Bagikan:

JAKARTA - Haji Abdul Malik Karim (Hamka) atau lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka, memiliki jasa yang besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai ulama dan sastrawan yang dikagumi semua kalangan, Buya Hamka diangkat pemerintah sebagai Pahlawan Nasional.

Layaknya pahlawan nasional yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Buya Hamka justru lebih memilih untuk dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir.

"Nambo menolak untuk dimakamkan di TMP Kalibata. Padahal, saat itu pemerintah sudah menawarkan untuk di makamkan di TMP Kalibata. Bahkan, saat Buya Hamka meninggal, sudah ada tiga ambulan yang menunggu, diantaranya dari yayasan Bunga Rampai, Rumah Gadang dan pemerintah. Tapi, keluarga memilih untuk menggunakan ambulan dari Rumah Gadang dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, sesuai pesan Buya," ujar Ali Akbar Hasyemi, Cicit dari Buya Hamka saat dihubungi Sabtu, 25 Juli.

Akbar juga menambahkan, alasan kenapa Buya Hamka lebih memilih untuk dimakamkan di TPU Tanah Kusir agar bisa dekat dengan masyarakat. "Seperti kita tahu, kalau untuk ziarah ke TMP Kalibata harus melewati bernagai proses perijinan. Buya Hamka ingin dekat dengan masyarakat, dan siapapun bisa berziarah kapan saja," tambahnya.

Perjuangan Buya Hamka yang begitu besar dalam dunia Islam Indonesia adalah sebagai pemdiri Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu, karya-karya Buya Hamka dalam berdakwah diantaranya adalah Tafsir Al-Azhar, Tasawuf Modern dan Falsafat Hidup. Selain itu ada juga novel karya Buya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau Ke Deli dan Dibawah Lindungan Kabah.

Bagimana perjuangan Buya Hamka dalam berdakwah dan berjuang demi tegaknya kemerdekaan bangsa Indonesia? Semua terangkum dalam film Buya Hamka yang tayang diseluruh bioskop Indonesia pada tanggal 20 April 2023.