JAKARTA - Tidur merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga kesehatan tubuh, terutama otak. Meski demikian, durasi tidur tidak boleh berlebihan karena bisa membahayakan otak, dan memicu risiko demensia hingga alzheimer.
Demensia merupakan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi ingatan, kemampuan berpikir, berperilaku, dan aktivitas sehari-hari. Alzheimer merupakan penyebab demensia paling umum, yang mengganggu sel-sel otak.
Penelitian menemukan bahwa tidur dengan rata-rata 9 jam per malam dapat memicu penuaan otak dan masalah memori di masa depan. Penelitian diikuti 1.853 orang dewasa berusia 27-85 tahun dan mempelajari bagaimana durasi tidur mereka mempengaruhi fungsi kognitif.
Fungsi kognitif setiap peserta diperiksa setiap 4 tahun, dengan indikator standar emas memori, penalaran verbal, kesadaran visual-spasial, dan waktu reaksi.
Tak hanya itu, peserta juga mengisi survei 4 tahun yang merinci durasi mereka tidur tiap malam. Hasilnya, rata-rata mereka yang tidur 9 jam atau lebih per malam selama studi dua dekade memiliki performa buruk dalam keempat tes kognitif.
Peserta yang tidur lebih 9 jam per malam menunjukkan gejala depresi, gangguan suasana hati yang memicu pola tidur berlebihan. Pada peserta yang tidak menunjukkan tanda depresi tapi tidur lebih dari 9 jam per malam mengalami penurunan fungsi kognitif, terutama dalam kognisi global dan reproduksi visual.
“Gangguan dalam durasi dan pola tidur berkontribusi terhadap peningkatan risiko defisit kognitif dan penyakit alzheimer,” kata salah satu peneliti, Profesor Young, dikutip dari Daily Mail, pada Selasa, 20 Mei 2025.
BACA JUGA:
Namun, studi ini belum mengetahui secara pasti kenapa pola tidur dapat mempengaruhi fungsi otak. Meski demikian, studi lain di Swedia menduga penyebabnya adalah ritme sirkadian, siklus alami tidur, dan bangun.