Begini Cara Memarahi Anak agar Tidak Merusak Psikisnya
Ilustrasi (Benjamin Manley/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Anak-anak kadang menunjukkan sikap manis dan menyenangkan di depan orang tua. Namun, terkadang ada juga momen saat mereka menyebalkan dan membuat kesal. Marah biasanya jadi senjata orang tua menenangkan anak. Namun, jangan sampai melewati batas. Marahlah sewajarnya dan ingat untuk menahan diri agar tidak melukai hati si kecil. Berikut cara wajar memarahi anak.

Beri penjelasan kenapa Anda marah

Ilustrasi (Bruno Nascimento/Unsplash)

 

Kebanyakan orang tua memarahi anak tanpa memberitahukan alasannya. Ini hanya akan membuat si kecil bingung karena tidak mengetahui apa kesalahannya. Anda bisa memberi penjelasan kenapa marah dan kesal padanya, misal terlambat bangun, susah makan, tak mau belajar, dan terlalu banyak main gawai. 

Perhatikan nada bicara dan pemilihan kata

Orang tua kerap memarahi anak dengan suara tinggi untuk menakuti mereka. Padahal, anak lebih bisa menerima bisa Anda bicara dengan tenang. Pemilihan kata yang kurang tepat pun bisa berdampak pada psikologis anak. Sebisa mungkin, hindari kata-kata yang terlalu kasar untuk anak, ya.

Menjauh saat kesal

Saat anak bertingkah menjengkelkan, sebaiknya tahan dulu diri Anda sebelum memarahinya. Jika sudah lebih tenang, barulah coba beritahu si kecil apa saja kesalahannya. Dengan begitu, anak tidak langsung mengecap bahwa Anda adalah orang tua yang galak dan suka marah-marah.

Tidak selalu menghukum anak

Ilustrasi (Xavier Mouton Photographie/Unsplash)

 

Tak semua kesalahan yang dilakukan anak wajib mendapat hukuman. Banyak hal yang sebenarnya masih dapat diatasi dengan memberi contoh, seperti meminta ia mengikuti peraturan di rumah juga terus berkomunikasi agar anak bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan. 

Jika si kecil terus mengulangi kesalahan tersebut, barulah berikan ia hukuman. Namun, pilihlah yang sesuai dengan kesalahannya, ya. Hindari kekerasan dan hukuman fisik.