Bagikan:

JAKARTA - Ilmuwan China mengembangkan alat genggam untuk mendeteksi tanda awal kanker paru-paru hanya dari setetes darah. Prototipe ini diklaim mampu memberi hasil dengan akurasi hingga 95 persen.

Dikutip dari The Independent, Selasa, 26 Mei, alat itu dirancang agar deteksi kanker tidak selalu bergantung pada perangkat besar di laboratorium atau rumah sakit.

Selama ini, pemeriksaan kanker membutuhkan alat sensitif untuk membaca perubahan kecil pada cahaya akibat keberadaan molekul dalam sampel. Masalahnya, perangkat seperti itu umumnya besar dan tidak mudah dibawa.

Alat baru ini memakai sensor yang membaca cara molekul membelokkan cahaya. Sensor itu menggunakan cip 3D dari material khusus yang dapat memanipulasi cahaya.

Perangkat tersebut juga dilengkapi pemancar cahaya, pendeteksi cahaya, dan material rekayasa yang dibuat pada wafer semikonduktor 8 inci. Wafer adalah lempeng tipis bahan semikonduktor yang biasa dipakai untuk membuat cip.

Para peneliti menyebut pendekatan ini bisa membuka jalan bagi sistem deteksi kanker yang lebih murah dan dapat digunakan di luar laboratorium.

“Ini sangat menyederhanakan desain instrumen dan membuat proses deteksi lebih cocok dengan sistem diagnosis portabel,” tulis para peneliti di Science X Dialog.

Untuk menguji alat itu, peneliti memakainya untuk mendeteksi vesikel, yaitu komponen sel sangat kecil berbentuk gelembung yang ada dalam darah dan cairan tubuh lain. Kadar vesikel dapat memberi petunjuk soal penyakit tahap awal.

Sensor baru itu mampu mendeteksi vesikel dalam konsentrasi sangat rendah hanya dalam 15 menit. Sensitivitasnya disebut hampir 10.000 kali lebih baik dibandingkan uji laboratorium standar.

The Independent melaporkan, peneliti juga menguji alat tersebut pada 170 sampel serum manusia. Hasilnya, perangkat itu dapat membedakan sampel kanker paru-paru tahap awal dari jaringan sehat.

Akurasi alat itu mencapai 95 persen. Sebagai perbandingan, metode laboratorium Elisa tradisional berada di kisaran 75 persen. Elisa adalah metode uji laboratorium untuk mendeteksi zat tertentu dalam sampel biologis, seperti darah.

Namun, alat ini belum siap masuk klinik atau rumah warga. Para peneliti mengingatkan prototipe tersebut masih punya “jalan panjang” sebelum bisa digunakan luas sebagai perangkat medis.

Mereka meminta studi lebih besar pada lebih banyak kelompok pasien untuk memastikan teknologi ini benar-benar andal.

“Sistem ini juga masih membutuhkan rekayasa lebih lanjut sebelum digunakan secara rutin di klinik atau di rumah,” tulis para peneliti dalam studi yang dimuat di jurnal ilmiah Nature Photonics.