Bagikan:

YOGYAKARTA – Orang tua yang konsisten, ternyata besar pengaruhnya pada anak-anak. Kalau suatu kali Anda membelikan camilan manis supaya anak bisa terkontrol saat nonton bioskop, lain kali mereka akan minta camilan yang sama padahal akan bikin masalah pada giginya. Contoh ini menunjukkan gambaran kecil bahwa anak-anak perlu diperlakukan secara konsisten. Mereka akan berupaya keras mendapatkan yang diinginkannya. Oleh karena itu, berpeganglah pada batasan awal yang disepakati, saran terapis keluarga Erin Leyba, LSCW., Ph.D.

Ketika orang tua tidak konsisten dengan batasan, akan memperkuat perilaku oposisi anak dan mengundang rengekan, tangisan, atau jeritan. Hal ini membebankan anak untuk berupaya lebih keras dalam mendapatkan sesuatu. Melansir Psychology Today, Kamis, 29 Februari, penelitian menunjukkan bahwa penguatan yang terputus-putus dan acak lebih kuat daripada penguatan biasa. Contoh kecilnya, sekali Anda melanggar batasan awal tidak boleh makan permen dan membolehkannya pada suatu waktu, mereka akan berupaya total di lain waktu untuk mendapatkan imbalan, yaitu permen.

orang tua yang konsisten membantu anak lebih bahagia dan kooperatif
Ilustrasi orang tua yang konsisten membantu anak lebih bahagia dan kooperatif (Freepik/Lifestylememory)

Penelitian yang dilakukan tahun 2016 menunjukkan, remaja yang mengalami lebih banyak konsistensi dalam interaksi positif dengan orang tuanya, memiliki lebih sedikit gejala depresi dan kesehatan fisik. Di sisi lain, perilaku ortu yang negatif dan tidak konsisten dikaitkan dengan munculnya masalah perilaku pada anak usia dini dan memprediksi kegigihannya hingga usia sekolah. Disiplin yang tidak konsisten juga ditemukan dalam memprediksi peningkatan sikap remaja yang berorientasi nakal dan perilaku antisosial.

Melalui rujukan penelitian di atas, konsistensi penting diimplementasikan ortu dalam mendidik anak-anaknya. Pasalnya konsistensi yang tenang dan tegas, dikaitkan dengan kehangatan ortu. Kehangatan ortu mencakup sikap penuh kasih sayang, kasih sayang positif, responsif, dan tidak menghukum.

Kehangatan ortu sendiri berkorelasi signifikan dengan penyesuaian psikologi positif dan disposisi kepribadian. Termasuk kemandirian, harga diri positif, kecukupan diri positif, respons emosional, stabilitas emosional, dan pandangan dunia positif. Sebaliknya, rendahnya tingkat kehangatan pada orang tua dikaitkan dengan tingginya tingkat perilaku oposisi pada anak.

Konsistensi bisa mencakup aktivitas apapun di rumah. Misalnya menerapkan rutinitas, beri anak tugas yang konsisten sehari-hari, beri waktu screentime secara konsisten, alternatif makan malam secara konsisten, ataupun aktivitas sebelum tidur tetap dengan cara yang konsisten.

Upaya apapun yang dilakukan secara konsisten, jelas Leyba, akan meningkatkan perilaku dan kerja sama anak. Itu artinya, anak lebih kooperatif dan mereka akan senang mengetahui apa yang diharapkan. Mereka juga merasa aman karena mengetahui serta rutinitas sehari-hari yang konsisten.