Bagikan:

Delapan tahun berturut-turut perusahaan baja terbesar di Indonesia ini merugi. Di saat itulah Silmy Karim mendapat tantangan untuk membenahi kondisi ini dan duduk sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) pada 2018. Lewat tangan dinginnya Krakatau Steel (KS) yang merugi berhasil membukukan laba. Program restrukturisasi yang dicanangkan untuk menyelamatkan korporasi juga berhasil ditunaikan sesuai dengan rencana. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi, apalagi di tengah pandemi COVID-19.

***

Keputusan pemerintah menugaskan Silmy Karim melalui Menteri BUMN  duduk sebagai pucuk pimpinan di KS, ternyata sesuai dengan harapan. KS yang semula rugi menjadi perusahaan yang membukukan laba. Silmy terbukti mampu membalikkan keadaan. Ia kembali membuktikan kemampuan Ketika mendapat penugasan sejenis untuk memperbaiki keadaan di beberapa perusahaan pelat merah lainnya seperti PT Barata Indonesia, dan PT Pindad sebagai Dirut dan di PT PAL sebagai komisaris. 

Rumus yang dilakukan Silmy setelah masuk Krakatau Steel adalah, pemetaan, belanja masalah dan action. Pos yang membebani perusahaan dipangkas, sedangkan yang menguntungkan didukung. Dari langkah yang ia lakukan ini pelan-pelan neraca perusahaan mulai membaik.

Ia juga mengubah orientasi karyawan yang tak hanya bekerja, tetapi mengacu pada keuntungan. Bagaimana setiap person yang ada di KS harus berkontribusi pada keuntungan. Untuk memantau dan sebagai patokan Silmy menggunakan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization).

“Di KS saya menerapkan EBITDA harian. Supaya jadi mindset, agar setiap person  dalam perusahaan itu orientasinya untung. Berbeda dengan organisasi sosial yang tidak berorientasi pada keuntungan. Dari hal-hal itulah yang membuat EBITDA bisa positif. Tahun ini insyaallah EBITDA KS US$160 juta. Itu dari minus US$138 juta. Artinya sekitar US$300 juta dolar selisihnya,” jelasnya.

Tak hanya itu di ujung tahun 2021 ini KS bisa melunasi utang sesuai dengan master restructuring agreement (MRA). Dan yang perlu digarisbawahi dana ini berasal dari kas internal, bukan dari penjualan aset. “Saat restrukturisasi itu dijalankan ada perjanjian, jatuh tempo yang harus kita bayar US$200 juta. Awalnya untuk membayar kewajiban ini  diupayakan dari penjualan aset, tetapi saya bersyukur bahwa bisa membayar untuk tahun 2021 itu tanpa menjual aset nilainya Rp2,7 triliun,” katanya kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang menemuinya di Wisma Baja, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, belum lama berselang. Inilah petikan wawancaranya.

Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Ketika mendapat tawaran untuk menjadi Dirut PT. Krakatau Steel, pertimbangan terpenting apa yang membuat Anda mau menerima tantangan ini, soalnya PT KS sudah 8 tahun merugi sebelum Anda bergabung?

Pertama saya suka tantangan dan dalam hidup itu saya percaya pasti ada purpose (tujuan). Jadi selama kita tidak menginginkan suatu jabatan, kita dalam posisi menerima, artinya kita diberikan amanah. Bagaimana kita bisa memberikan nilai tambah pada penugasan tersebut. Saya anggap itu adalah bagian dari ibadah, dan saya yakin kalau berhasil akan juga bermanfaat bagi orang banyak. Itu pertimbangan mengapa saya menerima tugas sebagai Dirut di PT Krakatau Steel ini.

Setelah resmi dilantik, langkah apa yang pertama kali Anda lakukan?

Pertama saya melihat industri sejenis seperti apa? Ternyata di luar negeri perusahaan sejenis (baja) banyak yang untung. Artinya ini masalah ada di internal dan juga eksternal terkait kebijakan dengan industri baja pada khususnya.

