LONDON — Pasar minyak dunia berisiko masuk “zona merah” pada Juli atau Agustus jika perang di Timur Tengah tak kunjung mereda.
Dilaporkan The Straits Times, mengutip AFP, Jumat, 22 Mei, peringatan itu disampaikan Kepala Badan Energi Internasional atau IEA, Fatih Birol, di Chatham House, London, pada 21 Mei.
“Kita mungkin memasuki zona merah dalam pasokan pada Juli atau Agustus jika tidak ada perbaikan dalam situasi perang,” kata Birol.
Peringatan itu muncul setelah Iran secara efektif menghentikan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz. Langkah itu disebut sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.
Selat Hormuz adalah jalur penting perdagangan energi dunia. Ketika lalu lintas minyak dan gas di kawasan itu tersendat, harga bisa cepat bergerak naik.
BACA JUGA:
Menurut Birol, surplus minyak sebelum perang sempat membantu meredam guncangan pasar. Namun, persediaan kini mulai menipis.
“Stok terus terkikis,” katanya.
Ia juga memperingatkan produksi dan kapasitas penyulingan membutuhkan “banyak waktu” untuk kembali ke tingkat sebelum perang.
Birol sebelumnya menyebut stok minyak komersial turun “sangat cepat”, meski sejumlah pemerintah telah melepas cadangan strategis.
IEA telah mengoordinasikan pelepasan 426 juta barel dari stok darurat oleh 32 negara anggota. Dari jumlah itu, sekitar 164 juta barel sudah ditarik.
Gencatan senjata pada 8 April menghentikan perang. Namun, upaya perundingan sejauh ini belum menghasilkan kesepakatan damai yang bertahan lama dan masih membebani ekonomi dunia.