[FESYEN] Intan Anggita Pratiwie | Tentang <i>Slow Fashion</i> dan Revolusi Mode Berkelanjutan
Seniman daur ulang, Intan Anggita Pratiwie (Angga Nugraha/VOI)

Bagikan:

Oktober mendatang, Intan Anggita Pratiwie akan memamerkan kreasi fesyennya di Paris Fashion Week 2021. Tak lepas dari jati dirinya, Intan akan memamerkan busana dalam garis sustainable fashion: semuanya hasil daur ulang. Kami berbincang banyak perihal fesyen, termasuk tentang slow fashion dan berbagai gerakan lain terkait revolusi mode berkelanjutan.

 

Tundukkan kepala. Lihat kemeja, kaus, atau gaun yang kita kenakan di bawah leher kita. Darimana ia berasal? Bagaimana ia dibuat? Ketika pikiran-pikiran itu terbangun, maka kita sesungguhnya tengah mengamalkan perspektif 'ethical fashion'. Perspektif ini yang melandasi banyak pergerakan terkait sustainable fashion.

"Ethically fashion kaitannya dengan mindfulness, bagaimana kita jadikan sandang kebutuhan primer, kita tahu bagaimana pakaian tersebut sampai di customer menjadi tanggung jawab. Dari sisi customer kita tahu source-nya darimana. Apakah ada etika-etika yang dilanggar. Pakaian tersebut diciptakan dengan tanggung jawab atau enggak?" tutur Intan kepada VOI.

Perbincangan dengan Intan berlangsung di sudut mungil nan nyaman di basement kediaman Intan dan suaminya, Aria Anggadwipa di Cipete, Jakarta Selatan. SUBO Jakarta, tempat itu mereka namai. Basement itu disulap Intan dan Angga menjadi listening bar.

Salah satu koleksi vynil SUBO Jakarta (Yudhistira Mahabharata/VOI)
Subo Jakarta (Instagram/@subo.jkt)

Seperti listening bar lain yang banyak berkembang dan telah lama jadi bagian budaya Jepang sejak 1950-an, SUBO Jakarta menawarkan ketenangan dan keintiman. Meski sajian utamanya adalah musik, Intan juga meletakkan etalase Setali Indonesia.

Setali adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang decluttering --dipopulerkan Marie Kondo-- dan thrifting. Dengan cara itu, Setali, yang didirikan Intan bersama Andien Aisyah turut andil dalam gerakan sustainable fashion.

Etalase Setali di Subo Jakarta (Instagram/@subo.jkt)

Didirikan pada 2018, Setali menginisiasi kampanye serta edukasi soal pentingnya pemanfaatan kembali baju-baju bekas. Jalannya macam-macam, bisa disumbangkan atau dibentuk menjadi item lain yang lebih berguna.

"Dulunya kita lebih fokus menukar nilai dari barang jadi uang untuk disumbangkan ke yayasan pendidikan. Tapi ketika itu menjadi backfire di kita karena banyak pakaian dan barang-barang yang menumpuk, aku harus cari solusi untuk mengolah si sampah-sampah yang menumpuk."

 "Ketika itu aku masuk di ranah pakaiannya. Ternyata memang 80 persennya memang tidak layak. Jadi dari situ aku tergerak untuk mendaur ulang pakaian-pakaian tersebut dan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dibanding jadi sampah yang numpuk aja dan kita juga enggak bisa mengolahnya."

Intan Anggita Pratiwie

Sebelum bersama Andien di Setali, Intan telah lama mendaur ulang. Di tahun 2013, ia bersama suaminya, Aria membentuk Menuju Timur, sebuah web independen yang mengusung semangat menumbuhkan kolaborasi-kolaborasi baru di berbagai bidang. Syaratnya, semua benang merah kolaborasi harus berkaitan dengan Indonesia Timur.

 "Bagaimana cara kami menghidupi si Menuju Timur adalah dengan saya mendaur ulang pakaian-pakaian bekas, lalu di-infuse dengan tenun Indonesia Timur. Agar orang-orang, anak muda sekitaran saya juga tahu kalau misalkan tenun Indonesia itu ada cerita di baliknya."