Saya fokus kepada internal, saya lihat memang ada yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya dari sisi biaya. Di KS itu terlalu tinggi biaya produksi per-ton.  Kemudian penetrasi ke market saya lihat masih ada ruang untuk improvement (peningkatan).  Lalu misi awal kehadiran saya adalah memperbaiki KS. Bicara memperbaiki, setelah 8 tahun merugi, kemungkinannya adalah naik, kita ambil positifnya itu. Kalau sudah ada di bawah pasti ada potensi untuk naik. Bahwa dalam prosesnya ada catatan dan upaya-upaya, ya itu bagaimana kita meramunya menjadi koki atas bahan baku makanan yang kita punya, ini seperti seni juga.

Saat menjalankan restrukturisasi di KS, yang meliputi restrukturisasi utang, bisnis, dan organisasi, apa saja kendalanya?

Kendala pasti ada, kalau nggak ada kendala nggak mungkin bisa menjadi seperti itu. Utang yang repotnya selain jumlahnya besar,  krediturnya ada 10 dan itu heterogen. Ada bank pemerintah, bank swasta nasional dan ada juga bank asing. Masing-masing bank punya kebijakan. Ada bank yang tak boleh mendiskon pokok (pinjaman). Ini  kan tak sama dan perlu sinkronisasi. Karena titik dan koma dalam perjanjian restrukturisasi harus sama. Makanya memakan waktu satu tahun.  Jumlahnya besar, sekitar Rp35 triliun. Jadi tidak bisa sesederhana kalau misalnya utangnya kecil atau cuma pada bank yang homogen. Bisa semua bank pemerintah, atau semua bank asing, itu homogen. Bank pemerintah tak boleh mendiskon bunga, bank asing boleh, yang penting duitnya kembali (bayar utang).

Lalu restrukturisasi organisasi, ada pola-pola yang terjadi dalam suatu organisasi, bisa dilihat berapa layer struktur yang ada di sebuah perusahaan. Semakin tebal, semakin banyak birokrasinya. Ini yang harus dipangkas. Saya lihat juga fungsi organisasi itu relevan atau tidak. Setiap struktur itu diperlukan dalam merespon keadaan, kalau sudah tidak cocok lagi harus diubah.

Visi dan misi juga saya sederhanakan. Tak usah yang susah, pokoknya untung dan kompetitif. Patokannya kalau seseorang bisa membuat menjadi mudah itu cerdas, kalau tidak bisa membuat sesuatu menjadi mudah artinya kurang cerdas. Dalam rapat juga tidak boleh lebih dari satu jam. Kalau lebih dari itu artinya adu pintar. Itu engga diperlukan lagi. Sekarang yang dibutuhkan adu untung. Jadi pendekatannya koki meramu makanan. Kalau hal baik di buku ada semua, bagaimana mewujudkannya dalam organisasi itu ada seninya.

Lalu bagaimana kiat Anda mengubah rugi menjadi laba?

KS itu kan grup perusahaan, bagaimana mereka bisa membukukan  keuntungan. Saat saya masuk posisi keuangan negatif. Patokannya ada pada EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization). Jadi mana yang membuat negatif harus dihentikan. Pertama fasilitas yang tidak menguntungkan ditutup. Kedua, mana yang memiliki nilai tambah kita perkuat. Selanjutnya yang tumpang-tindih dikelompokkan agar saling menguatkan.

Patokannya EBITDA, karena itu sederhana. Penjualan dikurangi biaya itu kan gross profit, ditambah biaya-biaya. EBITDA yang menentukan kita mampu bayar utang atau tidak,  bisa sustain (bertahan) atau tidak. Bahkan untuk mengukur nilai perusahaan juga dari EBITDA. Untuk mengukur nilai sebuah perusahaan kalikan saja 8 sampai 12, tergantung bisnisnya. Kalau EBITDA-nya Rp100 juta, kalikan saja 10, artinya nilai perusahan itu kira-kira Rp1miliar.

Di KS saya menerapkan EBITDA harian. Supaya jadi mindset, agar setiap person  dalam perusahaan itu orientasinya untung. Dari hal-hal itulah yang membuat EBITDA bisa positif. Tahun ini Insyaallah EBITDA KS US$160 juta. Itu dari minus US$138 juta. Artinya sekitar US$300 juta dolar selisihnya. Proses restrukturisasi KS boleh dibilang hampir selesai, sudah 90 persen.

