[PENDIDIKAN] Ai Nurhidayat | Membangun Peradaban Plural Bukan di 'Sekolah Formal'
Ai Nurhidayat (Sumber: Istimewa)

Bagikan:

Ai Nurhidayat pernah sangat ambisius mengejar posisi peringkat satu di kelas. Sebagai anak pandai, ambisi itu selalu terbayar. Namun kehidupan membawa jalan pikirannya ke arah lain. Tetek bengek akademis jadi sampah baginya. Ai tercerahkan oleh nilai-nilai yang diserukan Ki Hajar Dewantara. Mendalami segala nilai itu membuat Ai sadar pendidikan jauh lebih manusiawi dari sistem skor. Pendidikan adalah energi yang mengisi jiwa-jiwa manusia. Lewat pendidikan lah peradaban dipertaruhkan. Begitu juga dengan masyarakat dan kehidupan penuh ragam di dalamnya. Ai membangun SMK Bakti Karya Parigi untuk mengamalkan segala keyakinan itu.

 

Ai Nurhidayat adalah gembala kambing. Ia juga tukang kebun. Kehidupan masa kecil pria kelahiran Ciamis, 22 Juni 1989 itu diisi dengan interaksi bersama unsur-unsur alam. Ia bukan anak yang bepergian ke daerah-daerah terpencil untuk berwisata. Oleh orang tuanya, Ai justru dibawa ke kehidupan yang lebih dekat dengan kesejatian manusia. Kedekatan itu yang memunculkan banyak pertanyaan di kepalanya. Akar bagaimana Ai hidup menjadi manusia berpikiran kritis. Skeptisme itu terbawa ke sekolah.

Suatu hari di masa kecilnya Ai pernah terjatuh dari pohon nangka. Kejadian itu membuatnya absen dari sekolah selama beberapa waktu. Hal itu membuat posisi Ai sebagai peringkat satu di kelas tergeser. Ia marah bukan main. Maklum, hari itu Ai adalah seorang ambisius yang selalu mengejar peringkat satu di kelas. Ambisi yang belakangan ia sadari semu.

"Gara-gara enggak masuk, ranking saya jadi ranking dua. Hingga saat itu saya marah banget dengan sistem ranking. Kenapa? Masak cuma gara-gara enggak masuk, kelihatannya seperti orang yang enggak pintar lagi. Pokoknya semenjak saat itu saya menjadi tak menyukai sistem ranking," kata Ai, dalam perbincangan melalui sambungan telepon, Jumat, 18 September.

Ai berpikir istimewa sejak dari cita-cita yang ia gantung di masa kecilnya. Kala duduk di sekolah dasar, Ai mengantungkan cita-cita sebagai Ketua MPR. Tak lazim, memang. Namun ia memiliki dasar yang kuat. Dasar yang juga amat politis. Kesadaran politik Ai tumbuh begitu kuat meski usianya masih anak-anak.

 "Waktu itu tuh reformasi. Di kepala saya itu presiden cuma Soeharto dan Soeharto saja. Saya kebetulan ikut lomba PKN waktu itu. Salah satu soalnya saya masih ingat, 'Kewenangan MPR, meliputi tugas dan fungsi MPR sampai bisa mengangkat dan memberhentikan presiden.' Sehingga waktu itu saya merasa 'Canggih benar ketua MPR.' Sejak tahu soal itu, maka saat ditanya mau jadi apa, saya jawab 'Mau jadi ketua MPR.'"

Ai Nurhidayat

Begitulah kehidupan membentuk pikiran kritis Ai sejak kecil. Ai kemudian melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat. Di pesantren ia mengasah nilai-nilai kritis dan melengkapinya dengan nilai-nilai penerimaan. Pesantren membentuk Ai menjadi orang yang toleran. Dari kelas, ruang OSIS, hingga segala kegiatannya sebagai ketua komunitas jurnalistik lintas sekolah, Ai mempertajam kemampuan berkomunikasi. Ia juga menemui banyak perbedaan dan mendalami keragaman.

