Eksklusif, Soerjanto Tjahjono Ungkap 80 Persen Kecelakaan di Tol Karena Faktor Kelelahan
Menurut Soerjanto Tjahjono kecelakaan di jalan tol 80 persen karena kelelahan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Meski dikenal sebagai jalan bebas hambatan, namun kecelakaan tetap ada di jalan tol. Menurut Soerjanto Tjahjono Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kecelakaan yang terjadi di jalan tol 80 persen disebabkan karena faktor kelelahan. Di masa mudik lebaran sekarang ini untuk Anda yang menggunakan jalan tol dan juga jalan non tol, harus benar-benar memperhatikan faktor kelelahan dan juga faktor lain demi keselamatan. Lebih baik istirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan, daripada terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

***

Belum hilang dalam ingatan kita setahun silam terjadi kecelakaan maut di jalan tol ruas Jombang - Mojokerto yang menewaskan pasangan artis Vanessa Angel dan suaminya Bibi Ardiansyah. Saat itu tiga penumpang lainnya, sopir, pengasuh bayi dan Gala Sky, buah hati pasangan Vanessa-Bibi berhasil selamat dari kecelakaan. Pada Senin 18 April satu lagi kecelakaan maut yang terjadi di ruas jalan tol Pasuruan – Probolinggo, kali ini melibatkan kelompok band Debu.  Dua orang tewas dalam laka lantas ini;  Firdaus (31) warga Kuala Lumpur, dan Alhadad Amal Sheikh Aidaros (30) warga Selangor.

Itu hanya contoh kecil di antara sekian banyak laka lantas yang terjadi di jalan tol. Dari pantauan yang dilakukan pihak KNKT, 80 persen penyebab kecelakaan di jalan tol karena faktor kelelahan. “Nah ini menarik, sekarang presiden sudah bikin jalan tol ribuan kilometer. Kesiapan kita masyarakat dan semua aspek yang mendukung keselamatan di jalan tol ini harus benar-benar memahami persoalan. Ingat 80 persen kecelakaan di jalan tol akibat kelelahan, jadi itu yang harus kita perangi,” kata Soerjanto Tjahjono.

Presiden Jokowi dalam keterangannya pada  Rabu, 6 April memprediksi ada 85 juta yang akan pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Dari jumlah ini, 14 juta di antaranya berasal dari wilayah Jabodetabek.  Para pe-mudik yang akan menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat diprediksi mencapai 40 juta orang. Sedangkan masyarakat yang akan menggunakan transportasi umum darat mencapai 26 juta dan udara 8 juta.

Selain itu, kata Menhub, juga terdapat 8 juta orang menggunakan kereta api dan 1,1 juta orang akan menggunakan transportasi laut. Kemudian, transportasi yang sudah mulai disiapkan pemerintah terdiri atas 57.000 unit bus, 205 kapal, 327 unit pesawat serta kapal navigasi.

Eforia mudik ini bisa dimaklumi, sudah dua tahun terakhir mudik dibatasi dengan ketat karena masih pandemi COVID-19. Setelah Presiden mengumumkan boleh mudik, antusiasme masyarakat untuk pulang kampung di Hari Raya Idulfitri seperti dahaga yang terpenuhi.

Lebih jauh soal kecelakaan yang kerap terjadi, berikut pemaparan Soerjanto Tjahjono kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang menemuinya di kantor KNKT, Gambir, Jakarta Pusat belum lama berselang. Inilah petikan selengkapnya.

Tol Cipali menurut Soerjanto Tjahjono  paling sering kecelakaan setelah diperbaiki rest areanya terjadi penurunan laka lantas. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Tol Cipali menurut Soerjanto Tjahjono paling sering kecelakaan setelah diperbaiki rest areanya terjadi penurunan laka lantas. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Kecelakaan sering terjadi baik di darat, laut dan udara,  selama tahun 2021 yang lalu menurut pantauan KNKT mana yang paling dominan?