Intan Anggita Pratiwie

Lebih jauh dari itu, Intan bukan tiba-tiba menjalani kehidupan sebagai seniman daur ulang. Intan hari ini adalah hasil pergaulan sehari-hari dalam waktu 30 tahun hidupnya. Sentuhan dengan barang bekas dan daur ulang telah dimulai sejak kecil. Intan bercerita soal ibunya yang memiliki kebiasaan mendaur ulang. Atau ayahnya yang aktif dalam kegiatan jual-beli mobil bekas yang di-refurbish.

 "Jadi semuanya itu adalah serapan dari hasil pergaulan sehari-hari dalam rentang waktu 30 tahun lebih saya hidup. Jadi ini bukan hasil tiba-tiba. Dan aku juga enggak percaya adanya kebetulan. Jadi ini memang connecting the dot yang nanti arahnya akan menjadi full circle, gitu."

Intan Anggita Pratiwie

Slow fashion sebagai penyeimbang

Ilustrasi foto (Nguyen Dang Hoang/Unsplash)

Dilansir Katadata.co.id, sepanjang kuartal I 2019, industri tekstil dan pakaian mengalami lonjakan signifikan dengan pertumbuhan 18,98 persen. Pencapaianini jauh lebih tinggi dari capaian kuartal I 2018 yang kisaran angkanya 7,46 persen, bahkan melebihi pencapaian sepanjang 2018: 8,73 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan peningkatan 4,45 persen per tahun dalam produksi industri manufaktur besar dan sedang pada triwulan I 2019. Peningkatan ditopang produksi sektor industri pakaian jadi yang melesat hingga 29,19 persen.

Lonjakan pesanan, terutama dari pasar ekspor jadi pemicu. Pola distribusi pakaian ready-to-wear menuntut kecepatan dan produksi massal (fast fashion). Hal ini yang banyak dikhawatirkan memunculkan masalah limbah fesyen. Perkara limbah ini cuma satu lapis permasalahan fast fashion.

Mengutip data situs United Nation for Climate Change, konsumen masih terbiasa membuang sepatu dan pakaian dengan angka rata-rata 70 pon per orang di setiap tahunnya. Beberapa pemangku kepentingan dan komunitas membangun program daur ulang tekstil, di mana 85 persen limbah ini masuk ke tempat pembuangan sampah dan menempati sekitar 5 persen dari seluruh ruang di tempat pembuangan akhir.

Secara simultan, tekstil bekas itu akan diolah kembali menjadi pakaian baru. Namun, daur ulang saja tak cukup. Dibutuhkan upaya lain untuk mengimbangi derasnya produksi industri tekstil dan konsumtivitas manusia terhadap item fesyen.

Pemilahan ratusan ton pakaian untuk misi sosial bernama Clothing the Loop (Francois Le Nguyen/Unsplash)

Banyak yang mendefinisikan slow fashion sebagai antitesis dari budaya fast fashion yang jadi arus utama dalam pola industri tekstil. Padahal tak selalu begitu. Slow fashion dapat jadi penyeimbang. Intan merinci sejumlah hal yang bisa kita lakukan untuk memulai slow fashion secara mandiri.

"Sebenarnya kalau kita mau ngomongin slow fashion, itu ada beberapa cara kalau kita mau melakukan slow fashion sejak sekarang. Balik lagi, si slow fashion adalah sesuatu yang berlapis-lapis. Kamu mau ngomong dari sudut pandang mana. Sudut pandang produsen kah? Konsumen kah? Atau memang dari si komunitas penggerak?"

Hal pertama adalah reuse, yakni menggunakan baju bekas, baik secara turun-temurun atau mengadopsi pakaian kerabat. Dalam lingkup lebih luas, gerakan reuse juga dijalankan oleh sejumlah organisasi. Hari ini kita tahu ada beberapa komunitas yang aktif memfasilitasi gerakan tukar baju, seperti Zerowaste Indonesia, misalnya. Di dunia, gerakan reuse-lah yang mengawali thriftshop.

 "Itu yang memulainya tuh Salvation Army. Setelah Amerika, yang paling gencar, juga Australia. Di Melbourne ada Savers yang sudah lumayan gede. Jadi Si Savers juga mengembalikan bentuk pakaian bekasnya ke uang, lalu dia subsidi kepada komunitas-komunitas yang membutuhkan. Begitu halnya dengan Setali. Kalau Setali masuknya ke ranah pengembangan, empowering penjahit-penjahit vermak keliling."

