Eksklusif, Soal Kebijakan Impor Bahan Pangan, Ini Penjelasan Arief Prasetyo Adi   
Arief Prasetyo Adi uraikan soal kebijakan impor bahan pangan dari Lembaga Pangan Nasional atau National Food Agency. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Bagikan:

Setelah satu dasawarsa akhirnya sebuah lembaga yang diamanatkan pasal 129 UU No 18 tahun 2012 tentang Pangan terbentuk. Berdasarkan Peraturan Presiden No 66 tahun 2021, Presiden Jokowi membentuk dan melantik Arief Prasetyo Adi sebagai Kepala Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA). Menurut Arief ada tiga tugas utama yang diemban lembaganya, termasuk di dalamnya soal kebijakan impor bahan pangan.

***

Presiden Jokowi melantik Arief Prasetyo Adi sebagai Kepala Badan Pangan Nasional pada 21 Februari 2022  di Istana Negara, Jakarta. Di lingkungan lembaga dan komunitas pangan serta retail moderen, ia bukan orang baru. Arief pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya periode 2015 – 2020. Setelah itu ia menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Induk Holding BUMN Pangan atau ID Food.

Ada tiga tugas utama Badan Pangan Nasional. Pertama menjaga ketersediaan dan stabilisasi pangan. Kedua, menanggulangi kerawanan pangan dan gizi. Dan yang ketiga penganekaragaman konsumsi dan keamanan masyarakat. Dalam konteks impor atau tidak impor bahan pangan, Badan Pangan Nasional akan merekomendasikan pada kementerian terkait.

Baru dua bulan setelah dilantik Arief langsung tancap gas. Soalnya ia harus berhadapan dengan situasi real di lapangan. Ramadan dan Idulfitri adalah momen yang amat krusial saat sebagian besar masyarakat Indonesia menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan lebaran. Biasanya harga bahan kebutuhan pokok terutama daging akan melambung. Bahkan ada yang memprediksi daging sapi segar bisa terkerek hingga Rp200,000 perkilogram.

Apa yang dilakukan Badan Pangan Nasional dan Kementerian terkait menyambut Ramadan dan Idulfitri lalu? Prediksi harga daging ternyata tak mencapai praduga sebelumnya. “Kami harus mempersiapkan ketersediaan pangan 9 produk yang tadi disebut termasuk daging. Kalau kita lihat pada waktu awal Ramadan itu disampaikan bahwa harga daging sapi akan Rp200.000 nggak ada yang terjadi. Kenapa nggak terjadi karena kita siapkan beberapa rencana sebelum peak season,  sebelum lebaran,” jelas Arief yang pernah menjabat sebagai Deputy CEO, COO di PT Bez Retailindo, Paramount Enterprise International periode tahun 2013-2015. Ia juga pernah berkarya di perusahaan retail moderen seperti PT Lotte Shopping Indonesia dan PT Hero Supermarket Tbk., serta Esteem Challenge, Sdn., Bhd Malaysia.

Persoalan impor bahan pangan selama ini selalu dipertanyakan. Menurut Arief, saat Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan pangan secara mandiri dari dalam negeri, impor adalah keniscayaan. Namun sebelum melakukan impor mereka melakukan koordinasi dengan Kementerian terkait untuk menentukan berapa besar jumlah bahan yang harus diimpor. Dan sebelum impor dilakukan produksi lokal harus mendapat prioritas. “Selain itu timing impor juga harus pas, jangan impor dilakukan jelang panen raya. Itu akan menyulitkan petani, harga bisa anjlok dan hasil panen mereka tak bisa terserap dengan harga yang pantas,” paparnya kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai dari VOI yang menyambanginya di kantor Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA), Komplek Departemen Pertanian, Ragunan, Pasar Minggu, Jakata Selatan belum lama berselang. Inilah petikan selengkapnya.

Menurut Arief, saat Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan pangan secara mandiri dari dalam negeri, impor adalah keniscayaan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Menurut Arief Prasetyo Adi, saat Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan pangan secara mandiri dari dalam negeri, impor adalah keniscayaan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Presiden Jokowi membentuk Badan Pangan Nasional, apa bedanya dengan Bulog yang selama ini menjadi tulang punggung pemerintah dalam pengadaan pangan di tanah air?