Kecelakaan darat secara umum jumlahnya memang menurun, tapi dan segi fatality-nya (kematian) naik. Kami ngambil datanya dari kepolisian karena hanya sebagian yang kita lakukan investigasi. Kemudian terakhir ini banyak kejadian rem blong ini juga kami juga lagi melakukan penelitian dan kerjasama dengan universitas untuk melihat bagaimana pengaruh pandemi kenapa meningkat cukup tinggi terutama truk banyak yang berlebih muatan. Akan diteliti mengapa banyak terjadi kecelakaan. Apakah ada pengaruh pandemi. Tapi belum bisa disimpulkan karena masih dalam proses.

Masalah kecelakaan kendaraan bermotor roda dua sekarang menjadi perhatian kami. Selama ini kurang kurang fokus pada roda dua bekerjasama dengan Astra Honda Motor. Mereka membuat student research center khusus untuk roda dua. Luar biasa dengan temen-temen dari Astra Honda Motor ini dia melakukan training safety rinding kepada 3.000 lebih pengguna motor. Dari hasil analisis mereka, kesimpulannya tidak berdampak. Terus mereka ingin bagi pemotor ini juga keselamatannya bisa ditingkatkan. Dilakukan Kerjasama dengan KNKT  untuk melakukan riset-riset.

Untuk kecelakaan kendaraan bermotor; mobil niaga atau pribadi, faktor utama yang menjadi penyebab? Apakah human error atau kondisi kendaraan yang sudah tak laik jalan, atau ada faktor lain?

Kecelakaan di darat selama ini dari semua 4 moda, KNKT  tidak pernah ngomong kalau itu human error. Yang ada human factor yang berkaitan dengan perawatan. Soal rem blong kita ada beberapa rekomendasi pada pabrikan.  Desain-desain kendaraan ini sesuai dengan regulasi di Eropa dan Jepang. Ini belum tentu cocok untuk di Indonesia. Kami diskusi dengan Astra Honda Motor, kendaraan yang laku di Indonesia belum tentu cocok di Jepang, Thailand atau Malaysia. Tapi ada desain yang laku untuk semua negara. Salah satu remomendasi KNKT kepada ATPM untuk truk dan mobil niaga adalah pegisian angin kompresor ditingkatkan dua kali lipat.

Kami juga bekerjasama dengan Korlantas Polda Metro untuk traning pengemudi truk. Setelah selesai program itu bisa langsung dapat SIM B1 umum. Tapi ini benar-benar professional.

Soal perlintasan sebidang di jalur kereta api menurut  Soerjanto Tjahjono  paling sering mereka dapat laporan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Soal perlintasan sebidang di jalur kereta api menurut Soerjanto Tjahjono paling sering mereka dapat laporan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Banyak kecelakaan terjadi di jalan tol,  biasanya apa penyebab yang paling sering terjadi?

Nah ini menarik, sekarang presiden sudah meresmikan jalan tol ribuan kilometer. Kesiapan kita masyarakat dan semua aspek yang mendukung keselamatan di jalan tol ini harus benar-benar memahami persoalan. Ingat 80 persen kecelakaan di jalan tol akibat kelelahan jadi itu yang harus kita perangi. Ada penelitian di tol Cipali sehubungan dengan hal itu. Dulu yang terbanyak kecelakaannya itu di tol Cipali ini.

Waktu jalan tol layang belum jadi, dan tol sudah sampai ke Surabaya, kalau dari Timur ke Barat sampai Cipali itu antara jam 11 malam sampai jam 6 pagi. Dari Barat ke Timur juga sampai Cipali pada  jam itu. Jadi ngantuknya tertumpuk di Cipali.

Lalu kita bikin chevron marking atau  tanda sersan yang banyak. Saat malam kelihatan jalannya menyempit secara visual, ada illusi, tapi jalan sesungguhnya tidak menyempit. Kita harapkan orang akan mengerem. Diusahakan tempat istirahat di tol Cipali itu dibikin semenarik mungkin, sehingga orang mau beristirahat. Setelah itu rileks dan bisa melanjutkan perjalanan kembali. Untuk sopir truk juga disediakan tempat yang nyaman, tempat mandi air panas, bale-bale untuk tidur, dll.  Dengan upaya ini kecelakaan di Cipali menurun. Namun yang menyedihkan angka kecelakaan bergeser ke Timur.

