Bagikan:

Lewat artikel "Pintu Gerbang Masa Emas Buah Hati: Interaksi Sang Wali" kita telah memahami seluk beluk mengenai masa emas anak. Mungkin banyak yang beranggapan dalam mengoptimalkan masa emas anak, perlu biaya mahal. Seperti pemenuhan nutrisi dengan makanan-makanan mahal dan pendidikan kelas wahid berstandar internasional. Padahal dalam praktiknya, untuk mengoptimalkan masa emas enak tidak harus mahal. Tulisan Seri khas VOI "Menyepuh Masa Emas Anak" selanjutnya, tentang cara mudah dan murah mengoptimalkan masa emas anak.

Seorang pegawai swasta Rahne Putri, punya kebiasaan baru semenjak resmi menjadi ibu. Ia jadi lebih sering memantau grafik tumbuh kembang anak yang dibuat oleh World Health Organization (WHO). Ia mencocokkan pertumbuhan anaknya dengan grafik tersebut. 

Bukan cuma itu, Rahne juga rajin mengunjungi dokter untuk mengonsultasikan perkembangan anaknya. Kebiasaan ini jamak ditemui dari mereka yang begitu sadar akan pentingnya mengoptimalkan periode keemasan pertumbuhan sang buah hati.

Usut punya usut, kebiasaan Rahne tersebut merupakan warisan dari orang tuanya dulu ketika merawat dirinya. Rahne kecil memang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi. 

Pola asuh itulah yang kemudian ia juga terapkan kepada anaknya. Untuk soal trah, Rahne selalu ingin yang terbaik. 

Ia mengedepankan makanan bernutrisi seimbang. Baik dari buah-buahan, vitamin, dan sayur-sayuran. Resep yang sama dilakukan dalam mencari pendidikan anak usia dini. Rahne mencari sekolah yang dapat mengakomodasi kebutuhan dasar akan “life skill” sang anak.

“Kalau pendidikan tidak harus internasional, asal kebutuhan terkait life skill didapat oleh anak. Mungkin berbeda dengan pemahaman aku zaman dulu. Kalau zaman dulu, sekolah itu harus pintar, matematika semuanya gitu. Kalau sekarang melihatnya pada kebutuhan dasar life skill, jadi yang lebih motorik, jadi makanya aku mencari sekolah yang montessori, karena anak diberikan kepercayaan diri,” cerita Rahne kepada VOI, Jumat, 26 Maret.

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Selain Rahne, orang yang juga sadar akan pentingnya masa emas anak adalah Lia Christiani. Menurutnya fase ini adalah yang terpenting demi tumbuh kembang si anak. Ia seolah tak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan tidak terlalu memperhatikan masa keemasan ketika membesarkan anak sulungnya. 

Kebetulan anak pertamanya mengalami speech delayed dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), alias sulit memusatkan perhatian. Belajar dari pengalaman anak pertama, membuatnya begitu perhatian dengan tumbuh kembang anak kedua dan ketiga.

Sebagai orang tua Lia selalu berusaha meluangkan banyak waktu untuk anak. Lia sendiri kemudian memilih nutrisi yang seimbang untuk anaknya. Pun dengan pemilihan sekolah. Lia dan suaminya tampak memilih sekolah yang berbasis pengetahuan agama. Asal karakter anak terbentuk dan pendidikan agama tertanam dengan baik, itu sudah lebih dari cukup.

“Kalau biaya pendidikan untuk anak pertama kami saat itu memang melebihi anak kedua dan ketiga. Karena anak pertama kami mengalami  ADHD dan speech delayed saat itu. Ada biaya ekstra untuk terapi (di luar biaya sekolah) yang memang cukup besar menurut kami,” ujar Lia saat diwawancara VOI, Jumat, 26 Maret.

Tak mesti mahal

Untuk mendapatkan gambaran lebih dalam terkait pengoptimalan golden age anak, kami menghubungi pengamat pendidikan Ai Nurhidayat. Ai sepakat untuk mengoptimalkan masa emas anak memang tak harus mahal. 

Sebelum menjabarkan tipsnya, Ai menegaskan bahwa salah satu kunci optimalisasi masa emas anak pada usia 0-5 tahun, adalah orang tua. 

