Bagikan:

YOGYAKARTA - Dulu, bekerja lembur hingga larut malam bahkan di akhir pekan dianggap sebagai tanda dedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Namun hal itu kini mulai berubah, bekerja lebih fokus kepada kerja cerdas bukan kerja keras. Karier yang sukses tidak harus mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi.

Karena itu, tidak sedikit negara yang mulai berbenah dengan menerapkan jam kerja yang lebih manusiawi. Namun, masih ada negara yang tetap memprioritaskan kerja keras dibandingkan kesejahteraan karyawan. Fenomena ini menjadi sorotan dalam berbagai studi global, salah satunya yang dilakukan oleh Remote.com. Hasilnya cukup mengejutkan, karena banyak negara besar masuk dalam kategori negara dengan work-life balance terburuk.

20 Negara dengan Work-Life Balance Terburuk

Studi yang dilakukan para ahli dari Remote.com menganalisis 60 negara dengan ekonomi terbesar di dunia guna melihat sejauh mana keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan. Setiap negara dinilai dari berbagai indikator yang mencerminkan kesejahteraan karyawan.

Dilansir dari Boredpanda, ada sejumlah faktor yang dijadikan sebagai indikator penilaian. Di antaranya, jumlah cuti tahunan yang dijamin oleh undang-undang. Selain itu, kebijakan cuti sakit juga diperhitungkan, termasuk apakah pekerja tetap mendapatkan gaji saat sakit.

Jam kerja rata-rata per minggu juga dimasukkan menjadi indikator penting dalam menentukan keseimbangan hidup. Negara dengan jam kerja panjang, apalagi ditambah lembur, umumnya memiliki work-life balance yang buruk.

Faktor ekonomi seperti upah minimum juga berpengaruh besar terhadap kualitas hidup pekerja. Upah rendah tak jarang memaksa pekerja untuk bekerja lebih lama demi memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan juga menjadi penilaian penting dalam pemeringkatan ini.

Sebagai contoh, dalam studi ini, Hong Kong menempati urutan pertama sebagai negara/wilayah dengan work balance terburuk. Budaya kerja di Hong Kong lebih mengutamakan jaminan pekerjaan dan stabilitas keuangan dibandingkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.

Budaya finansial di Hong Kong sangat kompetitif. Akibatnya, para pekerja menggunakan gaji mereka yang tinggi untuk membayar layanan mewah agar bisa lepas dari stres. Namun, pada akhirnya mereka harus bekerja lebih lama lagi untuk bisa membiayai gaya hidup mewah tersebut.

Contoh lain adalah Amerika Serikat yang juga masuk dalam daftar teratas. Negara ini merupakan satu-satunya ekonomi maju tanpa cuti berbayar yang diwajibkan secara federal atau cuti melahirkan berbayar.

Berikut daftar 20 negara dengan work-life balance terburuk di dunia berdasarkan studi yang dilakukan Remote.com:

  1. Hong Kong
  2. Filipina (Manila)
  3. Amerika Serikat (Washington, D.C.)
  4. India (New Delhi)
  5. Kazakhstan (Nursultan)
  6. Uni Emirat Arab (Abu Dhabi)
  7. Meksiko (Mexico City)
  8. Aljazair (Algiers)
  9. Maroko (Rabat)
  10. China (Beijing)
  11. Bangladesh (Dhaka)
  12. Qatar (Doha)
  13. Irak (Baghdad)
  14. Ethiopia (Addis Ababa)
  15. Mesir (Cairo)
  16. Nigeria (Abuja)
  17. Rusia (Moscow)
  18. Turki (Ankara)
  19. Iran (Tehran)
  20. Pakistan (Islamabad)

Itulah 20 negara dengan work-life balance terburuk di dunia. Banyak dari negara-negara tersebut masih bergulat dengan jam kerja panjang dan minimnya perlindungan tenaga kerja. Hal ini menjadi tantangan serius menuju kehidupan kerja yang lebih sehat dan seimbang.

Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+