Karena itu di tol Sumatera yang sudah beroperasi kita kerjasama dengan pemda seperti di Lampung untuk menyediakan pemandangan yang unik di sepanjang jalan seperti kopi Lampung dan durian. Lalu di rest area kita minta dibuat seperti di Cipali, ada tempat istirahat yang layak, mandi air hangat dan dipisahkan antara pengemudi truk pengemudi angkutan lainnya. Itu langkah-langkah yang kita upayakan untuk menigkatkan keselamatan di jalan tol. Masalah utamanya soal kelelahan.

Untuk kereta api yang paling sering terjadi kecelakaan di jalur perlintasan sebidang,  seperti belum lama ini terjadi di Tulungagung, bus terseret KA. Apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kecelakaan antara KA, baik KA dan kendaraan bermotor maupun sesama KA?

Kecelakaan di perlintasan sebidang ini bikin sedih, kita sampai bosen terima pesan dari temen-temen Kereta Api  mengenai kecelakaan ini, hampir setiap hari. Kalau perlintasan sebidang itu di jalan nasional yang tanggung jawab pemerintah pusat, kalau itu jalan provinsi itu pemerintah daerah tingkat I, dan seterusnya sampai terendah. Masalahnya sistem anggaran pemerintah itu berdasarkan asset. Kalau pemda pasang early warning system pasti dipersalahkan. Kalau semua ditanggung pemerintah pusat anggaran terbatas.

Di UU memang tidak boleh ada perlintasan sebidang lagi,  saya bilang itu tidak realistis. Di negara Amerika dan Jepang masih ada. Untuk membikin perlintasan tidak di bidang yang ada sekitar 11.000  anggarannya berapa? Anggaran APBN pemerintah untuk menyelesaikan perlintasan sebidang mungkin 5 - 10 tahun juga nggak selesai. Aturan birokrasi juga harus dipermudah untuk persoalan keselamatan.  

Bagaimana dengan kecelakaan di laut, dalam kasus apa yang paling dominan terjadi selama 2021 lalu? Apa yang paling sering menjadi penyebab kecelakaan laut?

Persoalan di laut juga pelik,  masalah kedisiplinan ketika kapal mau berangkat mengajukan surat persetujuan berlayar. Di dalam surat persetujuan berlayar ini salah satu yang harus disampaikan dokumen yang sesuai dengan rekomendasi cuaca dari BMKG. Sekarang ini sampai sejauh mana kedisiplinan temen-temen di laut  untuk mematuhi kondisi cuaca yang dikeluarkan BMKG.  

Namun data rekomendasi cuaca ini masih sekadar formalitas.  Belum menjadi suatu kebutuhan sehingga pas berlayar tiba-tiba terkena badai, kegulung ombak. Sebenarnya tidak tiba-tiba, kan sudah ada info dan peringatan BMKG. Cuma problemnya adalah kapal tradisional yang belum punya peralatan canggih untuk mengakses perkembangan cuaca.

Kecelakaan pesawat terbang paling banyak menyita perhatian, padahal dari sekian moda trasportasi itu pesawat udara itu yang paling aman, apa benar? Apa yang membuat kecelakaan pesawat terbang begitu menyita perhatian publik?

Karena memang umumnya yang naik dari sisi status sosial orang yang  menengah ke atas terus kemudian banyak juga pejabat yang naik. Lalu harga pesawat terbang itu mahal. Dan pesawat itu regulasinya begitu ketat, di antara empat moda transportasi lainnya dia yang paling aman. Saat tejadi kecelakaan pesawat akan mendapat perhatian ekstra dari media cetak elektronik. Tapi kecelakaan kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba juga fenomenal, ke mana-mana saya kalau ada meeting sering ditanya soal itu.