Dalam laporan keuangan Kuartal ke-3 2021, KS membukukan laba sebesar  US$1,61 miliar atau setara Rp 23,25 triliun, ini pencapaian yang luar biasa apalagi di masa pandemi COVID-19, apa yang Anda dan tim lakukan?

Perusahaan itu kuncinya bagaimana kita mengelola peluang dan biaya. Kalau kita tak bisa menaikkan penjualan, yang dipotong adalah biaya. Keputusan itu kan obat. Sebelum itu harus kita lihat dulu apakah masih ada ruangan untuk dinaikkan. Atau yang  di bawah yang kita telusuri. Makanya saat kita masuk harus belanja masalah dulu. Dari masalah itu pilih mana yang paling gampang, yang paling susah ada, tapi engga selesai-selesai kalau pilihannya itu. Ambil keputusan, penjualan bisa dinaikkan atau kalau penjualan tetap biaya yang harus dikurangi.

Jadi lebih ke persoalan internal, bahwa ada yang saya perjuangkan di tataran kebijakan iya. Tadinya saat saya masuk kebijakan pemerintah untuk baja post border, bukan border. Saya minta dikembalikan lagi menjadi border. Dan itu langsung di-support, pemerintah mengubah dengan mengembalikan ke kebijakan semula. Kita juga minta impor bisa terkendali, karena untuk distop tidak mungkin.

Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Akhir tahun ini KS bisa membayar utang menggunakan dana internal, bukan dari divestasi atau yang lainnya, bisa dijelaskan soal ini?

Saat restrukturisasi dijalankan ada perjanjian jatuh tempo yang harus kita bayar US$200 juta. Awalnya untuk membayar kewajiban ini  diupayakan dari penjualan aset, tetapi saya bersyukur bahwa bisa membayar untuk tahun 2021 tanpa menjual aset nilainya Rp2,7 triliun. Pasca restrukturisasi kita sudah membayar utang itu Rp3,3 triliun di luar bunga sekitar Rp1,4 triliun atau Rp1,5 triliun. Jadi selama 2 tahun ini, cukup banyak yang bisa kita selesaikan dalam konteks utang. Ini bukti kalau restrukturisasi dan transformasi di Krakatau Steel itu berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Dan ini kita masih dalam kondisi pandemi COVID-19 lho.

Kenyataannya KS meraup laba,  lalu apa arti pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir yang mengingatkan kalau KS diambang kebangkrutan. Dia menyarankan untuk melakukan beberapa langkah penyelamatan. Tanggapan Anda?

Kami menyikapi pernyataan itu sebagai warning. Kami meresponnya dengan menyiapkan agar hal itu tidak terjadi seperti yang dikhawatirkan.

Gara-gara pernyataan itu, saham KS (KRAS) di bursa terkoreksi, padahal KS ada rencana untuk right issue dan IPO?

Kalau harga saham turun, itu memang merespon informasi. Wajar saja respon pemegang saham publik seperti itu. Saat kita membayar utang, investor akan berubah pikiran, publik akan percaya lagi. Buat saya ini bagian dari proses agar organisasi makin kuat, dan saya serta manajemen terlatih menghadapi situasi ini. Komunikasi saya dengan Pak Menteri (Erick Thohir) baik-baik saja. Jadi kita bermain di pekarangan masing-masing saja. Seperti itu amanat Jendral Sudirman, jaga pekarangan masing-masing. Ahamdulillah halaman kami masih terjaga dengan baik sampai saat ini.

Rencana Right Issue dan IPO masih sesuai target?

Right Issue dan IPO punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Idealnya kita tidak berutang. Namun dalam kondisi ini pilihannya mana yang paling menguntungkan buat KS. Tapi sekarang kondisinya tidak ideal. Tahun 2022 ini ada juga yang jatuh tempo. Pilihannya bisa right issue atau divestasi melalui IPO.  Ini hal yang wajar dan sudah dibicarakan di internal dan juga dengan kreditur. Dan dilakukan sesuai aturan dan mengedepankan semangat dalam membangun industri baja nasional. Bagaimana industri baja nasional bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, soalnya industri baja itu disebut sebagai mother of industry.