Sebab menurutnya, anak lebih butuh contoh langsung yang baik dari orang tua. Orang tua merupakan menjadi role model pertama sang anak. Di masa awal pertumbuhannya sang anak sebetulnya hanya sebagian kecil mencontoh perilaku orang lain. 

Maka dari itu, pada periode keemasan anak,  memaksimalkan interaksi langsung orang tua menjadi penting. Dengan kata lain, supaya keteladanan bisa langsung tertanam dalam memori anak.

“Anak akan tidur hingga dua jam saat siang hari. Bahkan di usia lebih dini, lebih sering tidur. Maksimalkan pertemuan dengan anak pada saat anak bangun," ungkap Ai kepada VOI, Jumat, 26 Maret.

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

"Bahkan mestinya, saat mereka bangun, yang dilihat pertama kali adalah orang tua. Dari situ, hubungan emosional akan terbentuk. Anak akan merasa diperhatikan dan disayangi. Daripada saat bangun, yang ia lihat orang lain,” tambahnya. 

Selain kehadiran ibu, faktor ayah juga penting. Kehadiran keduanya supaya anak mendapatkan perlakukan seimbang antara feminitas dan maskulinitas. Kebutuhan mendapat perlakukan seimbang ini akan menjadi referensi anak dalam menempati peran sosial nantinya. Jadi, selain secara biologis perlu dipenuhi gizinya, secara psikologis perlu diberikan perhatian lebih dari orang tua kepada anaknya.

Tips dan trik

Ai merincikan, 1-2 tahun sebaiknya orang tua memfokuskan pemberian asi pada anak. Itu masa terpenting. Sekalipun pada usia tujuh bulan, anak sudah bisa mengkonsumsi makanan pendamping asi. 

Kala usianya masuk angka 3-5 tahun, upayakan diganti dengan makanan seperti orang dewasa. Hanya saja bumbu dan bahan dasarnya dibuat dan dipilih sendiri. Cara itu untuk menjamin keseimbangan gizi, sekaligus supaya tidak lagi mengkonsumsi makanan instant untuk anak.

Dalam hal membangun daya imajinasi, anak-anak dapat diarahkan kepada mainan yang alami. Main membuat mobil-mobilan, misalnya. Daripada anak diberi langsung main mobil-mobilan plastik, ada baiknya memanfaatkan kulit jeruk untuk membuat mainan tersebut. 

Menurut Ai, semakin alami semakin bagus buat membangun imajinasi. Selebihnya, sering-sering ajak anak-anak untuk jalan-jalan.

“Upayakan juga di masa emas, anak diajak lebih sering jalan-jalan untuk melihat hal baru, pengalaman baru. Misalnya, memegang berbagai macam benda, melihat berbagai macam warna, bentuk dan gerakan mahluk hidup dan benda di sekitar," kata Ai. 

"Pada tahap ini, imajinasi anak akan terbantu sehingga dia lebih leluasa lagi berimajinasi. Tidak usah diberi hapalan atau dengan banyak larangan. Jika salah, biarkan saja. Jangan sampai anak dimarahi.” Ai menambahkan.

Infografik (Raga Granada/VOI)

Senafas dengan itu, Psikolog, Dya Adis Putri Rahmadanti menyebutkan golden age adalah kesempatan emas untuk orang tua memberikan stimulasi yang tepat untuk kebutuhan fisik maupun psikis anak. Stimulasi itu diyakini Dya akan dapat memberikan pengaruh besar bagi perkembangan anak. Dalam artian, kehadiran orang tua menjadi pendamping tumbuh kembang anak sangat diperlukan, di samping memilih sekolah atau menyediakan mainan terbaik. 

“Untuk mengoptimalkan perkembangan anak di usia golden age yang paling penting adalah bagaimana orang tua memberikan stimulus yang baik dan tepat terhadap anak, seperti contohnya kita akan melatih motorik kasar anak, tidak perlu memberikan mainan yang mahal atau sedang tren saat ini, kita cukup melatih anak sesuai kemampuan dan kreatifitas kita. Dan yang paling penting juga adalah dukungan kehadiran  orang tua terhadap anak pada masa golden age ini,” tutup Dya.