Apa saran Anda untuk pengguna jasa transportasi, pelaku usaha transportasi dan juga pemerintah yang membuat regulasi agar angka kecelakaan lalulintas itu terus menurun?

Masing-masing baik dari pengguna, pengusaha transportasi maupun regulator harus patuh pada aturan yang ada. Di penerbangan selalu update karena ada kontrol yang ketat soal ini. Di laut tidak seketat udara. Mau tak mau kita harus concern pada hal ini. Jelang lebaran ada monitoring arus mudik lebaran. Makanya kita  minta persuahaan untuk bisa memberikan THR lebih awal karyawan bisa mudik duluan. Jadi tidak terjadi penumpukan menjelang lebaran. Sehingga pengaturan lebih gampang dari petugas. Minimal THR keluar 10 hari sebelum lebaran.  

 

Kiat Sehat Soerjanto Tjahjono, Berolahraga dan Atur Pola Makan 

Soerjanto Tjahjono sadar kesehatan harus dijaga, dengan olahraga  dan mengatur pola makan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Soerjanto Tjahjono sadar kesehatan harus dijaga, dengan olahraga dan mengatur pola makan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk membuat tubuhnya sehat dan bugar. Soerjanto Tjahjono tahu benar kesehatan akan membantunya melaksanakan tugas sebagai Kepala KNKT dengan maksimal. Karena itu meski berat, ia berusaha untuk konsisten berolahraga. Beruntung ia punya keluarga yang amat memperhatikan. Mereka selalu mendorongnya untuk melakukan olahraga biarpun hanya di sekitar rumah.

“Sebelum berangkat ke kantor, pagi hari saya senam dan bersepeda keliling komplek rumah. Enggak perlu ngoyo yang penting berkeringat. Setelah itu baru mandi, dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Pulang dari kantor kalau masih ada waktu setelah makan malam saya manfaatkan lagi untuk gerak badan meski tak seberat pagi hari,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 23 Mei 1960 ini.

Soal kebiasaannya berolahraga ini diakuinya karena didorong oleh anak dan cucunya. “Saya ini beruntung sekali, anak dan cucu saya amat perhatian. Mereka tak bosan mendorong dan mengingatkan saya untuk rutin berolahraga agar tetap sehat,” kata Soerjanto yang tetap bugar meski usia yang sudah lebih dari enam dasawarsa kini.

Dan untuk urusan olahraga ini, ia tahu diri, porsi olahraga dan jenis olahraga yang boleh  dilakukan kini, tentu berbeda saat dulu ketika masih belia. “Ya sadar diri saja, olahraga yang berat saya sudah tak berani lagi. Porsi dan durasi berolahraga juga secukupnya saja. Ya pas untuk orang seusia saya. Badminton sudah engga, gantinya senam, sepeda dan berenang,” kata Soerjanto yang juga menyemangati ASN di lingkungan KNKT untuk melakukan olahraga juga demi menjaga kesehatan.

Selain olahraga, lanjutnya, yang ia juga menjaga pola makan. Ia mengontrol jenis makanan apa saja yang boleh dikonsumsi dan berapa banyak jumlah makan yang masuk juga harus terkontrol.  Asal tahu saja semua saran dan pertimbangan itu diberikan bukan oleh orang lain tapi oleh anaknya sendiri yang kebetulan berprofesi sebagai dokter.  

“Anak saya kebetulan seorang dokter. Ya sudah ia yang memberikan masukan dan saran untuk porsi olahraga yang sesuai dan juga porsi makanan yang pas untuk saya,” katanya.

 “Sekarang yang manis-manis jauh berkurang. Sekuatnya saya redam untuk makanan yang manis kalau bisa dihindari itu lebih baik. Misalnya nasi, hanya saya  makan seperlima dari porsi sebelumnya.  Sebagai imbangannya, karena nasi dikurangi, saya perbanyak makan sayur-sayuran,” lanjut pria yang tak suka makanan pedas ini. Soal dari kecil ia memang tak bisa makan pedas, pencernaannya akan bermasalah saat sudah memakan yang pedas-pedas.