Badan Pangan Nasional ini terbentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 66 tahun 2021.  Kemudian di sana ada kewenangan dari 3 Kementerian yang diberikan kepada Badan Pangan Nasional, Kementerian Perdagangan,  Kementerian Pertanian dan yang Kementerian BUMN. Dari Kementerian Perdagangan itu mengenai perumusan kebijakan, penetapan stabilisasi harga dan juga distribusi pangan. Kemudian perumusan kebijakan dan penetapan kebutuhan ekspor impor pangan. Jadi bukan izin impor, tetapi neraca pangannya.

Dari Kementerian yang pertama adalah penetapan besaran jumlah cadangan pangan pemerintah. Berapa cadangan pangan pemerintah yang akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara di bidang itu mau berapa banyak. Kemudian yang kedua adalah kebijakan dan penetapan harga pembelian pemerintah dan rafaksi (diskonted).

Dari Kementerian BUMN adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang usaha milik negara,  menguasakan kepada Kepala Badan Pangan Nasional untuk memutuskan penugasan Perusahaan Umum Bulog, dalam pelaksanaan kebijakan pangan nasional. Jadi tidak ada irisan antara Bulog dengan Badan Pangan Nasional tapi Bulog nanti akan berada di bawah Badan Pangan Nasional. Dalam Perpres nomor 66 tahun 2021 sudah disebutkan; padi, jagung, kedelai, gula konsumsi, bawang merah, bawang putih, telur daging ruminansia, daging unggas, cabe keriting dan cabe rawit.

Apa program Anda sebagai Kepala Badan Pangan Nasional?

Badan Pangan Nasional akan memiliki tiga deputi, pertama itu bidang ketersediaan dan stabilisasi pangan. Kedua, bidang kerawanan pangan dan gizi. Yang ketiga bidang penganekaragaman konsumsi dan keamanan. Saat dilantik pada 21 Februari 2022 sebagai Kepala Badan Pangan Nasional,  di Istana Negara oleh Presiden. Setelah itu kita langsung  mempersiapkan Idulfitri. Kami harus mempersiapkan ketersediaan pangan 9 produk yang tadi disebut termasuk daging. Kalau kita lihat pada awal Ramadan itu disampaikan bahwa harga daging sapi akan Rp200.000 nggak ada yang terjadi. Kenapa nggak terjadi karena kita siapkan beberapa rencana sebelum peak season  sebelum lebaran.

Yang pertama mobilisasi stok sapi hidup dari beberapa daerah; Jawa Timur  dan Jawa Tengah. Kemudian kita mempercepat datangnya sapi hidup dari Australia. Yang ketiga mempercepat kedatangan daging sapi frozen dari Brazil dan India.

Kita bicara ketersediaan berarti yang pertama kita lakukan adalah menyiapkan neraca pangan. Dalam satu tahun kebutuhan kita pada daging lembu (sapi dan kerbau) 706.000 ton. Setiap bulan kebutuhannya kurang lebih 58.000 ton.  Kemudian kita tinggal menyiapkan untuk persiapan selama tiga bulan sekitar  180.000 ton. Selama bisa kontrol  kita bisa menjaga itu semua. Kemudian ada juga yang harus dikonversi dari dari sapi hidup menjadi daging sapi atau kerbau. Saat lebaran kemarin semua sudah tersedia jadi tidak ada masalah dengan harga daging. Memang ada yang mencapai 130.000 sampai 150.000 ribu perkilogram karena memang ada kenaikan dari negara asal.

Kita juga memberikan alternatif kepada konsumen selain daging sapi segar, ada yang lebih murah daging frozen Brasil sekitar Rp110,000. Ada lagi yang lebih murah  80,000-100,000 yaitu daging kerbau. Kita bisa mengedukasi masyarakat bahwa selama kita belum bisa memenuhi kebutuhan pangan kita dari domestik, ini akan terpengaruh dengan harga di negara asal, nilai tukar rupiah, ongkos distribusi dari negara asal. Itu dari sisi daging, hal sama bisa diurai pada 8 bahan pokok lainnya.

Fakta menunjukkan, 90 persen lebih kebutuhan daging Indonesia kata Arief Prasetyo Adi, belum bisa dipenuhi peternak lokal. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Fakta menunjukkan, 90 persen lebih kebutuhan daging Indonesia kata Arief Prasetyo Adi, belum bisa dipenuhi peternak lokal. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Dari kebutuhan daging tersebut berapa persen yang bisa dipenuhi dari domestik?

Dari kebutuhan bulanan 58.000 ton daging lembu,  90 persen lebih harus diimpor. Setiap akan melakukan impor atau melakukan pemenuhan kebutuhan itu pasti ada rekomendasi teknis. Rekomendasi teknis itu dari Kementerian teknis. Gula berarti Kementerian Perindustrian, daging berada di Kementerian Pertanian, beras dari Kementerian Pertanian, izin impornya dari Kementrian Perdagangan. Tugas Badan Pangan Nasional adalah menghitung ketersediaan dan stabilisasi harga.