Lulus dari pesantren, Ai berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Studi itu tak Ai selesaikan. Ai hanya menjalani satu tahun perkuliahan. Meski begitu Ai mengaku masa kuliahnya penuh dengan kegiatan intelektual. Pikiran kritisnya bahkan makin terasah lewat panggung demonstrasi. Di sana Ai juga menggiatkan literasi dan kegiatan jurnalistik.

Ai Nurhidayat (Instagram/@ainurhidayatmars)

"Saking ininya gitu saya, bikin tulisan, nerbitin sendiri jadi di kertas F4 ada empat artikel itu dipotong jadi dua. Dan potongannya itu dilipat jadi dua. Nah, jadilah kayak lembaran komik kecil. Jadi, satu lembar F4 itu bisa jadi dua eksemplar. Saya sebarin di depan kampus modal Rp20 ribu. Modal sendiri itu. Pikiran saya itu, ide-ide saya itu disebar di depan kampus sendiri. Setelah itu saya demo. Kadang demo ada teman, kadang enggak."

"Nah, titik baliknya pada saat saya kenal sosok Nurcholish Madjid. Terus pulang demo dari Bali saya baca di perpustakaan ada beasiswa Paramadina. Saya daftar beasiswa dan akhirnya saya pindah ke Universitas Paramadina.“

Di Paramadina, pergerakan Ai tak berhenti. Ia bahkan menjabat Sekertaris Jenderal (Sekjen) Serikat Mahasiswa Paramadina. Selain itu, di Paramadina Ai membekali diri dengan banyak bacaan buku tentang pemikiran Islam, modernisasi, serta ke-Indonesiaan. Di sana pula cinta Ai terhadap Indonesia tumbuh. Dengan proses hidup yang dilewati, Ai berhasil melihat keberagaman dengan cara yang indah, seindah cinta yang ia temukan untuk Nusantara. Lebih dari cinta, di sana Ai menemukan gagasan untuk membumikan cintanya lewat "Kelas Multikultural".

Kelas Multikultural

Suatu hari Ai mendapati kabar tentang SMK Bakti Karya Parigi di Pangandaran, Jawa Barat yang hampir bangkrut. Bersama kawan-kawannya dari Komunitas Belajar Sabalad, Ai kemudian mengakuisisi sekolah itu. Dengan niat awal menyelamatkan nasib 20 siswa yang tersisa, Ai dan kawan-kawan justru menyelami pengabdian yang lebih khusyuk. Sejak itu mimpi Ai melebihi omong kosong impian para Ketua MPR. Ai turun langsung membangun pendidikan yang sejati.

Seiring waktu, SMK Bakti Karya Parigi menemukan visinya, bersama Ai yang terus memantapkan keyakinannya soal pendidikan yang tak melulu soal skor dan menghapal. Di SMK Bakti Karya, Ai dan Komunitas Belajar Sabalad menjalankan Program Kelas Multikultural. Lewat program itu Ai tak hanya menghadirkan pendidikan tapi juga mengaktualisasikan keberagaman. Tantangan pertama bagi Ai dan kawan-kawan kala itu adalah birokrasi administratif untuk pemindahan lokasi, legalitas, serta manajemen baru.

Ai Nurhidayat saat mengikuti CXC Global Conference di Thailand (Sumber: Istimewa)

 “Pas waktu pindah tangan dari yayasan sebelumnya ke yayasan yang saya pimpin ini, saya juga kan enggak ngerti dengan struktur atau cara. Pokoknya enggak ngerti dengan dunia sekolah formal. Nah, karena enggak ngerti dengan sekolah formal, saya mempelajari. Justru karena enggak ngerti jadi penasaran kan. Daripada selalu main di luar sekolah formal. Yang memproduksi kelulusan banyak itu kan sekolah-sekolah formal. Jadi saya pikir, 'pantas orang-orang banyak yang bete dengan sekolah karena memang banyak hal yang di sekolah itu sulit dipahami.”