Soal IPO  Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) anak usaha KS?  Targetnya berapa persen saham yang akan dilepas?

Manajemen harus mengambil keputusan strategis. Untuk anak perusahaan yang kontribusinya bisa maksimal, saham yang dilepas dibatasi 49 persen. Kaitannya dengan pengurangan utang bisa dilakukan dengan kas internal dan support dari divestasi. Kebutuhannya bisa lebih dari proyeksi itu. Sehingga ada wacana dilepas lebih dari 49 persen atau mayoritas. Kita tender up to 51 persen. Nanti tinggal dilihat mana yang paling bermanfaat saat situasi tidak terelakkan terjadi. Nanti dilihat prosesnya.

Siapa saja yang berminat dalam IPO KSI ini?

Kita mengundang siapa saja yang minat, tidak ada pembedaan antara investor yang satu dengan yang lain. Yang terpeting bagaimana KS bisa menyelesaikan tantangannya.

KS ini pembukuannya baik /menguntungkan, apa masih ada urgensinya menjual saham jumlahnya 51 persen?

Karena ada hal yang sudah disepakati dalam master restructuring agreement (MRA) atau perjanjian restrukturasi utang yang  tidak bisa dihindari oleh manajemen. Di sisi lain ada kebutuhan untuk itu. Manajemen KS harus mencari solusi di antara keterbatasan yang ada.

Di pasar saham, ada upaya pihak eksternal untuk menjatuhkan saham tertentu, saat harga saham itu jatuh dia membeli, atau ada istilah goreng-menggoreng saham, seperti apa Anda melihat hal ini dalam konteks KS yang akan IPO?

Saya punya keterbatasan untuk membaca hal seperti itu. Soal saham ada yang “menggoreng” atau tidak, OJK sudah memberikan aturan. Selama OJK tidak memberikan atensi, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahwasanya harga saham naik turun itu mekanisme pasar. Saat perusahaan go public harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.

Bagaimana melihat industri baja di 2022 dan perlukah proteksi pemerintah pada industri baja dalam negeri?

Kita harus memberikan kesempatan kepada investor baik dalam dan luar negeri berinvestasi di Indonesia dan mendapat keuntungan di Indonesia. Strategi Pak Presiden itu sudah jelas, tidak hanya menarik investor, tapi membuat mereka betah. Kalau mereka kabur akan menjadi promosi yang buruk buat kita. Yang penting impor yang masuk  tidak mengganggu investasi yang ditanamkan di Indonesia. Jadi tak sekadar memproteksi industri baja dalam negeri, soalnya itu bisa membuat manja dan tak kompetitif.

Optimis dengan persaingan ke depan?

Kami optimis bisa bersaing karena ongkos produksi per-ton sudah rendah. Soal impor tidak bisa dilarang asal tidak dumping dan barang yang masuk bukan selundupan karena dua hal itu adalah kejahatan ekonomi. Selama dua hal ini bisa dijaga, saya kira aman.

Silmy Karim, Antara Sepak Bola, Sepeda dan Lukisan 

Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Memang tak ada korelasi secara langsung antara dunia sepak bola, sepeda dan lukisan. Namun bagi Silmy Karim, Direktur Utama PT Krakatau Steel, ketiganya adalah hal yang punya keasyikan tersendiri. Benang merahnya; semuanya membuat dirinya merasa senang. Di tengah kesibukan sebagai seorang profesional, dia punya hal lain yang bisa membuat refreshing baik fisik maupun psikisnya. Semuanya  menjadi pelengkap dalam kehidupannya.

Ternyata sudah sejak kecil Silmy menyukai sepak bola.  Masa kanak-kanak dan remajanya yang dihabiskan di kawasan Utan Kayu dan Rawamangun, Jakarta Timur dilalui dengan permainan ini. Ia merasakan langsung bagaimana keceriaan bermain si kulit bundar bersama teman-teman sebayanya. “Sejak kecil saya sudah menyukai sepak bola, dari main di gang. Sepak bola itu adalah olahraga yang paling murah,” kata Silmy.

Ia menyebut kampung halamannya dengan inisial UK. “Bukan United Kingdom ya, tapi Utan Kayu, hehehe,” tambahnya dengan tawa yang berderai mengenang masa kecilnya yang penuh keceriaan dengan sepak bola.

