Bagikan:

JAKARTA - Deteksi dini tuberkulosis (TBC) menjadi langkah krusial dalam upaya menekan penyebaran penyakit menular ini. Melalui skrining sejak awal, kasus dapat ditemukan lebih cepat sehingga pengobatan bisa segera dilakukan dan risiko penularan ke orang lain dapat diminimalkan.

Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB Kota Madiun terus menggencarkan upaya penemuan kasus baru TBC guna mencapai target eliminasi pada 2030 yang telah ditetapkan pemerintah.

Kepala dinas setempat, Denik Wuryani, menyatakan bahwa setiap tahunnya fasilitas layanan kesehatan di Kota Madiun ditargetkan mampu menemukan lebih dari 1.000 kasus TBC.

“Setahun target kita 1.000 lebih kasus TB yang harus ditemukan fasilitas layanan kesehatan di Kota Madiun,” ujarnya.

Untuk mempercepat deteksi, program “Gerebek TBC” terus diintensifkan hingga tingkat kelurahan dengan melibatkan tenaga puskesmas serta kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).

Selain itu, masyarakat juga didorong melakukan skrining mandiri melalui aplikasi E-Tibi. Melalui platform tersebut, warga dapat mengisi data diri dan riwayat kesehatan, seperti gejala batuk berkepanjangan atau riwayat kontak dengan penderita TBC, sehingga memudahkan identifikasi awal.

Data dinas menunjukkan bahwa jumlah temuan kasus TBC di Kota Madiun dalam dua tahun terakhir tergolong tinggi. Pada 2025 tercatat sebanyak 1.281 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.268 kasus. Sementara pada awal 2026, sudah ditemukan 158 kasus baru.

Secara kumulatif, dalam tiga tahun terakhir jumlah temuan kasus TBC mencapai 2.707 kasus. Menariknya, sekitar separuh dari total tersebut merupakan pasien dari luar Kota Madiun yang menjalani pengobatan di wilayah tersebut.

Dinas Kesehatan setempat terus mengoptimalkan skrining melalui berbagai program di masyarakat. Di sisi lain, pasien TBC diimbau menjalani pengobatan secara rutin dan tuntas selama minimal enam bulan agar dapat sembuh sepenuhnya. Layanan pengobatan ini tersedia secara gratis di seluruh puskesmas.