Ai Nurhidayat

Ide itu akhirnya terealisasi pada 2016. Untuk mendanai sekolah yang didirikan, Ai dan kawan-kawannya membuat program donasi yang mereka namai "Bakti Karya Fellow". Program itu menjaring mahasiswa-mahasiswa yang baru lulus sebagai kakak asuh bagi anak-anak SMK Bakti Karya Parigi. Setiap orang dapat berdonasi dengan besaran Rp50 ribu per bulan untuk membuat sekolah tetap bergerak. Berkat donasi itulah SMK Bakti Karya Parigi bertahan hingga sekarang mencapai angkatan kelima.

Terkait tenaga pengajar, Ai melibatkan anggota komunitas. Karenanya, tenaga pengajar SMK Bakti Karya Parigi kini terdiri dari anak-anak muda berusia 20-22 tahun. Pada titik ini Ai menyadari besarnya tantangan yang harus dihadapi para guru di Indonesia untuk melangsungkan pendidikan. Apalagi bagi Ai yang kala itu berusia 25 dan harus memimpin deretan pengajar muda di SMK Bakti Karya Parigi.

Ai Nurhidayat di Kelas Multikultural (Sumber: Istimewa)

Selain anggota komunitas, SMK Bakti Parigi terbuka untuk masyarakat yang ingin mengajar. Masyarakat dapat terlibat menjadi relawan dan mengajar setiap Sabtu. Para pengajar secara bergantian mengisi kelas tiap pekannya. Saat ini, setidaknya sudah ada lebih dari 150 profesional yang pernah mengajar di SMK Bakti Karya Parigi.

Terkait perbedaan proses belajar antara Kelas Multikultural dengan kelas yang ada di sekolah formal lainnya cukup banyak. Dari sisi input, misalnya. Siswa Kelas Multikultural tak cuma berasal dari satu kawasan saja. Para siswa berasal dari 28 suku di 21 provinsi se-Indonesia. Selain keberagaman, Kelas Multikultural juga membangun suasana belajar yang lebih hidup dan dinamis. Perbedaan antarsiswa dimanfaatkan untuk saling mengenal satu sama lain.

 “Nah, terus karena ramah publik, dibiayai sama publik, dan publik bisa ikut proses ngajar di situ. Bahkan publik terdekat. Artinya warga masyarakat itu kita bikin namanya Kampung Nusantara. Jadi sekolah ini terintegrasi dengan warga masyarakat. Bahkan pola pembelajarannya ikutin pola masyarakat. Jadi, kalau misalnya ada, biasanya kami libur belajarnya itu tidak di sekolah. Misalnya pada saat menanam padi, pada saat panen padi, atau pada saat hajatan atau ada acara-acara tertentu. Itu kita sering meniadakan kewajiban hadir ke sekolah.”

Ai Nurhidayat

Selain sebagai pusat kegiatan, Kampung Nusantara juga jadi tempat tinggal para siswa yang berasal dari berbagai macam daerah. Hal itu dilakukan setelah isu SARA yang sempat menyerang sekolah. Kala itu beredar kabar bahwa SMK Bakti Karya Parigi melakukan kristenisasi karena banyaknya siswa yang menganut agama kristen. Dari sana, Kampung Nusantara yang awalnya dibentuk sebagai proteksi justru menjelma jadi salah satu program unggulan lain di samping Kelas Multikultural.

Dengan keterikatan itu, warga setempat tak cuma menjadi guru. Mereka adalah orang tua pengganti bagi para siswa. Indahnya ikatan itu tergambar ketika momen kelulusan. Biasanya, dalam prosesi wisuda, para siswa didampingi oleh orang tua pengganti. Pemandangan orang tua berkerudung mendampingi anaknya yang membawa salib bukan pemandangan asing di sana.