Intan Anggita Pratiwie

Intan Anggita Pratiwie (Angga Nugraha/VOI)

Selain reuse, ada pula reduce. Reduce adalah upaya memilih pakaian dengan kesadaran untuk menekan jumlah pembelian. Dengan kata lain, reduce adalah ketika seseorang memertimbangkan pembelian pakaian agar usianya panjang. Pertimbangannya macam-macam, termasuk pemilihan baju berdasar bentuk yang basic atau desain-desain yang timeless.

 "Jadi kita tidak perlu membeli sandang dalam jumlah yang banyak atau terlalu sering, gitu. Dan itu juga bisa kita lakukan dengan membeli produk-produk lokal. Karena kalau kita membeli dari impor, itu tuh bisa jadi kita menambahkan si carbon footprint. Ada emisi yang dikeluarkan di situ."

Intan Anggita Pratiwie

Yang ketiga, repair, yakni budaya memerbaiki barang-barang yang sudah tak terpakai. Bentuknya macam-macam. Di Jepang, masyarakat bahkan mengenal budaya ini sebagai seni sashiko. "Terus kita juga suka take it for granted sama tukang vermak kelliling juga tukang sol sepatu. Itu masuknya ranah repair."

Terakhir adalah recycling alias daur ulang. Daur ulang terbagi menjadi dua: downcycling dan upcycling. Downcycling adalah daur ulang dengan terlebih dahulu menghancurkan pakaian, meleburnya menjadi serabut-serabut dengan mesin daur ulang.

Dalam proses ini, serabut-serabut itu biasanya akan dipintal lagi menjadi kain. Dan yang juga penting, dalam proses downcycling, setiap bagian pakaian --termasuk ritsleting, kancing, dan lainnya-- dipisahkan terlebih dulu. Di Indonesia, start up besutan Aryenda Atma, Pable telah menjalankannya.  

Sementara, upcycling adalah menambah nilai barang bekas. Upcycling berkaitan erat dengan seni memodifikasi pakaian. Hari ini, kita bisa melihat seni upcycling lewat sentuhan-sentuhan artis, seperti Ican Harem, Street Division ataupun Controlnew. Intan berdiri di antara itu, di ranah closed-loop fashion yang jadi kombinasi antara downcycling dan upcycling.

Menuju Paris Fashion Week 2021

Intan tak sendiri. Ia akan berangkat ke Paris Fashion Week 2021 bersama Nonita Respati dari Purana Indonesia. Keduanya akan tampil bersama Fashion Division. Fashion Division adalah fashion career center pertama di Indonesia dan Asia.

Didirikan tahun 2015, Fashion Division mendefinisi ulang fashion learning dengan mengadaptasi sistem pendidikan Prancis 'alternance'. Bagi Intan, ini adalah kali pertama ia memamerkan karyanya di taraf internasional.

Kesertaan Intan di Fashion Division telah dimulai sejak tahun lalu. Saat itu ia mengirim portofolio berlabel Sight from the Earth. Portofolio itu dijawab positif. "Ada beberapa kali penyaringan, lalu aku coba beberapa konsep. Konsepnya adalah sepuluh item hasil decluttering yang aku daur ulang."

Intan memersiapkan rencana khusus untuk perjalanannya menuju Paris. Perjalanan itu akan ia mulai ketika menyentuh Eropa, lewat jalur darat bersama keluarganya, Subo Family. Jalur darat dipilih Intan untuk mengampanyekan mode berkelanjutan. Bekerja sama dengan Carbon Ethics, jumlah karbondioksida yang dihasilkan dari perjalanan darat Intan akan dihitung dan diseimbangkan.

"Aku di sana akan berkolaborasi dengan artis lokal atau orang Indonesia yang sudah duluan di Eropa dan mereka juga masuk ke ranah sustainable fashion, aku pengin belajar banyak dari mereka. Lalu hasil dari perjalanan tersebut kan ada karbondioksida yang dikeluarkan, nanti kami akan offsetting, bekerja sama dengan Carbon Ethics, menjadikan fundraising, orang bisa dukung perjalanan kami. Orang juga bisa beli mangrove. Nantinya mangrovenya ketika pulang akan kita olah menjadi natural dyeing."

 

INTERVIU Lainnya