 

Berkebun

Tak hanya kebun milik Soerjanto Tjahjono  yang ditanam tanaman buaah, tapi juga tanah kosong di komplek perumahannya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Tak hanya kebun milik Soerjanto Tjahjono yang ditanam tanaman buah, tapi juga tanah kosong di komplek perumahannya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Berkebun juga salah satu aktivitas yang dilakoni Soerjanto Tjahjono selain olahraga. Bedanya, berkebun ia lakukan di akhir pekan. Sedangkan sebelumnya ia melakoni aktivitas olahraga. “Sabtu dan Minggu, aktivitas saya di rumah ya berkebun sembari ngobrol dengan istrinya di rumah rumahnya,” katanya.

Anak-anaknya yang sudah berkeluarga  dan punya kehidupan sendiri dan hanya bisa memberikan dorongan melalui telepon dan video call. “Ya begitu kalau anak-anak sudah menikah. Mereka sudah mandiri dengan keluarganya masing-masing. Jadilah saya dan istri berdua yang berkebun. Kalau mereka libur baru bisa bertemu,” katanya.

Ia memilih tanaman keras yang berjenis buah-buahan yang ditanam di kebunnya. Mulai dari kelengkeng, durian, rambutan, jambu, mangga, dan lain-lainnya. Tak cukup dengan kebun di halaman rumahnya, ia juga menanami tanah kosong atau tepi-tepi jalan di perumahannya dengan tanaman mangga dan rambutan. “Saya sudah menanam 300-an lebih pohon mangga dan rambutan,” lanjutnya.

Nanti saat pohon yang ditamam di lahan kosong perumahannya panen. Soerjanto meminta sekuriti dan petugas kebersihan memanen buah-buahan yang ditanam. “Saya memang meminta petugas keamanan dan petugas kebersihan untuk memanen. Silahkan dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga. Mereka juga butuh vitamin dari buah-buahan yang ditanam di tanah sosong di perumahan,” ungkap Soerjanto.

 

Informasi

Soerjanto Tjahjono menyarankan kaum milenial untuk mencapai cita-cita setinggi mungkin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Soerjanto Tjahjono menyarankan kaum milenial untuk mencapai cita-cita setinggi mungkin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Era teknologi yang berkembang pesat ini menurut Soerjanto adalah tantangan sendiri bagi kaum milenial.  “Untuk kaum milenial sekarang, saya kira lebih gampang mengakses informasi dan peluang karier. Berbeda dengan zaman saya muda dulu,” kata pria yang sudah malang melintang berkarier di maskapai Garuda Indonesia. Berbagai posisi penting dalam urusan mekanik dan keselamatan penerbangan dia duduki sampai akhirnya purnatugas dan mendapat kepercayaan menjabat Kepala KNKT. Dia dilantik di era Mengeri Perhubungan Ignasius Jonan.

Cuma, lanjutnya harus punya kompetensi agar bisa memenangkan persaingan. Soalnya pesaing bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. “Kalau kita tidak siap mana mungkin bisa memenangkan persaingan,” katanya.

Apa pun yang dicita-citakan, bukan hal mustahil untuk diraih. “Semua harus menyiapkan diri  agar cita-cita bisa diraih. Mau jadi professional, pebisnis atau wirausaha silahkan.  Lakukanlah sesuai dengan kata hati,” ujarnya Soerjanto Tjahjono menamatkan studi S1  Teknik Mesin dan Aeronautika, Institut Teknologi Bandung (1986) dan melanjutkan dalam bidang Doktor, Delft University of Technology, Belanda (1998).

 

“Sekarang presiden sudah bikin jalan tol ribuan kilometer. Kesiapan kita masyarakat dan semua aspek yang mendukung keselamatan di jalan tol ini harus benar-benar memahami persoalan. Ingat 80 persen kecelakaan di jalan tol akibat kelelahan, jadi itu yang harus kita perangi.”

Soerjanto Tjahjono