Orang Tua Perlu Tahu, 5 Fase Perkembangan Psikoseksual pada Anak
Ilustrasi fase perkembangan psikoseksual (Unsplash/Ethan Hu)

Bagikan:

JAKARTA – Tahapan perkembangan psikoseksual kerap dikaitkan dengan gangguan mental dan kemampuan seorang anak untuk menyelesaikan konflik. Teori mengenai psikoseksual berasal dari Sigmund Freud pada awal 1900-an.

Psikoseksual dalam pandangan Freud, dilansir Healthline, Kamis, 25 November, merupakan cara untuk memahami dan menjelaskan gangguan mental dan emosional. Menurut psikoterapis Dana Dorfman, Ph.D., fase psikoseksual pada intinya menggambarkan kemampuan seorang anak untuk menyelesaikan sebuah konflik, apakah mereka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak.

Mengutip sebuah jurnal Freud Developmental Theory yang ditulis oleh Sarah E. Lantz, Arkansas College of Osteopathic Medicine dan Sagarika Ray, Nassau University Medical Centre, East Meadow, New York, tahap perkembangan psikoseksual adalah salah satu upaya untuk membawa psikologi di bawah struktur ilmiah dan metodologi kedokteran. Penyatuan dua bidang ini dipakai untuk mendefinisikan perkembangan seksual manusia secara normatif.

Menurut Freud, pematangan psikoseksual secara bertahap dibangun secara bertahap melalui 5 fase. Setiap tahap melambangkan konsentrasi libido atau naluri pada area tubuh yang berbeda. Secara normatif, untuk menjadi dewasa seseorang ‘harus’ melewati fase secara berurutan.

Nah, ketika dorongan libidinal ditekan atau tidak dapat dirilis secara tepat, anak tidak puas. Freud mengidentifikasi ketidakpuasan sebagai fiksasi atau perasaan terikat atau terpusat pada sesuatu secara berlebihan. Berikut fase perkembangan psikoseksual pada anak sesuai dengan usianya.

1. Tahap oral

Pada usia 0-1 tahun, tahap oral adalah pusat kesenangan bagi bayi yang baru lahir. Keterikatan paling awal seorang bayi adalah pada orang yang memberikan kebutuhan terhadap kebutuhan oralnya misalnya dengan menyusu dan menghisap jari.

fase perkembangan psikoseksual pada anak
Ilustrasi tahap oral pada perkembangan psikoseksual anak (Unsplash/Colin Maynard)

 

2. Tahap Anal

Toilet training pada usia 1-3 tahun adalah tugas yang menantang selama periode tahap anal pada anak. Dari tahap kesenangan memasukkan ke dalam mulut pada tahap oral menuju tahap anal yang prosesnya sebaliknya.

Mengajarkan anak untuk berhajat yang tepat, perlu dilakukan oleh orang tua. Ternyata, toilet training yang ketat dan keras menyebabkan ketika dewasa bersikap perfeksionis, terobsesi kebersihan, dan pengendalian.

3. Tahap falik atau phallic stage

Tahap ini dianggap paling kontroversial, sebab tahap pada usia 3-6 tahun ini, adalah tahap di mana anak mulai mengalami kesenagan yang terkait dengan alat kelaminnya. Pada fase ini, anak-anak perlu dikenalkan dengan bagian reproduksinya, seperti penis pada lelaki dan vagina pada perempuan.

4. Tahap laten pada usia 6-12 tahun

Pada usia ini, anak mulai bertindak berdasarkan umpuls mereka secara tidak langsung seperti sekolah, olahraga, dan menjalin hubungan. Disfungsi pada tahap ini mengakibatkan ketidakmampuan anak untuk membentuk hubungan yang sehat sebagai orang dewasa.

5. Tahap genital pada usia 13-18 tahun

Ego anak berkembang sepenuhnya selama tahap ini. Mereka kemudian menjadi mandiri untuk beberapa hal, termasuk kematangan organ reproduksi, hingga menciptakan hubungan yang bermakna, langgeng, dan nyata.

Hasrat aktivitas seksual juga berkembang pada fase ini. Jika mengalami disfungsi selama periode ini, mereka tidak akan mampu mengembangkan hubungan yang sehat dan bermakna.