Bagi Badan Pangan Nasional mengenai ketersediaan kita tentukan neracanya,  sehingga kita harus siapkan ke depan itu mau stok 2 sampai 3 bulan kita harus putuskan. Untuk produk-produk yang memang tidak bisa disimpan lama dibutuhkan teknologinya, seperti bawang merah jangan pas panen semua bareng, Menteri Pertanian sudah benar produksi kedua baik kemudian teknik penyimpanannya kita nggak punya teknologinya.

Saya sudah minta tim untuk mencari teknologi apa yang bisa memperpanjang umur simpan (shelf life) dari bawang merah dan cabe. Jangan sampai ada yang buang bawang, cabe, telur karena harganya lebih rendah dari ongkos produksi. Jadi mesti komprehensif dan siapa yang mengerjakan apa supaya jelas.

Untuk beras bagaimana neraca kebutuhannya?

Untuk beras kebutuhan per tahun itu sekitar 20 juta ton, sedangkan  produksinya 31,8 juta ton. Jadi kita surplus beras.

Tapi mengapa masih ada impor beras?

Yang diizinkan impor beras itu adalah beras beras khusus untuk  kebutuhan  hotel, restoran dan katering yang tidak bisa ditanam di Indonesia. Seperti beras basmati, dan beras Jepang.  Sebagian beras Jepang sudah bisa diproduksi di dalam negeri, kebutuhan impornya langsung dikurangi. Untuk keledai neraca kita itu sekitar 2,8 juta ton harus diimpor.

Harga telur sempat naik sebelum lebaran, bagaimana dengan ini?

Harga telur mustinya di atas Rp26.000 perkilogram. Kalau harganya di bawah itu artinya ongkos produksinya lebih rendah dari harga jual telur. Ini publik harus diedukasi. Agar peternak tidak merugi. Kalau terus-terusan merugi siapa yang mau jadi peternak. Kalau ini terus terjadi kita semua yang akan kesulitan. Karena itu harga jual harus di angka yang wajar. Tidak bisa harga tahun lalu sama dengan tahun ini, karena ada komponen produksi yang naik. Begitu juga untuk komoditas lain seperti beras dan bahan pokok lainnya.

Bagaimana agar impor bahan pangan ini bisa melindungi produksi dalam negeri?

Keputusan impor bahan pokok tertentu memang harus berdasarkan neraca kebutuhan pertahun dan melihat produksi di dalam negeri. Keputusan untuk melakukan impor harus tepat waktunya. Jangan sampai impor dilakukan jelang panen raya, atau terlambat impor sehingga harga melambung. Badan Pangan Nasional mengingatkan setiap hari persoalan ini agar stakeholder pangan bisa mengambil keputusan yang tepat. Jadi kita tidak antimpor, karena memang harus dilakukan berdasarkan kebutuhan dalam negeri. Tetapi sebelum impor produksi dalam negeri harus menjadi prioritas. Lalu harus ada strategi keuntungan dari impor bahan pangan itu untuk membangun pangan lokal. Itu yang harus kita kerjakan bersama sebagai bangsa. Saat kita diband beberapa produk pangan dari luar misalnya gandum, kita bisa mengetahui seberapa besar ketahanan pangan dan kedaulatan kita.

Peran Badan Pangan Nasional sangat strategis dalam merekomendasikan bahan pangan  apa yang harus impor, namun di daerah tidak ada perwakilan, bagaimana mengatasi hal ini?

Ini yang paling penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan, jadi engga mesti impor. Bagaimana Badan Pangan Nasional merekomedasikan kalau Kendal butuh  pakan ternak, sementara Dompu, Sumbawa panen jagung. Jadi kebutuhan Kendal bisa ditutupi dari Dompu dan daerah lainnya.

Soal Badan Pangan Nasional tidak ada di daerah tidak soal, nggak perlu boros-boros membuat badan pangan daerah. Kita akan optimalkan dinas-dinas di 514 kabupaten kota yang berurusan dengan pangan bersama kita. Berat? Engga, kita bisa kerjakan Bersama teman-teman di daerah.

