah produksi yang terbatas.
Menurut Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, jenis criollo memiliki kualitas unggulan dibanding varietas lainnya.
“Criollo ini paling aromatik, paling wangi, dan kualitasnya paling tinggi,” jelas Nugroho, dikutip dari keterangan resmi BPDP.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkanfine flavor cocoaatau kakao premium melalui proses pascapanen yang baik, seperti fermentasi dan pengeringan.
“Kelebihan Indonesia adalah kita punya varietas kakao yang jika diolah dengan baik bisa menjadi fine flavor cocoa,” katanya.
Meski Indonesia merupakan produsen kakao terbesar di Asia dan pernah berada di posisi ketiga dunia, citra cokelat premium justru masih identik dengan negara-negara Eropa.
“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” katanya.
BACA JUGA:
Di sisi lain, perkembangan industri makanan dan minuman membuka peluang baru bagi kakao lokal untuk diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual tinggi. Mulai dari minuman berbasis cokelat, dessert, hingga produk olahan premium yang menyasar pasar gaya hidup.
Dalam konteks inilah edukasi tentang hilirisasi kakao menjadi penting. Hilirisasi sendiri merupakan proses pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dengan kata lain, kakao tidak berhenti sebagai hasil panen, tetapi bisa diubah menjadi produk yang lebih menguntungkan.
Di tengah upaya mendorong pemahaman masyarakat terhadap potensi tersebut, workshop bertajuk“Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah”digelar oleh BPDP sebagai bagian dari edukasi publik terkait komoditas perkebunan. Kegiatan ini berlangsung di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026, dengan konsep interaktif yang menggabungkan edukasi, praktik langsung, dan pengenalan peluang usaha berbasis kakao.
Dalam kegiatan tersebut, pelaku usaha lokalCokelatin Signaturehadir untuk berbagi pengalaman mengenai pengembangan bisnis cokelat berbasis kakao Indonesia. Peserta diperkenalkan pada sejarah kakao, teknik pengolahan, hingga praktik membuat minuman cokelat menggunakan bahan baku lokal.
Nugroho Surosoputra menjelaskan bisnis yang dijalankannya bermula dari ketertarikan terhadap kualitas kakao Indonesia.
“Kami benar-benar jatuh cinta dengan cokelat Indonesia dan kakao Indonesia. Awalnya kami fokus membuat produk, lalu berkembang mempelajari kakao dari hulunya,” bebernya.
Dalam sesi praktik, peserta mencoba membuat berbagai kreasi minuman berbasis kakao, termasuk kombinasi cokelat dengan teh Earl Grey dan pistachio yang terinspirasi dari tren minuman modern.
Selain rasa, peserta juga dikenalkan pada teknik penyajian, dekorasi minuman, serta pentingnya tampilan visual dalam industri makanan dan minuman.
Shana, yang membimbing sesi mixology, menjelaskan bahwa teknik penyajian memiliki pengaruh terhadap kualitas akhir produk.
“Es batu penuh itu penting supaya layer minumannya bisa terbentuk,” jelas Shana.
Ia juga menyoroti detail menjadi salah satu faktor yang meningkatkan nilai jual produk minuman.
“Karena memang butuh teknik khusus dan detail dalam penyajiannya,” bebernya.
Selain kakao, peserta juga dikenalkan pada penggunaan bahan turunan perkebunan lain, seperti non-dairy creamer berbahan sawit yang digunakan untuk menghasilkan tekstur minuman lebih creamy.
Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, mengaku tertarik terhadap inovasi bahan tersebut.
“Biasanya kami menggunakan non-dairy creamer berbahan singkong. Ternyata yang berbahan sawit ini juga enak dan bisa dikembangkan,” katanya.
Tidak hanya soal produk, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam penguatan sektor perkebunan. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan bahwa pengembangan perkebunan juga dilakukan melalui pendidikan dan dukungan terhadap pelaku usaha.
“Putra-putri Bapak Ibu yang sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program beasiswa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk uang saku bulanan,” ujar Helmi.
Menurutnya, kesempatan tersebut terbuka tidak hanya bagi keluarga pemilik kebun sawit, tetapi juga pekerja di sektor terkait.
BPDP juga terus mendorong penguatan UMKM berbasis komoditas perkebunan agar mampu menciptakan produk bernilai tambah.
“Kami ingin ini bukan sekadar omon-omon. Kami ingin menjadi sesuatu yang nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” pungkasnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda tertarik membangun usaha berbasis komoditas lokal.
“Mudah-mudahan dari teman-teman mahasiswa ini nantinya ada yang menjadi pengusaha berbasis kakao, kelapa, atau sawit." tambahnya.
Melalui pendekatan edukatif seperti ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kakao Indonesia memiliki kualitas yang kompetitif dan peluang pengembangan yang luas. Dengan pengolahan yang tepat, komoditas lokal bukan hanya menjadi bahan mentah, tetapi juga dapat tumbuh menjadi produk kreatif yang mendukung UMKM sekaligus memperkuat industri hilir nasional.