JAKARTA - Ramyun kini menjadi salah satu hidangan yang digemari masyarakat Indonesia, terutama di tengah maraknya budaya populer Korea Selatan. Kehadiran beragam varian ramyun instan hingga restoran ramyun autentik membuat kuliner ini semakin lekat dengan gaya hidup urban.
Tren ini juga tak lepas dari pengaruh Korean Wave, yang memperluas minat masyarakat Indonesia terhadap segala hal berbau Korea, termasuk kulinernya. Hidangan yang satu ini tidak lagi hanya dianggap makanan praktis, tetapi juga bagian dari pengalaman budaya yang ingin dinikmati banyak orang.
Melihat antusiasme tersebut, Nongshim Indonesia kembali menggelar festival tahunan bertajuk “SHINsational Day 2025”, sebuah perayaan yang menggabungkan kuliner, musik, dan budaya Korea.
Acara yang mengusung tema “Pedasnya SHINsational!” ini digelar di area Gelora Bung Karno Pintu 6, Jakarta, pada Minggu 9 November lalu dan sekaligus memperingati perjalanan panjangnya yang telah hadir sejak tahun 1986.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini tidak hanya menonjolkan sensasi rasa pedas yang menjadi ciri khas Shin Ramyun, tetapi juga mengangkat makna “pedas” sebagai simbol keberanian dan semangat positif dalam menjalani hidup sehari-hari.
Fenomena ini sejalan dengan hasil survei yang menunjukkan K-Food kini menjadi salah satu elemen paling disukai dari budaya Korea, menempati posisi kedua setelah K-Pop dan K-Drama. Hal ini menegaskan gelombang budaya Korea telah berkembang menjadi bagian nyata dari gaya hidup masyarakat Indonesia.
BACA JUGA:
Festival ini dimeriahkan beragam kegiatan interaktif yang menggambarkan kehidupan urban ala Korea. Pengunjung mencoba pengalaman self-cook ramyun, mengikuti parade meriah dengan maskot Shin Ramyun, hingga menantang diri lewat kompetisi SHINsational Slurp Challenge yang mencari ekspresi paling seru saat menikmati mi asal Korea tersebut.
Selain itu, acara ini juga dimeriahkan dengan Random Play Dance, K-Pop Cardio, dan Noraebang Party, yang menjadi ajang bernyanyi bersama khas Korea di penghujung festival.
Salah satu momen spesial dalam festival ini adalah peluncuran tiga varian terbaru Shin Ramyun, yang dikembangkan dengan mempertimbangkan selera masyarakat Indonesia. Ketiga rasa tersebut tetap mempertahankan karakter pedas yang khas seperti spicy chicken, ramyun toomba dan stir fry cheese.
"Pedas bagi kami bukan sekadar rasa, tetapi simbol energi hidup yang berani, positif, dan penuh warna. Melalui festival ini dan peluncuran tiga varian baru, kami ingin membuktikan bahwa Shin Ramyun bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga dirayakan,” ujar Phillip Chen, President Director PT. Sukanda Djaya dalam keterangannya kepada VOI.
Festival ini menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner bisa menjadi jembatan budaya antara Korea dan Indonesia. Melalui acara yang menyatukan unsur makanan, musik, dan komunitas, tidak hanya sekadar makanan instan, tetapi juga simbol semangat, kebersamaan, dan keberanian untuk bereksperimen dengan rasa.