 

Ini Kiat Arief Prasetyo Adi dalam Melakoni Hidup, Anda Juga Bisa Melakukannya 

Dalam melakoni hidup yang menjadi prioritas Arief Prasetyo Adi adalah ikhtiar dan isti'anah. Untuk  hasilnnya bertawakkal pada yang Maha Kuasa. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Dalam melakoni hidup yang menjadi prioritas Arief Prasetyo Adi adalah ikhtiar dan isti'anah. Untuk hasilnnya bertawakkal pada yang Maha Kuasa. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Setiap orang punya kiat sendiri-sendiri dalam melakoni hidup, begitu juga Arief Prasetyo Adi. Dan ia tak pelit berbagi tips soal kebiasaan hidup dan keseharian yang dilakukannya. Seperti tips hidup sehat dan bagaimana mencapai kesuksesan. Apa yang dilakukannya bisa menjadi inspirasi, karena hal itu bisa juga dilakukan kapan pun dan di mana pun.

“Untuk kita hidup sehat itu dalam melakukan kegiatan sehari-hari itu semuanya harus seimbang. Dalam mengelolah pekerjaan, keluarga dan bermasyarakat. Tipsnya adalah ikhtiar yaitu bekerja dengan sebaik-baiknya, lalu isti’anah artinya berdoa pada Yang Maha Kuasa. Terakhir hasil, itu sudah tidak ada kewajiban kita. Hasil itu sudah kuasa Tuhan, Allah SWT. Apa pun hasilnya kita tawakkal pada Allah. Tapi kalau kita sudah berusaha dengan baik, diiringi doa saya rasa hasilnya Insya Allah baik juga,” kata pria kelahiran Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 27 November 1974 ini.

Agar kualitas hidup lebih baik dan sehat, Arief juga melakukan olahraga dan istirahat yang cukup. “Olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan. Satu lagi tidak perlu banyak pikiran, tidur diupayakan cukup walau pun dalam realitasnya sudah tidur yang cukup,” lanjutnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah dukungan keluarga. “Happy family juga penting. Do’a dari seorang ibu kalau kita masih punya ibu, doa dari istri dan anak-anak juga amat penting. Menjaga sillaturahmi juga penting seperti hari ini Anda dan team VOI bersillaturahmi dengan saya itu juga tidak kalah pentingnya untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik,” kata Arief yang selepas SMAN 1 Jakarta melanjutkan kuliahnya di Teknik Sipil, selesai 1998 dan melajutkan di Magister Teknik, Manajemen Konstruksi, selesai 2000 di Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Menurut Arief pada dasarnya dia suka olahraga bulutangkis, berenang, basket, futsal. Namun dengan bertambahnya kesibukannya kegemaran pada beragam jenis olahraga itu tak bisa ia realisasikan. “Tapi kalau enggak cukup waktu untuk melakukan itu, biasa saya jalan. Jalan dari titik yang satu ke titik yang lain di kantor. Naik turun dari lantai 1 ke lantai 4 dan sebaliknya. Jalan dari kantor ke peternakan, dari kantor ke gudang, sampai berkeringat dan bernar-benar melakukan exercise,” katanya.

Tak cukup dengan itu pola makan, lanjut Arief juga penting dan harus dijaga untuk orang yang sudah di atas 40 tahun. “Biasanya metabolisme orang di atas 40 tahun itu udah mulai turun, jadi keseimbangan atau pola makan menjadi concern kita,” katanya.

Namun, masih kata Arief, dia bersyukur dia belum ada makanan yang harus dipantang. “Sampai saat ini saya alhamdulillah engga ada,  semua masih oke. Sea food, oke, bakso oke, yang penting nggak boleh berlebihan,” ungkapnya.

Meski masih bisa makan apa saja, namun Arief tahu diri. “Jadi makan secukupnya sesuai kebutuhan, bukan maunya tapi perlunya apa. Kalau maunya makannya ABCD, banyak maunya. Tapi kalau butuhnya daging cuma berapa gram,  vitamin ABC, serat berapa kebutuhannya cuma itu. Antara mau sama butuh itu dua hal berbeda. Jadi kita harus bisa mengontrol diri kita,”  katanya.

 

Keluarga

bagi Arief Prasetyo Adi, keluarga tak kalah pentingnya dengan pekerjaan. Bagaimana menyeimbangkan antara keduanya adalah tantangan tersendiri. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Bagi Arief Prasetyo Adi, keluarga tak kalah pentingnya dengan pekerjaan. Bagaimana menyeimbangkan antara keduanya adalah tantangan tersendiri. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Bagi Arief keluarga adalah hal yang penting, tak kalah dengan pekerjaan. Lalu bagaimana menyelaraskan antara keduanya? Bagaimana menjaga quality time dengan keluarga anak dan istri? “Pekerjaan itu penting, keluarga juga penting.  Jadi membuat itu semua itu balance adalah suatu challenge tersendiri,” katanya.