 “Kapan kita melihat cara pandang yang beragam kalau kita belum pernah hidup bareng, tidur bareng, dengan orang yang berbeda kebudayaaan, berbeda suku, berbeda agama. Makanya saya seperti mendapatkan jawaban dari kegelisahan saya sejak kecil. Dulu saya itu benci banget sama Kristen. Karena saya diajarkan untuk benci. Saya tidak diberikan cara pandang untuk menolelir, misalnya, keragaman suku, orang tatoan, itu imejnya selalu buruk. Tapi setelah sekarang bertemu dengan ragam orang. Akhirnya bisa lebih mudah, berempati dengan yang berbeda-beda.”

Ai Nurhidayat

Pendidikan untuk semua

Salah satu tokoh bangsa yang menginspirasi terjunnya Ai di lajur pendidikan ialah Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional tersebut banyak memengaruhi Ai, terutama soal wujud dari semangat kemerdekaan yang hakiki, yaitu bebasnya seseorang memeroleh pendidikan. Pendidikan yang tadinya hanya dimiliki kaum elite, begitu merdeka, setiap warga negara Indonesia berhak atas pendidikan

 “Kita harus bilang ini adalah pintu kemajuan Indonesia lewat pendidikan. Ki Hajar Dewantara itu yang mempelopori itu, spirit kemerdekaan itu, bukan spirit yang malah mendiskriminasi sekolah, mendiskriminasi pendidikan. Contohnya gini, sekolah baik itu karena guru-gurunya bagus. Guru-guru bagus harus dibayar mahal. Terus lokasi sekolahnya ada di kota, akhirnya sekolahnya jadi mahal. Bahkan ada sertifikat internasional segala macam. Nah, di tetangga sekolah itu ada yang mau sekolah, jadi enggak bisa masuk. Gara-gara tarifnya mahal.”

Ai Nurhidayat

Hadirnya diskriminasi itulah yang sama-sama ditentang baik Ai maupun Ki Hajar Dewantara sejak dulu kala. Marwah kemerdekaan bangsa tak jauh dari semua warga negara berhak mendapat akses pendidikan, bukan sebaliknya. Oleh karenanya, pendidikan sekali lagi diancam oleh intelektualisme dan materialisme seperti yang terjadi hari ini. Kelak, Ai semakin bersikukuh untuk menghadirkan ruh pendidikan gratis untuk semua.

Ki Hajar Dewantara (Sumber: Commons Wikimedia)

Pada akhirnya, Ai mewujudkan mimpinya untuk tak menarik biaya sedikit pun dari siswa yang ingin bersekolah di SMK Bakti Karya Parigi. Alhasil, orang termiskin sekalipun masih bisa ikut dan punya hak bersekolah. Semangat itu menurut Ai merupakan semangat kemerdekaan. Merdeka itu harus dimulai dari kepala, merdekakan mereka dari cara pandang yang sempit, dan merdekakan mereka dari cara pandang yang tak bijaksana.

Bersamaan dengan akses pendidikan untuk semua, generasi penerus bangsa akan lahir dengan pandangan yang bijaksana. Mereka pun jadi tak cuma menafsirkan perihal ketuhanan. Melainkan, mereka juga dapat menafsirkan kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial, sesuai semangat dari Pancasila.

Perjuangan pun Ai mulai mendapatkan pengakuan. Penghargaan demi penghargaan dirinya dapatkan karena melanggengkan pendidikan untuk semua sembari menciptakan toleransi antar suku, ras, budaya, dan agama. Paling anyar dirinya mendapatkan apresisasi di bidang pendidikan dari Satu Indonesia Award 2019.

Uniknya, hal itu sesuai dengan salah satu butir dari tujuh butir tujuannya Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa.  Oleh Kenji Tsuchiya dalam buku Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa (1987), dikatakan bahwa pendidikan untuk semua orang hadir dalam butir terakhir.

“Pendidikan harus untuk semua orang, bukan hanya untuk segelintir orang saja. Jika yang mendapat pendidikan hanya kelas atas, bangsa tidak akan tumbuh kuat. Pendidikan harus dimulai dari bawah, penyebarannya di kalangan itu adalah yang paling diperlukan supaya bangsa menjadi lebih tertib dan kuat,” tulis Kenji Tsuchiya.