JAKARTA - Pernah merasa dikelilingi banyak orang, aktif di media sosial, tetapi diam-diam merasa kesepian? Anda tidak sendiri. Di masa sekolah atau kuliah, sahabat sering hadir “begitu saja” lewat bangku kelas, organisasi, atau tongkrongan tetap. Namun ketika memasuki usia dewasa, ritme hidup berubah: orang pindah kota, fokus karier, membangun keluarga, atau perlahan menjadi pribadi yang berbeda.
Dalam proses itu, lingkaran pertemanan menyusut, sementara kebutuhan akan koneksi justru semakin besar. Melansir Psychology Today, Selasa, 18 November, ada tiga alasan utama mengapa persahabatan modern terasa begitu sunyi dan yang lebih penting, apa yang bisa Anda lakukan untuk memperbaikinya.
Pertama, banyak dari Anda terlalu menunggu orang lain mengambil langkah pertama. Anda mengasumsikan, karena sering bertemu di kantor, pusat kebugaran, atau komunitas, kedekatan akan tercipta sendiri. Kenyataannya, makin dewasa, orang cenderung lebih berhati-hati dan tertutup. Di sinilah spontanitas menjadi kunci. Riset yang dikutip dalam artikel tersebut menunjukkan bahwa obrolan ringan dengan orang asing atau kenalan, sekadar menyapa barista langganan, mengobrol sebentar dengan tetangga, atau menanyakan kabar rekan kerja dapat meningkatkan rasa memiliki dan menurunkan kesepian, bahkan dampaknya bisa selevel dengan hubungan dekat. Alih-alih menunggu disapa, cobalah sesekali menjadi orang yang lebih dulu mengirim pesan, mengajak ngopi, atau memulai obrolan kecil.
Kedua, Anda sering terlalu kaku dalam memaknai koneksi. Standar yang dulu berlaku saat remaja, chat tiap hari, selalu hangout bersama, selalu update kabar tidak lagi realistis ketika hidup diisi pekerjaan, pasangan, dan tanggung jawab lain. Oleh sebab itu, pentingnya kelenturan dan harapan yang lebih “manusiawi” dalam persahabatan dewasa.
BACA JUGA:
Riset menunjukkan bahwa kualitas dan waktu yang dihabiskan bersama teman sangat berhubungan dengan kesejahteraan mental, namun bentuk kebersamaan itu tidak harus selalu berupa pertemuan panjang dan intens. Terkadang, mengirim meme kucing, menyempatkan telepon singkat, atau sekadar bertanya “Hei, kamu gimana?” sudah cukup untuk menjaga rasa dekat. Fokusnya bergeser dari seberapa sering bertemu menjadi seberapa konsisten Anda menunjukkan kepedulian.
Ketiga, banyak dari Anda tanpa sadar mencoba mengontrol hal-hal yang sebenarnya di luar jangkauan: menuntut teman selalu cepat membalas pesan, selalu mengajak kita dalam setiap agenda, atau merespons persis seperti yang kita harapkan. Ketika realitas tidak sesuai bayangan, kekecewaan menumpuk dan persahabatan terasa mengecewakan. Semakin Anda menggantungkan rasa terhubung pada perilaku orang lain, semakin mudah Anda merasa tak berdaya.
Penelitian lain yang dikutip juga menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, persahabatan cenderung menjadi lebih homogen, mirip dalam pendidikan atau jenis kelamin, namun tidak selalu identik dengan diri Anda.
Menerima bahwa teman tidak harus selalu “kembaran jiwa” dan memberi ruang bagi perbedaan dapat mengurangi rasa sepi yang muncul dari ekspektasi yang terlalu ideal. Pada akhirnya, persahabatan di usia dewasa membutuhkan niat, keberanian kecil untuk membuka percakapan, dan kelapangan hati untuk menyesuaikan ekspektasi. Rasa kesepian dalam lingkar pertemanan modern bukan tanda bahwa Anda “gagal” bersosialisasi, melainkan sinyal bahwa cara Anda membangun dan merawat hubungan perlu disesuaikan dengan fase hidup yang baru. Dengan berani mengambil langkah pertama, lebih lentur dalam menjaga koneksi, serta melepaskan kebutuhan mengontrol respons orang lain, Anda memberi kesempatan bagi persahabatan yang lebih tulus, hangat, dan menyehatkan meski mungkin lingkarannya lebih kecil dari dulu.