Karena belum mampu membeli bola bagus, Silmy dan teman-temannya patungan membeli bola plastik. Ia dan teman-temannya merogoh kocek untuk membeli bola. “Harganya saat itu cuma berapa ratus perak (rupiah), kita patungan untuk membeli bola plastik. Lalu main bersama di jalanan kampung. Saat bola masuk comberan itu hal yang biasa, tinggal diambil terus main lagi,” kenang pria kelahiran, Tegal, Jawa Tengah, 19 November 1974 ini.

Meski suka sekali dengan sepak bola, namun jalur pendidikan tetap dilakoni Silmy Karim. Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (1997) dan kemudian menempuh Magister Ekonomi di Universitas Indonesia (2007). Pun setelah ia menekuni dunia profesional dengan memimpin berbagai perusahaan,  kegemaran pada sepak bola tak pernah hilang. Sebelum menjabat sebagai Dirut KS, dia ditugaskan sebagai Dirut PT Barata Indonesia, Dirut PT Pindad dan Komisaris PT PAL.

Malah lewat sepak bola ia bisa bertemu dan main bersama pesepakbola nasional yang dulu dikaguminya, seperti; Rully Nere, Azhari Rangkuti, Patar Tambunan, Bambang Nurdiansyah, Rahmat Darmawan, Aji Ridwan Mas, Widodo Cahyono Putro dan lain-lain. Mereka adalah teman mainnya kini. “Sekarang mereka semua adalah teman main saya. Saya senang sekali abang-abang dan senior-senior saya itu mau bermain bersama saya yang amatir ini. Ini kesempatan yang jarang bisa ditemukan. Dulu kita hanya bisa menonton mereka bermain sebagai anggota tim Garuda di televisi,” kata Silmy yang bermain dengan mantan pesepakbola nasional itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

Menurut Silmy setelah dia kerap bergaul dan bermain sepak bola dengan mantan pemain nasional, dari sisi skill pemain  Indonesia tak kalah dengan pemain dari negara-negara lain. “Kenapa saya bilang begitu, karena saya bergaul dengan pemain-pemain senior yang dulu pernah menjadi pemain nasional. Menurut mereka skill pemain kita bagus. Catatannya di mental dan fisik,” tandasnya. Hal ini,  yang harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan di bidang sepak bola. Bagaimana mengatasi kedua problem ini.

Namun, masih kata  Silmy, selain kedua hal tersebut, pekerjaan rumah (PR) mendasar dunia sepak bola Indonesia adalah soal kompetisi yang belum berjalan baik. “PR mendasar sepak bola Indonesia adalah kompetisi. Di luar negeri kompetisi itu berjalan bagus dan rapih. Anak saya sempat sekolah bola sampai ke Inggris. Di sana pertandingan  kelompok umurnya itu sangat rapih. Lebih rapih dari liga di Indonesia. Padahal itu untuk kelompok umur 16 tahun atau 18 tahun,” kata Silmy yang berposisi sebagai penyerang saat bermain bola. “Bagian saya striker, tinggal menunggu bola dari bawah, hehehe,” lanjutnya.

Saat ditanya kok masih berani main sepakbola, padahal usia sudah tak muda lagi. “Bagaimana yah, saya main bola itu dari kecil. Tapi sebelum main kita selalu tes tensi badan, saturasi oksigen, suhu badan, dan semuanya. Ini dilakukan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Soalnya anggota kita usianya sudah 40 tahun ke atas semua. Kalau bos-bos lain mainnya biasanya golf, saya sepak bola,” katanya.

Klub Duren

Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Selain sepak bola, Silmy juga menekuni sepeda untuk urusan olahraga. Ia punya alasan sendiri mengapa suka dengan olahraga sepeda. “Saya suka sepeda karena  kalori yang terbakar banyak dan  waktunya cepat. Setiap hari kecuali Senin dan Kamis, saya bersepeda sejauh 40 km. Itu cuma memakan waktu sekitar satu jam setiap kali bersepeda,” katanya.

