Bagikan:

JAKARTA – Di balik deru pembangunan yang megah, terselip narasi-narasi tentang keberanian. Kemarin, sebuah catatan emosional sekaligus faktual bertajuk "Nyala Harapan: Menolak Tunduk" resmi diluncurkan oleh organisasi Solidaritas Perempuan. Buku ini bukan sekadar laporan, melainkan potret perjuangan perempuan di berbagai pelosok Nusantara yang sedang mempertahankan ruang hidup dan identitas mereka.

Momen ini pun disambut hangat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Melalui semangat kolaborasi, pemerintah ingin memastikan bahwa suara-suara dari akar rumput ini menjadi dasar kebijakan yang lebih inklusif.

Sinergi untuk Melindungi Hak Perempuan

Isu perempuan bukanlah isu yang bisa diselesaikan sendirian. Margareth Robin Korwa, Asisten Deputi dari KemenPPPA, menekankan pentingnya pendekatan pentaheliks—sebuah kerja sama gotong royong antara pemerintah, komunitas, dan berbagai pihak lainnya.

KemenPPPA mendorong agar narasi dalam "Nyala Harapan" tidak hanya bergema di pusat kota, tetapi juga "mengetuk pintu" pemerintah daerah di 12 komunitas yang terdampak. Tujuannya satu: agar para pengambil kebijakan di daerah melihat langsung bagaimana sebuah proyek besar berdampak pada kehidupan sehari-hari seorang ibu, petani, maupun perempuan adat.

Tiga Potret Perjuangan yang Menggetarkan Hati

Buku ini mengisahkan 12 komunitas, namun ada beberapa cerita yang memberikan gambaran betapa eratnya hubungan perempuan dengan tanah dan airnya:

Perempuan Pesisir Makassar: Pembangunan Makassar New Port ternyata membawa dampak sunyi bagi perempuan di pesisir. Mereka menghadapi tantangan struktural yang mengancam sumber penghidupan dari laut yang selama ini menjadi sandaran hidup keluarga.

Penjaga Tradisi di Poco Leok, NTT: Di Kabupaten Manggarai, proyek geothermal berdampak pada hilangnya ruang untuk menanam pangan dan obat-obatan tradisional. Bagi mereka, kehilangan lahan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga hilangnya identitas sebagai perempuan adat.

Petani Kalimantan Tengah: Program Cetak Sawah Rakyat yang melibatkan pendekatan militeristik menyisakan kekhawatiran akan trauma kolektif bagi perempuan petani. Mereka rindu akan rasa aman saat mengelola tanah warisan leluhur.

"Sumber penghidupan mereka hilang. Mereka juga terpaksa terputus dari identitas mereka sebagai perempuan adat," ungkap Armayanti Sanusi, Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan seperti dilansir dari ANTARA.

Menatap Masa Depan yang Lebih Berdaya

Catatan tahunan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pembangunan yang sejati seharusnya tidak meninggalkan siapa pun, terutama perempuan yang sering kali menjadi penjaga ketahanan pangan dan budaya di rumahnya.

Harapannya, melalui dialog yang jujur antara komunitas dan pemerintah daerah, pembangunan di masa depan bisa lebih ramah terhadap perempuan dan lingkungan. Karena pada akhirnya, "Nyala Harapan" akan terus menyala selama ada ruang bagi perempuan untuk bersuara dan berdaya di tanah mereka sendiri.