Ia mengumpamakan pada sebuah hard disk yang harus dipilah-pilah peruntukannya.  “Seperti sebuah hard disk ada bagian untuk keluarga, kantor, rumah, orangtua dan sebagainya. Semua harus mendapat perhatian secara proporsional,” katanya.

Apalagi, lanjutnya seorang pejabat publik seperti dirinya, tidak bisa egois hanya mementingkan urusan pribadi atau keluarga sendiri. Arief juga memberi pengertian kepada anggota keluarganya, kalau dirinya sebagai pejabat publik juga milik orang banyak. “Khairunnas anfauhum linnas artinya sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa bermanfaat untuk manusia yang lain,” katanya.

“Semoga perbincangan antara saya dengan VOI hari ini ada manfaatnya ada manfaatnya bagi semua stake-holder pangan, masyarakat dan ada edukasi di situ, itulah sebaik-baik umat,” lanjutnya.

  

Kreatif

Menurut Arief Prasetyo Adi kesuksesan itu harus direncanakan dan diraih. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Menurut Arief Prasetyo Adi kesuksesan itu harus direncanakan dan diraih. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

 

Sebagai Kepala Badan Pangan  Nasional, Arief adalah mensosialisasikan agar publik mengonsumsi pangan yang beraneka. “Salah satu tugas dari Badan Pangan Nasional itu adalah penganekaragaman konsumsi. Jadi tidak melulu makan nasi goreng, tak hanya makan ikan tongkol saja, ada banyak ikan-ikan yang lain. Edukasinya sumber protein itu bisa didapat dari hewani dan juga nabati. Bisa diganti kacang-kacangan ya seperti kedelai, tahu dan tempe. Kalau tidak bisa makan daging merah, daging putih juga bisa; ikan atau ayam,” jelasnya.

Untuk mensosialisikan penganekaragaman konsumsi publik pada produk pangan, Arief mengajak public figure seperti selebriti chef. “Kami menggelar cooking demo agar publik bisa mencontoh di rumah. Tentang ikan kembung, tahu tempe dan aneka kenis bahan pangan lainnya. Yang harus di-deliver ke publik bahwa kebutuhan maunusia itu tidak hanya karbohidrat, tapi juga perlu protein, lemak, dan lain-lain. Yang tidak boleh itu kebanyakan atau berlebih,” katanya.

Badan Pangan Nasional, dengan BUMN Pangan, Indonesia Chef Association kata Arief, akan menggelar sosialisasi setiap bulan. “Mudah-mudahan bisa dilaksanakan setiap bulan, nanti kami juga akan mengajak media untuk ikut terlibat dalam kegiatan ini,” katanya.

Sukses itu, kata Arief, ditentukan oleh diri sendiri. Untuk mencapai kesuksesan perlu perencanaan sejak dini, sejak sekolah. “Temen-temen milenial, anak muda harus membuat rencana untuk menggapai kesuksesan. Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki, jangan fokus pada kekurangan kita. Setiap orang punya kelebihan yang orang lain itu tidak punya. Apa yang menjadikan kita berbeda dan bermanfaat untuk orang lain,” katanya.

Orang kreatif, lanjut Arief adalah orang yang bisa mem-value dirinya dan mengoptimalkan hal tersebut.  “Kalau kita bisa tergantikan oleh mesin, berarti ada yang salah dengan diri kita. Tapi kalau kita tidak tergantikan oleh mesin itu baru kita bernilai. Karena kita punya pikiran, kita punya akal. Pada saat nanti semuanya akan tergantikan oleh mesin atau robot, itulah yang membedakan kita. Kita punya pemikiran, idea dan kreatifitas,” tandas Arief Prasetyo Adi sembari mengajak kamum milenials untuk berkarier di kancah pangan demi kejayaan pangan nasional.

 

“Keputusan impor bahan pokok tertentu memang harus berdasarkan neraca kebutuhan pertahun dan melihat produksi di dalam negeri. Keputusan untuk melakukan impor harus tepat waktunya. Jangan sampai impor dilakukan jelang panen raya, atau terlambat impor sehingga harga melambung. Badan Pangan Nasional mengingatkan setiap hari persoalan ini agar stakeholder pangan bisa mengambil keputusan yang tepat.”

 

Arief Prasetyo Adi