Dia dan teman-teman yang juga suka berolahraga sepeda sudah mulai dari jam 05.15 WIB atau paling telat 05.30 WIB. Dan selama sekitar satu jam itu, 40 km bisa diraih. “Jadi kegiatan olahraga ini tidak mengganggu aktivitas saya di kantor,” katanya.

Khusus untuk hari Sabtu, Silmy Karim punya grup sepeda dengan bersama dengan Menseskab Pramono Anung. “Kalau hari Sabtu saya akan bergabung dengan Duren Cycling Club yang dibentuk oleh Pak Menseskab Pramono Anung,” katanya. Kenapa dinamai duren karena usai bersepeda pada anggota klub ini akan disuguhi buah durian oleh pemrakarsa klub sepeda ini. “Jadi setiap Sabtu kita bukannnya kehilangan kalori, tapi surplus kalori. Jadi enggak heran meski rajin olahraga anggotanya masih subur-subur, hehehe,” ungkap Silmy dengan tawa yang khas.

Tak hanya durian, adalagi makanan penyerta lainnya yang disediakan. “Pokoknya setiap Sabtu kita dimanjakan dengan duren dan hidangan lainnya yang enak-enak. Baik saya dan Pak Pramono badannya subur-subur,” kata Silmy yang sudah turun 10 kilogram. “Saya memang menghindari obat untuk menurunkan berat badan. Cukup dengan olahraga, dan dengan makan yang tidak kurang,” lanjutnya.

Lukisan

Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Silmy Karim. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Selain suka berolahraga, Silmy juga seorang pengagum karya seni lukis. Ia mengoleksi karya pelukis-pelukis kenamaan tanah air seperti Jeihan Sukmantoro, Teguh Ostenrik, Sunaryo, Dipo Andi, Srihadi, dll. Dia juga sempat mengoleksi karya Basuki Abdullah meski sudah dijual. Soalnya dia memang akan menjual sebuah lukisan dengan pertimbangan tertentu. Istilah dia Kolekdol, koleksi dan ngedol (menjual).

“Saya pengagum seni, karena saya melihat bahwa seni di Indonesia itu tidak kalah dengan seni di luar negeri. Namun apresiasi masyarakat kita pada karya seni masih belum baik. Di zaman Bung Karno itu cukup baik, karena beliau juga senang seni. Dia juga pengoleksi lukisan,” katanya.

Yang melandasinya mengoleksi lukisan karena senang. Urusan investasi bagi dia nomor sekian. “Tapi ketika sudah dibeli sebuah lukisan, akan timbul rasa sayang untuk melepasnya,” katanya.

Lewat lukisan, kata Silmy dia bisa membantu banyak pelukis di tanah air. Karena dia tidak hanya mengoleksi karya pelukis kenamaan, tapi ada juga karya-karya pelukis pemula. “Kalau nggak kita siapa lagi yang melestarikan seni di Indonesia. Ini saya rasa panggilan untuk orang-orang yang sudah memiliki keuntungan yang lebih dari pada umumnya. Kita juga perlu perhatikan pekerja seni, supaya mereka bisa bertahan. Itu yang penting,” begitu alasannya.

Ternyata dengan memandang lukisan itu bisa menambah kebahagiaan juga. “Itu bisa menenangkan dan bagus untuk orang yang under pressure 24 jam seperti saya,” akunya.  

Saat ditanya apa masih mau membeli lukisan lagi? “Sekarang sudah kehabisan tembok, hehehe,” lanjut Silmy Karim yang memajang sebagian lukisannya di kantornya.

“Saat restrukturisasi dijalankan ada perjanjian jatuh tempo yang harus kita bayar US$200 juta. Awalnya untuk membayar kewajiban ini  diupayakan dari penjualan aset, tetapi saya bersyukur bahwa bisa membayar untuk tahun 2021 itu tanpa menjual aset nilainya Rp2,7 triliun. Pasca restrukturisasi kita sudah membayar utang itu Rp3,3 triliun di luar bunga sekitar Rp1,4 triliun atau Rp1,5 triliun Jadi selama 2 tahun ini, cukup banyak yang bisa kita selesaikan dalam konteks utang. Ini bukti kalau restrukturisasi dan transformasi di KS itu berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Dan ini kita masih dalam kondisi pandemi COVID-19,”

Silmy Karim