JAKARTA – Kisah anak muda yang berani menembus batas selalu menjadi inspirasi. Salah satunya datang dari Devon Kei Enzo, remaja berusia 15 tahun yang sudah menjalani tahun kedua sebagai mahasiswa di University of Melbourne, Australia.
Di saat sebagian besar teman seusianya masih duduk di bangku SMP, Devon justru berhasil menapaki jenjang perguruan tinggi lebih cepat. Ia melompati tiga tahun masa sekolah dan kini tengah menekuni bidang International Business and Commercial Law.
Devon mulai mengenal dunia commerce dan law sejak berusia 13 tahun di Amerika Serikat, pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Kini, tanpa mengurangi rasa cintanya pada matematika, ia fokus di bidang tersebut dengan semangat untuk mengaplikasikan pengetahuan akademisnya pada kompleksitas dunia nyata nantinya.
“Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini, dan berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya selama perjalanan ini. Australia adalah rumah kedua bagi saya. Saya lahir di sini 15 tahun lalu, dan bisa kembali untuk melanjutkan studi di sini is truly a blessing,"
"Impian saya adalah menggunakan pendidikan bukan hanya untuk personal growth, tetapi juga sebagai jembatan untuk memberi dampak dan membuktikan bagaimana ilmu dapat membentuk masa depan yang lebih baik” ungkap Devon di unggahan Instagramnya.
Sebelum resmi menjadi mahasiswa University of Melbourne yang tercatat sebagai universitas peringkat satu di Australia dan ke-19 dunia, Devon sempat mendapat tawaran dari University of Sydney melalui program Dalyell Scholars yang ditujukan untuk pelajar berprestasi tinggi.
Tak hanya soal kecerdasan akademik, Devon tercatat sebagai anggota Mensa Australia dan Mensa Indonesia, sebuah komunitas internasional bagi orang dengan IQ pada persentase teratas dunia. Meski demikian, ia mengaku selalu mencoba rendah hati dan menganggap setiap pencapaian sebagai hasil dari ketekunan serta kerja keras.
BACA JUGA:
Perjalanan akademis Devon dimulai sejak usia 13 tahun ketika ia mengenal dunia commerce dan hukum di Amerika Serikat. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya dan mengarahkan minatnya pada studi hukum bisnis internasional.
Di luar akademik, Devon dikenal multitalenta. Ia pernah menjadi pembicara muda di sejumlah forum internasional, menulis dua buku inspirasi, hingga tampil di panggung mode seperti Jakarta Fashion Week dan Men’s Fashion Week.
Bersama kakaknya, Mischka Aoki, ia juga menginisiasi program sosial Sejuta Impian yang sudah berjalan lebih dari empat tahun, menjangkau sekolah-sekolah di Indonesia dengan pelatihan public speaking, matematika, dan sains.
Lewat unggahan di media sosialnya, Devon turut menyampaikan rasa syukur bisa kembali ke Australia, tempat ia lahir, untuk melanjutkan studi. Namun, ia menegaskan Indonesia tetap menjadi bagian penting dari dirinya.
"Saya akan selalu membawa Indonesia di hati saya, dan berharap generasi muda tidak pernah menyerah meraih impian, agar bisa berbagi ilmu serta memberi dampak positif bagi sekitar,” tulisnya.
Kisah Devon menjadi bukti bahwa usia bukanlah batasan. Melalui semangat belajar, kerendahan hati, dan konsistensi, anak muda bisa menjadi agen perubahan.